Tekun Merawat

Muhammad Safroni

KOTA menjanjikan keramaian. Gedung pencakar langit menjulang tinggi menunjukkan kegagahan dan keangkuhan. Permukiman padat menjadi bagian tak terpisahkan. Lingkungan kumuh pun menjadi pemandangan di mana-mana. Gunungan sampah. Sungai menghitam penuh dengan limbah dan pencemaran. 

Di kota, waktu serasa berjalan lebih cepat. Hari berganti hari, pagi siang malam seolah tak ada bedanya. Hilir mudik aktivitas tidak dibatasi dengan waktu. Pukul berapa saja kita keluar, di situ kita menemukan berbagai macam aktivitas.

Hidup di kota besar seperti di Jakarta menjadi tantangan. Kota terasa sesak. Bagi sebagian orang, kota memberikan banyak impian dan harapan. Seolah-olah jika ingin sukses harus mengadu nasib di kota. 

Mata kita sering dikelabui dengan tayangan gambar bergerak yang kerap menyuguhkan kehidupan kota serba mewah. Semua serba ada, serba tercukupi. Di dalam film dan sinetron, hidup di kota acapkali digambarkan dengan kesenangan dan kemewahan, yang tidak banyak mengungkapkan kehidupan kota yang sebenarnya: kota dengan masyarakat kumuhnya. Masyarakat yang hidup di bantaran sungai dan realitas kota lainnya.

Anak-anak belum banyak memahami hidup di kota yang sebenarnya. Dalam benak mereka, tinggal di kota menyenangkan. Misal, memiliki teman yang banyak. Ramai. Kapan saja bisa bermain. Mereka tidak tahu bagaimana orangtuanya membanting tulang dan memeras keringat dalam mencari nafkah. Kota berasa kejam, tidak memihak orang-orang kecil. 

Hal itu seperti suasana kesepian yang di alami Aji, ketika dia dan keluarga pindah dari tengah kota dan hidup di pinggiran kota. Saya menduga kota yang dimaksud tempat tinggal keluarga Aji adalah Jakarta.

Ia merasa kesepian. Di sini ia tidak mempunyai teman sama sekali. Padahal dulu ketika rumahnya berada di tengah kota temannya banyak. Ia merasa senang. Tetapi sekarang. . . Aji menghela napas dalam-dalam. Ia kecewa. Betul betul kecewa. 

Aji adalah tokoh utama novel berjudul Saudagar Merpati. Novel tipis 61 halaman dengan ukuran kertas 18.2 x 10.2 mm. Kita boleh langsung jatuh hati ketika pertama kali melihat tampilan novel ini. Novel besutan A. Soeroto tampal apik dengan kulit muka garapan Ipe Ma’aruf. Pada cover terlihat dua orang anak sedang bertransaksi jual-beli burung merpati. Burung itu berjumlah dua ekor, berada dalam sangkar. Seorang anak memegang sangkar burung dan satunya memegang beberapa lembar uang kertas. Ilustrasi dua bocah dengan sangkar burung menggunakan teknik realis. Ilustrasi tampak hidup. Kedua anak menggunakan kemeja pendek, berwarna biru dan kuning.

Kita mengenal Ipe Ma’aruf sebagai seorang seorang ilustrator dan pelukis berpengalaman. Pria kelahiran Banda Olo, Padang, Sumatera Barat, 11 November 1938. Salah seorang pelukis Indonesia angkatan 60-an. Ia sering membuat karya sketsa dengan alat gambar sederhana seperti pena dan tinta.

Pada novel Saudagar Merpati, Ipe Ma’aruf membuat Ilustrasi dalam novel dengan teknik sketsa. Sketsa, menurut Kusnadi, kritikus seni rupa, dibagi menjadi dua pengertian: (1) sketsa sebagai seni murni atau sketsa yang berdiri sendiri, dan sekaligus sketsa sebagai suatu media ekspresi; (2) sketsa voor studie, sebagai media untuk studi bentuk, proporsi, anatomi, komposisi, dan sebagainya yang akan dibuat berdasarkan sketsa.

Dari kedua pengertian menurut Kusnadi, karya sketsa Ipe Ma’aruf dalam novel Saudagar Merpati menduduki posisi pada pengertian pertama. Sketsa sebagai seni murni yang berdiri sendiri. Kita bisa melihat karya-karya Ipe Ma’aruf yang sangat kuat. Goresan tegasnya memperlihatkan kecakapan dan penguasaan teknik yang mumpuni. Novel ini diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia. Saya membaca cetakan kedua, tertulis terbit tahun 1983.

Diperuntukkan anak-anak berumur 10-14 tahun, novel ini menceritakan cara mencari belut, memancing ikan untuk makanan merpati, pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan oleh peternak merpati, dan lain sebagainya. 

A. Soeroto sudah banyak menulis buku tentang peternakan: bagaimana beternak kelinci, cara memelihara ayam ras, dan lain sebagainya. Kecakapannya dalam hal peternakan tampak dalam novel Saudagar Merpati ini. Kita bisa menemukan detail-detail cara beternak. Tentunya untuk menjadi sukses tidak bisa didapat secara instan. Semuanya butuh proses. Proses demi proses dia paparkan dengan menarik pada tiap bab. Novel ini terdiri dari 12 bab pendek, masing-masing terdiri 3-6 halaman. Jumlah ilustrasi dalam novel sebanyak 8 sketsa.

