Kapal Laut, Kapal Udara

Safar Nurhan

DUA belas Oktober 2016, kali pertama saya menaiki kapal udara atau pesawat terbang. Ketika itu, saya naik maskapai Sriwijaya dari Pelabuhan Udara Adisutjipto, Yogyakarta, menuju Syukuran Aminuddin Amir, Luwuk, transit di Sultan Hasanuddin, Makassar. 

Sedari kecil hingga usia awal dua puluhan tahun, saya tidak pernah melihat pesawat dari dekat. Pun pesawat tak pernah muncul di langit pulau kami. Pesawat muncul di televisi dan kalender rumah yang dijual seharga ribuan rupiah.

***

Ketika sekolah menengah pertama, saya tinggal di ibukota Kabupaten Banggai Laut, yaitu di Banggai. Ayah buatkan kami rumah panggung kecil di atas laut, lima meter dari bibir pantai. 

Belakang rumah langsung mengarah ke laut, kami bisa melihat dengan jelas kapal-kapal yang keluar dan masuk di Pelabuhan Banggai, pun kapal yang membuang sauh jauh dari pesisir pantai. Biasanya kapal-kapal tersebut adalah kapal Pajeko, kapal yang mencari ikan cakalang, tongkol, tangiri, bobara, dan ikan-ikan di permukaan laut lainnya, dan kebanyakan mereka bersuku Bugis dan Makassar, kadang ada pula suku Bajo dan Banggai yang ikut menjadi ABK. 

Saya dan kakak Farid—yang duduk di bangku sekolah menengah atas—tinggal di rumah panggung itu. Ayah dan ibu dan adik Intan masih tinggal di pulau. Jika libur sekolah tiba, kami pulang kampung ke pulau naik kapal penumpang yang didorong mesin diesel, menempuh perjalanan sekitar 5-7 jam di atas laut. Pulang kampung adalah momen yang paling kami tunggu selama satu semester atau kadang dua semester. 

Bisa saja kami pulang seminggu sekali di akhir pekan, tetapi akan berisiko daftar alpa kami akan banyak bolongnya. Sebab, saat itu, hanya ada tiga kapal penumpang yang beroperasi dalam seminggu (Senin, Rabu, dan Sabtu) yang datang ke Pelabuhan Banggai. Maka, sekitar satu atau dua hari kami alpa sekolah.

Selain itu, pulang kampung akan berisiko dimarahi oleh orang tua dan akan menjadi bahan cibiran oleh keluarga dekat dan tetangga, “Ah, Safar pulang kampung lagi, kayak kampung ini akan hilang saja!”

Kapal kayu penumpang yang didorong mesin diesel adalah transportasi utama antara Pulau Banggai dan gugusan pulau yang mengelilinginya. Namun, itu dulu. Lima tahun belakangan, kapal penumpang tak lagi berbahan kayu dan tak lagi didorong mesin diesel, tetapi terbuat dari fiber dan didorong mesin tempel jonson. Waktu yang ditempuh pun tak selambat dulu, paling berkisaran 3-5 jam dengan jadwal tiap hari hadir di Pelabuhan Banggai. Kehadiran kapal tiap hari karena kebutuhan masyakarat yang sudah padat, hilir mudik. Barang-barang seperti kopra, cengkeh, ikan, gurita dari pulau ke Banggai juga semakin banyak. Begitu juga sebaliknya, permintaan warga pulau juga semakin tinggi, misal permintaan beras, bahan bakar minyak, sayur-mayur, dan sembilan bahan pokok lainnya. Kapal memuat semuanya, kecuali yang dilarang. 

***

Saat kecil, keinginan saya untuk naik kapal udara mungkin ada, tetapi bagi anak yang tinggal di pulau seperti saya, keinginan tersebut habis termakan angin laut. Mungkin bukan di udara, tetapi di laut tempat kami beringin, sebab laut tidak sekadar imajinasi, tetapi ia kehidupan.

Walaupun sudah terbiasa dengan kapal laut, tidak serta-merta ketakjuban kami melihat kapal laut yang besar tidak ada. Setiap minggu kapal Pelni seperti KM Ciremai, yang punya kapasitas 1973 penumpang, bersandar di Pelabuhan Banggai, dan itu menjadi momen heroik untuk ditonton di belakang rumah panggung kami. Tercatat, sudah empat kapal Pelni yang pernah berlabuh di Pelabuhan Banggai: pertama, KM Ciremai, kedua KM Tilongkabila, KM Lambelu, dan terakhir dan masih beroperasi hingga sekarang adalah KM Sinabung. 

Rute kapal Pelni pada minggu pertama, yaitu dari barat ke timur: Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta), Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya), Pelabuhan Soekarno-Hatta (Makassar), Pelabuhan Murhum (Baubau), Pelabuhan Banggai (Banggai Laut), kemudian menuju Pelabuhan Bitung (Bitung), Pelabuhan Ahmad Yani (Ternate), lalu naik ke Papua dan sekitarnya. Pada minggu kedua, kapal Pelni kembali dari Papua menuju Jakarta.

