Jahil!

Faiza Nur Aisya Alya

“KESERUAN apa lagi yang akan aku lakukan di sekolah hari ini?” gumam Sabita. 

“Aha, aku tahu!” 

Sabita menemukan ide. Jam menunjukkan pukul tujuh. Waktunya berangkat sekolah. Sabita menaiki motor Vespa kuning kesayangan ayah. Dia berpegang erat ke pinggang ayahnya. Udara yang berembus membuat Sabita mengantuk. Sabita tertidur di atas motor sambil berpegangan di pinggang ayahnya. Tak terasa, mereka telah sampai di depan gerbang sekolah.

“Sabita, sudah sampai, Sayang,” ucap ayah. 

“Lho, Ayah, baru saja aku tidur,” kata Sabita sambil turun dari motor.

Dengan mata mengantuk, ia memasuki gerbang sekolah. Sabita ingat, dia ingin menjahili temannya. Kebetulan Sabita bertemu dengan temannya. Sabita mengagetkannya. Sebanarnya, Sabita tahu sifat temannya yang kagetan. Namanya Nasa. Kulitnya sawo setengah matang. Sabita langsung lari ke kelas dengan menaiki tangga. Sengaja Sabita menyenggol tas milik Rana yang terbuka.

“Bukannya ngingetin tasnya terbuka, malah sengaja menyenggol tasku. Hih, gimana sih, Sabita memang jahil,” gumam Rana kesal. 

Di kelas, Sabita tertawa terbahak-bahak. Sabita menurunkan kursi dari bangku yang selalu ia duduki. Dia menaruh tasnya dan langsung keluar. Ia ingin menjahili temannya lagi.

“Ha ha ha. Belum puas aku menjahili,” gumamnya. 

Ada satu temannya yang namanya mirip dengan Sabita. Dia juga jahil seperti dirinya. Namanya Sagita. Gita panggilannya. Biasanya, berdua mereka melakukan misi kejahilan. Keduanya mencari siapa saja yang ingin dijahili. Keduanya melihat setiap sudut, depan kelas, entah kelasnya sendiri atau kelas orang lain. 

“Aku tahu siapa yang pantas untuk dijahili,” gumam Gita.

“Siapa, siapa?” tanya Sabita.

Gita membisikkan namanya dan di mana dia berada. 

“Kring, kring,” bel berbunyi. Waktunya masuk kelas. 

Jam pertama adalah pelajaran bahasa Indonesia.

“Hih, pelajaran membosankan,” gumam Sabita. 

Pak Ijal sedang menerangkan. Entah bagaimana, Sabita mempunyai ide untuk berpura-pura sakit. 

“Pak, saya pusing. Saya mau ke UKS, Pak,” ucap Sabita sambil berakting sakit, lesu, lemas. 

Sebenarnya, Sabita hanya bosan dan ingin tidur. Tidak ada yang mengetahui jika Sabita berpura-pura sakit. Beberapa anak tangga dia turuni. Sabita menengok ke UKS. Ternyata tidak ada petugas. Tanpa ragu, Sabita langsung berbaring di kasur. Detik berganti menit, menit berganti jam. Tak terasa, sudah dua jam Sabita tidur. Sabita terbangun karena bermimpi buruk. 

“Untung cuma mimpi,” gumam Sabita sambil mengembuskan napas dan mengelus dada. 

Di UKS tetap saja sepi. Entah ke mana petugas UKS pergi. 

Sabita mendengar bunyi bel waktu istirahat. Dia berdiri dan pergi ke kantin. Sabita tertarik dengan buah pisang. Dia membelinya. Tapi, bukannya antre, Sabita malah mendahului dan mengancam teman-temannya. Sabita makan pisang sambil menaiki tangga. Pisang sudah habis. Dia melempar kulit pisang ke lantai. 

Dari belakang, ada Naca yang tidak melihat kulit pisang tersebut. Naca terpeleset. Semua makanannya tumpah.

“Hih, kesal sekali aku dengan Sabita!” ucap Naca geram. 

Tidak hanya sekali dia membuang sampah sembarangan. Banyak yang sudah terpeleset karena ulahnya. Sabita seringkali tidak menghiraukan larangan atau peraturan-peraturan sekolah.

