Ibu, Anak, Lagu

Bandung Mawardi

PADA akhir abad XX, buku-buku pengasuhan anak marak diterbitkan oleh penerbit-penerbit besar. Ratusan judul buku bisa ditemukan di toko buku atau pasar buku loak. Buku-buku terlaris tentu edisi terjemahan atau saduran dari buku-buku dicap “best seller” di Eropa atau Amerika Serikat. Buku-buku jenis itu makin menguasai pasar perbukuan pada abad XXI. Bapak dan ibu memerlukan buku-buku baru dalam mengasuh dan mendidik anak saat dunia selalu gunjang-ganjing. Para pembaca buku pengasuhan anak kadang memilih buku-buku terjemahan dari bahasa Arab, bermaksud dijadikan acuan dalam membentuk kepribadian anak sesuai agama. Di kalangan Jawa, buku-buku pengasuhan juga beredar tapi sering bereferensi serat-serat lawasan. 

Usaha menulis dan menerbitkan buku-buku pengasuhan anak dari para penulis Indonesia agak marak pada masa 1950-an. Tatanan dunia baru dan situasi revolusi melatari kemauan para penulis mengusulkan konsep, pola, dan cara pengasuhan anak-anak di Indonesia. Mereka tentu terpengaruh pemikiran-pemikiran dari beragam peradaban. Olahan segala sumber diarahkan sesuai dengan hal-hal di Indonesia. Sekian penulis malah mendasarkan kutipan-kutipan dari buku-buku atau pidato Soekarno dalam mengajarkan ilmu pengasuhan “model” Indonesia.

Abu Hanifah turut meramaikan pasar buku pengasuhan dengan buku berjudul Ibu dan Anak: Pendjagaan dan Pemeliharaan. Buku berukuran besar diterbitkan oleh Vorkink-Van Hoeven, Bandung. Buku dipersembahkan “pada Ibu Rakjat Indonesia.” Kita mengerti sasaran persembahan. Pada masa 1950-an, Soekarno berulang menjadikan Indonesia adalah “ibu”. Gagasan dan imajinasi itu dirintis sejak masa 1920-an, diumumkan dalam tulisan-tulisan dan diucapkan saat rapat umum atau pidato. Pemuliaan Indonesia dalam “keibuan” berpengaruh besar di kalangan pendidik, intelektual, seniman, politikus, dan penulis. 

Gagasan dan imajinasi itu dirintis sejak masa 1920-an, diumumkan dalam tulisan-tulisan dan diucapkan saat rapat umum atau pidato. Pemuliaan Indonesia dalam “keibuan” berpengaruh besar di kalangan pendidik, intelektual, seniman, politikus, dan penulis.

“Djika saja sekiranja akan mentjoba-tjoba memaparkan bagaimana mahabesarnja dan mahamulianja nama ibu itu, nistjaja tak sanggup pena saja melukiskan segala apa jang sudah meninggi-ninggikan nama ibu itu, dan pertjobaan saja tadi memang takkan memuaskan pada achirnja,” tulis Abu Hanifah. Ia memulai penjelasan saat perempuan hamil. Babak untuk menjadi ibu. Hal-hal tentang kesehatan diutamakan dulu, berlanjut pengetahuan-pengetahuan tentang mengasuh anak. 

Ibu menjadi sosok penting bagi anak, dari hari ke hari. Pelbagai perubahan atau perkembangan teramati oleh ibu untuk melakukan pengajaran beragam hal, sedikit demi sedikit. Penjelasan oleh Abu Hanifah: “Pada waktu itu, banjaklah dia (anak) memperoleh beberapa pengertian jang tetap oleh sebab pengertian ini berulang-ulang datang padanja, oleh sebab Alam sendirilah jang memberi peladjaran itu kepadanja dengan perantaraan mata, hidung, telinga, dan mulutnja.” Anak-anak mulai mengerti “ini” dan “itu”. Ia membutuhkan bimbingan dari ibu, bimbingan dengan kelembutan atau perhatian, bukan melulu perintah dan larangan mengandung kemarahan. Pada saat mengasuh, ibu-ibu memang rentan bergolak emosi, mengalami pasang-surut mungkin bisa berakibat buruk bagi anak. Ibu terpastikan ingin menjadi sosok pengasih dan pengisah dengan segala kerepotan.

Pada saat mengasuh, ibu-ibu berdendang selain mengajak bercakap. Sekian lagu dibawakan ibu berulang. Lagu-lagu menghibur, menidurkan, atau menenangkan tangisan. Ibu mungkin belum terlalu memikirkan tema lagu, penggunaan kata, atau nada. Di Indonesia, kebiasaan bersenandung dalam bahasa Indonesia atau Jawa terwariskan tanpa ada penjelasan-penjelasan utuh dari para leluhur. Ibu menjadi biduan secara ikhlas meski bersuara tak merdu. Ada keinsafan bahwa menjadi ibu berkonsekuensi bisa bersenandung dalam segala suasana.

Anak-anak perlahan juga bisa bersenandung. Kemampuan itu membuat ibu dan bapak gembira. Mereka bertugas tepuk tangan, mencium, atau memberi ucapan-ucapan pujian. Anak bersenandung ingin gembira, belum ingin dibebani penjelasan-penjelasan rumit mengenai isi lagu. Sekian lagu sederhana gampang saja menjadikan anak mencintai ibu dan bapak. Lagu-lagu bertema ibu atau keluarga sering digubah oleh para seniman meski tak semua bisa teringat oleh kita. 

Kita membuka buku lama berjudul Serba Ragam (1949) susunan AE Wairata. Dulu, ada lagu berjudul “Ibu Bapa”. Kita mungkin belum pernah ada orang membawakan lagu memiliki lirik khas lawasan: jang ditjinta oleh hamba/ atas dunia inilah hanja dia jang meriba/ akan hamba berlelah/ kamu tahu siapa/ itulah ibu bapa/ ia ketjintaanku// akan dia hamba tjinta/ atas dunia berjakin biar ia tua renta/ atau hina dan miskin/ tak penah hamba lupa djasanja ibu bapa/ itu kesukaanku. Pada suatu masa, anak-anak bersenandung ingin berbakti dan menghormati ibu-bapa. Lagu itu terasa sulit dibawakan oleh murid SD. Lagu pernah ada, kita mengingat sebagai ikhtiar anak mencintai ibu-bapa. Pada masa berbeda, kita justru terus kehilangan lagu-lagu lama: terbukti anak-anak menggandrungi lagu-lagu baru, lagu-lagu milik kaum dewasa. Begitu. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s