Cerita novel bermula dari berpindahnya sebuah keluarga, terdiri dari ayah, ibu, dan ketiga anaknya. Sebelumnya mereka tinggal di tengah kota dan kemudian memutuskan pindah ke pinggir kota. Tinggal di tempat berbeda tentunya membutuhkan penyesuaian. Proses penyesuaian membutuhkan waktu, terlebih untuk anak-anak. Tidak semua anak mudah melakukan adaptasi. Kebiasaan menjadi bagian yang tak terpisahkan, seperti suasana yang dialami Aji pada kutipan di atas. Aji merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Keluarga ini pindah ke pinggir kota dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Inilah yang disampaikan Pak Agus, ayah Aji.

“Pertama memang karena kontrak rumah sudah habis. Tetapi yang penting Ayah mencari tempat sehat. Di tengah kota dengan penduduk yang sangat padat itu keadaanya terlalu pengap. Dari sebab itu Ayah memilih daerah ini. Memang agak jauh dari kanan-kiri akan tetapi sehat, ” ia mengambil rokok terus dinyalakan. 

Alasan utama ayah Aji memutuskan pindah ke pinggir kota untuk mencari lingkungan yang lebih sehat. Sebab, baik untuk semua keluarga. Di desa tidak terlalu banyak polusi seperti di kota. Suasana lebih tenang. Masih bisa mendengar suara katak saling bersahutan di kejauhan pada malam hari.

Tak butuh waktu lama, Aji merasa kesepian. Setiap hari banyak tetangga berdatangan untuk saling mengenal. Para tetangga datang dengan membawa anak mereka. Aji sekarang mempunyai banyak teman. Rukun, guyub, dan saling peduli menjadi ciri hidup di desa. Di desa, tetangga seperti keluarga. Satu dengan yang lain terjalin komunikasi yang baik. Saling membantu dan peduli.

Ayah Aji suka dengan burung perkutut. Di rumahnnya terdapat banyak burung perkutut yang dipelihara. Tak jarang burung-burung itu dijual jika ada orang berminat dan terjadi kesepakatan harga yang pas. Suatu ketika ada seorang anak laki-laki bernama Kasan datang ke rumah Aji. Kebetulan Aji sedang di rumah sendiri. Kasan menjinjing kurungan berisi dua ekor burung merpati berwarna cokelat belang putih. 

Kasan hendak menjual kedua burung merpati kesayangannya. Dikarenakan ibunya sedang sakit dan mereka tidak memiliki beras untuk makan. Akhirnya, Aji membeli kedua burung itu dengan cara memecah celengan terbuat dari tanah berbentuk ayam babon. Maksud Aji membeli burung itu tak lain hanya ingin membantu Kasan dan keluarganya. Karena Aji tidak memiliki uang, satu-satunya jalan yaitu dengan mengambil tabungan dari celengan.

Kedua burung merpati itu kemudian Aji rawat. Aji membuat kandang sederhana. Kandang burung merpati disebut pagupon. Merawat burung merpati memang tidak susah. Hanya diberi makan jagung tiap hari saja sudah cukup. Namun harus tetap diperhatikan. Kandang jangan terlalu dekat dengan rumah dan makanan yang diberikan haruslah cukup. Kalau tidak, mereka akan mencari makan dan akan memporak porandakan dapur seperti yang di alami dapur ibu Aji. 

“Huh,” ujar Ibu sambil menutup tempat beras itu. “Apa gunanya memelihara burung seperti itu? Aku jadi kesal karenanya. Ada burung semuanya jadi brengsek. Dahulu lain.” Ibunya marah. Betul-betul marah. 

Kemarahan ibunya membuat Aji semakin serius dalam merawat burung merpati piaraannya. Kebisaan Aji dalam merawat burung merpati diperoleh dari berbagai sumber. Mulanya saat pelajaran sekolah bahwa hewan piaraan juga membutuhkan protein hewani. Agar pertumbuhannya menjadi baik. Aji mencari ikan untuk ditambahkan pada makanan burung  merpati. Ikan yang diperoleh dari memancing dengan teknik njeger dia jemur hingga kering kemudian di tumbuk hingga halus. Barulah diberikan pada burung-burungnya. Aji punya keyakinan burung-burung merpatinya akan menghasilkan telur lebih banyak.

Memancing dengan teknik njeger merupakan teknik memancing dengan memasang pancing di pinggir kali dengan jarak kisaran satu meter. Pancing yang ditancapkan sangat banyak. Dalam novel ini, pancing yang disiapkan sejumlah 50 pancing. Dengan cara ini lebih cepat mendapatkan ikan banyak dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Kemahiran Aji dalam merawat burung merpati diperoleh dari teman pamannya. Memerlukan waktu cukup lama dalam mempelajari seluk beluk merawat merpati. Dari cara memilih makanan, membuat kandang, memilih indukan dan lain-lain. Proses ini Aji tekuni hingga kemudian Aji berhasil menjadi peternak merpati yang handal.


Muhammad Safroni, peminat bacaan anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s