Di kelas, Sabita bertemu sahabatnya, Gita. Sabita menceritakan kejadian tadi. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Pelajaran terakhir adalah pelajaran SBDP. Sering sekali, pada pelajaran SBDP tidak ada gurunya. Kebetulan hari ini juga tidak ada. Gurunya sering rapat. Maka, anak-anak bebas di dalam kelas. Sabita terkenal sebagai anak yang jahil. Setiap ada kesempatan, dia akan menjahili temannya. Lagi asyiknya jalan sambil pegang uang, Fani dijegal oleh Gita. Uangnya terlempar ke udara dan berhasil diambil Sabita. Tidak kecil nominal uang itu. Lebih dari Rp10.000. Tidak ada yang berani lapor ke wali kelasnya, Pak Sanja. Semua tidak mau lapor karena takut pada Sabita dan Gita. 

Saat bel tanda pulang berbunyi, Sabita dan Gita menuruni tangga dan menunggu di kursi dekat perpustakaan mini. Baru saja Gita duduk, dia sudah dijemput. Gita menaiki motor dan berpegang ke pinggang ibunya. Tak sengaja, Gita keceplosan menceritakan misi kejahilannya. Gita dimarahi oleh ibunya sepanjang jalan. Gita disuruh ibunya untuk insaf dan tidak mengulangi perbuatannya. 

Mama Gita sungguh geram mengetahui anaknya sejahil itu. “Besok ya, Gita, kamu minta maaf sama siapa? Iya, Fani, Naca, sama Rana. Harus, lho. Kalau enggak, nanti nggak usah tidur di kamar tidur. Kamu tidur di gudang aja. Kalau nggak, bersihin kamar mandi,” omel Mama. Gita sangat kesal.

Sampai di rumah, Gita masih memikirkan masalahnya tadi. 

“Ah, tadi ngapain keceplosan, sih. Jadinya HP-ku disita,” kata Gita geram sambil ganti baju di kamar. 

Lalu, Gita keluar kamar dan menuju ruang makan. Gita membuka tudung saji yang ada di atas meja. “Yah, kok nggak ada makanan, sih,” Gita sangat kecewa. Gita ingin keluar rumah, bermain dan jajan. Gita menuju pintu.

“Cklek,” pintunya dikunci oleh ibu.

Gita lari dan tersandung penghapus yang berserakan. Gubrak! Gita jatuh. Lututnya berdarah. Ia langsung mengambil hansaplast dan betadine. Hansaplast menutupi luka Gita. Gita benar-benar insaf dan tidak mau menjahili lagi. 

Gita masuk kamar dengan kaki pincang. “Sss… Aw!” Gita merengek kesakitan. Gita duduk di kasur dan mengambil bantal. Gita menyesal dan menangis karena perbuatannya.

Gimana caranya aku ngomong sama Sabita? Aku juga mau curhat. Tapi pasti di kelas nggak ada yang mau ngomong sama aku selain Sabita.” 

Gita sangat sedih. Gita berbaring di tempat tidur. Tak terasa, dia tertidur sampai malam. Gita membatin, “Ibu benar-benar marah padaku sampai tidak membangunkanku untuk salat magrib di masjid.”

Gita pun keluar kamar dan mengambil air wudu. Air wudu membuyarkan lamunan Gita. Setiap kegiatan yang dilaluinya, Gita teringat masalah itu. Dia masuk kamar dan langsung salat. Gita berdoa agar diberikan solusi untuk masalahnya. Gita menuju meja belajar dan belajar sampai ba’da isya. Lagi-lagi, Gita melamun dan tidak konsentrasi pada belajarnya. Saat azan isya berkumandang, Gita kembali salat dan berdoa. Tanpa ragu, Gita langsung tidur dan mengusap air mata yang hampir jatuh pada selimut kesayangannya.

***

Sinar matahari pagi menembus kaca jendela yang ada di kamar Gita. Gita bangun dan berusaha melupakan masalahnya. 

“Memang sulit. Tapi aku harus bisa,” ucap Gita semangat. 

Dari luar, terdengar suara tukang ojek menjemput Gita. Padahal Gita tidak memesannya. Gita keluar dan bertanya pada bapak tukang ojek. 

