Mandilah, Segarlah!

DI keluarga, seribu ilmu diajarkan oleh bapak-ibu. Anak-anak menerima ilmu untuk diamalkan. Ilmu-ilmu itu sederhana. Ada juga ilmu rumit. Ilmu sederhana adalah mandi. Sekian tahun, anak itu dimandikan ibu. Tata cara mandi tak terlalu sulit asal ada ember, air, dan sabun. Dulu, ibu memandikan dengan kasih. Pada saat anak bertumbuh besar diusahakan bisa mandi sendiri. Cara menggosok badan dengan sabun diajarkan. Bocah meremehkan ilmu mandi bakal kesulitan dalam memegang sabun mandi. Licin. Ia kebingungan urutan menggosokan sabun mandi. Sejak puluhan tahun lalu, kebiasaan mandi anak-anak mulai digirangkan dengan rupa dan aroma sabun mandi. Mereka ingin segar dan wangi bila menggunakan sabun mandi.

Di rumah, ibu kadang penentu merek sabun mandi dengan pertimbangan harga, keawetan, wangi, dan khasiat. Di majalah Minggu Pagi edisi 20 Januari 1957, ibu-ibu diajari khasiat sabun mandi bermerek Lifebuoy. Di iklan, kita membaca kata-kata dicantumkan di pembungkus sabun mandi: “Baru dengan parfum.” Mandi berakibat wangi. Di kamar mandi, ada serah-terima sabun mandi antara ibu dan anak. Kamar mandi itu tampak apik. Ibu dan anak berselera modern. Pemberitahuan terbaca: “Lifebuoy menghilangkan ketjapaian.” Bocah-bocah suka bermain. Berkeringat dan kotor. Mandi membuat mereka gembira dengan sabun mandi digemari. Pada masa 1950-an, bocah menggunakan sabun mandi terduga hidup di keluarga mapan. Di desa atau kampung, ribuan mandi di sungai, sendang, atau sumur belum tentu menggunakan sabun mandi. Mereka jarang wangi. Pengertian mandi masih terlalu sederhana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s