Jika stom kapal berbunyi sekali, pertanda kapal sudah di depan pelabuhan. Jika stom kapal berbunyi dua kali, berarti kapal sudah separoh waktu bersandar di pelabuhan. Dan jika stom kapal berbunyi tiga kali, kapal segera berangkat. Stom yang pertama membuat kami bergerak segera menuju belakang rumah dan melihat kapal secara perlahan bersandar di dermaga. Setiap minggu, kami melihat kapal tersebut dan selalu takjub atas ke-besar-an-nya.  

Pada pertengahan 2011, akhirnya saya bisa merasakan lantai dek kapal Pelni yang selama ini membuat kami tertakjub-takjub dari dapur rumah panggung. Saat itu, saya menaiki kapal Pelni KM Sinabung, berkapasitas 1906 penumpang dan memiliki tujuh dek kapal, satu dek tambahan untuk kafetaria. Semua dek itu saya jejali untuk memuaskan hasrat ketakjuban saya selama bertahun-tahun. Saya akan berangkat ke Makassar untuk menempuh pendidikan tinggi, sekitar satu hari satu malam yang harus ditempuh oleh KM Sinabung. Dari Pelabuhan Banggai menuju Pelabuhan Murhum, Baubau, selanjutnya tiba di Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar. Dari tahun 2011—2014, saya dan 99% mahasiswa Banggai Laut lainnya mengandalkan kapal laut sebagai transportasi utama untuk pulang ke Banggai dan pergi ke Makassar. 

Pada pertengahan 2011, akhirnya saya bisa merasakan lantai dek kapal Pelni yang selama ini membuat kami tertakjub-takjub dari dapur rumah panggung.

Saya pernah pulang lewat daratan dan menempuh sekitar dua hari dua malam dari Makassar ke Luwuk, kemudian menyeberang naik kapal ke Banggai. Dua hari dua malam duduk di dalam bus itu sungguh melelahkan punggung dan pantat. Dan saya tidak berani menggunakan pesawat terbang sebab tiketnya mahal. Jauh lebih murah harga tiket kapal laut dan bus, daripada kapal udara. 

Saya tidak menyelesaikan kuliah di Makassar, sehingga pada pertengahan 2014 saya meninggalkan kota itu dengan rasa pikiran yang tak tuntas. Mungkin bisa disesali mengapa saya tak menuntaskan pendidikan di Makassar, tapi saya selalu punya jawaban untuk penyesalan itu.

***

Pada Desember 2014, saya turun dari kapal KM Sinabung, menginjakkan kaki di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Dari timur Sulawesi, menyisir tenggara, lalu ke selatan, kemudian melewati laut Jawa, saya sangat bahagia dan bangga, “Mak, saya sudah tiba di Pulau Jawa.”

Itu terlalu heroik mungkin, tetapi bagi orang-orang di pulau kami, Pulau Jawa semacam negara lain yang sulit dijangkau. Atau juga, Pulau Jawa sudah terlalu banyak ditampilkan di televisi sehingga di pikiran saya ketika masa remaja, bisa menginjakkan kaki di tanah Jawa adalah sebuah pencapaian tinggi.

Di Surabaya, saya transit di Terminal Bungurasih, lalu naik bus menuju Pare, Kediri. Hanya enam bulan di Kampung Inggris, belajar bahasa Inggris di sana, kemudian berangkat ke Yogyakarta, di mana buku melimpah. Di Yogyakarta, saya memunggungi laut, tidak melihat kapal-kapal yang berkeliaran di belakang rumah, dan tidak ada kapal Pelni yang tampak di Pantai Parangtritis. 

Setahun lebih saya di Yogyakarta. Pada malam 10 Oktober 2016, kakak Farid meninggal dunia di RSUD Banggai Laut. Mula-mula yang saya kabari atas meninggal kakak saya adalah Muhidin M. Dahlan, karena sudah sepuluh bulan saya membantunya mengarsip di Warung Arsip, sehingga menurut saya, dia perlu tahu bahwa saya sedang berduka pada malam itu.

Tidak ada niat saya untuk pulang kampung setelah mendapatkan kabar kematian kakak saya, bukan karena saya membenci kakak saya satu-satunya itu, melainkan saya tidak punya ongkos pulang kampung dan naik kapal Pelni KM Sinabung dari Pelabuhan Tanjung Perak menuju Pelabuhan Banggai juga memakan waktu dua hari dua malam perjalanan. Lebih baik saya mendoakannya dari jauh. Toh, bila saya pulang kampung, tetap saya tidak akan melihat wajah terakhirnya. Namun, Nurul Hidayah (istri Muhidin) menghubungi saya dan membelikan tiket pesawat terbang. Saya terima tiket itu dengan rasa haru. 

Dua hari setelahnya, 12 Oktober 2016, entah sudah di ketinggian berapa kapal udara Sriwijaya terbang, saya mengumpat dalam hati, “Sialan! Nanti kakak saya meninggal, baru saya merasakan naik pesawat.”


Safar Nurhan, penulis

One thought on “Kapal Laut, Kapal Udara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s