“Lho, Pak, saya tidak pesan Go-Jek,” ucap Gita kebingungan.

“Ini dengan nama Susilanti?” bapak tukang ojek bertanya.

“Hmm. Itu nama ibu saya. Ya udah, tunggu sebentar.” Gita lari menuju kamar. 

“Ibu benar-benar marah padaku sampai-sampai tidak mengantarkanku sekolah,” ucap Gita dengan wajah murung. 

Gita menggendong tas favoritnya dan berangkat dengan Go-Jek. Di jalan, Gita hanya bisa melamun. Bahkan, dia terdiam seperti patung. Tak terasa, Gita sudah sampai di gerbang sekolah. Perlahan, Gita turun dari motor dan menaiki tangga menuju kelasnya. Di kelas, Gita ragu mau jujur atau tidak pada Sabita.

Sabita menghampiri Gita, “Keluar, yuk. Kita jalankan misi,” ajak Sabita.

“Enggak, deh,” tolak Gita pelan.

“Ada apa? Kamu kok murung gitu, nggak biasanya. Kamu sakit?” gumam Sabita.

“Enggak, kok. Aku cuma mau ngomong sama kamu,” balas Gita.

“Ngomong apa? Kamu mau ngomong tentang misi kita?” ucap Sabita.

“Enggak. Aku mau ngomong…. kalau aku kemarin keceplosan ngomong ke mamaku tentang misi kita. Yah, aku minta maaf, ya,” ucap Gita sedih. 

“Hih, gimana sih, kok keceplosan. Kan itu misi rahasia. Gimana sih, Gita,” balas Sabita kesal. Dia meninggalkan Gita. Gita berusaha mengejar Sabita, namun terlambat. Sabita terlanjur marah. 

Gita mendekati Fani, Naca, dan Rana. Mereka malah mengira Gita mau menjahili. 

“Ada apa kamu, Gita? Kok tumben nggak ngejahilin?” gumam ketiganya. 

Fani, Naca, dan Rana langsung meninggalkan Gita. Mereka bertiga mengira kalau Gita belum insaf dari kejahilannya. Padahal Gita ingin meminta maaf dan berteman dengan Fani, Naca, dan Rana. Gita pun sendirian dan tidak punya teman.

Gita mencari Sabita di mana saja, tapi tetap tidak ada. 

Bel tanda masuk berbunyi. Sabita terlambat masuk kelas. Ia langsung duduk di dekat Gita. Gita memegang tangan Sabita sebagai tanda maaf. Sabita mengentakkan tangannya. Tangan Gita terlepas dari tangan Sabita. Sabita tetap saja marah. 

“Assalamu’alaikum, anak-anak,” ucap Pak Ijak sambil membuka pintu kelas.

“Wa’alaikumsalam, Pak Ijal,” ucap anak-anak. Sabita hanya terdiam dan kecewa pada Gita di sepanjang pelajaran Bahasa Indonesia. 

“Apa yang dimaksud sumber energi, Sabita?” Pak Ijal bertanya sambil menghampiri dan menepuk pundak Sabita.

“Ada apa, Pak?” Sabita terkejut.

“Apa yang dimaksud sumber energi?” Pak Ijak mengulang pertanyaannya. Sabita bingung dan membolak-balik LKS-nya, mencari jawaban. Karena terlalu lama, Pak Ijal menjawab pertanyaannya sendiri. 

“Jawabannya adalah barang yang menghasilkan energi, misalnya matahari yang menghasilkan energi panas,” jelas Pak Ijal. 

“Sana, cuci muka dulu biar segar, tidak melamun,” lanjut Pak Ijal. 

Sabita keluar kelas dan menuju kamar mandi. Di kamar mandi, Sabita cuci muka dan mengaca. “Apa sebaiknya aku juga insaf, ya? Lagian, sendirian nggak enak,” ucap Sabita.

Sabita masih memikirkan masalahnya. Setelah mempertimbangkan, Sabita lari menuju kelas. Dua jam sudah dilalui dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Selanjutnya adalah istirahat. Banyak siswa yang membicarakan Sabita dan Gita karena mereka sangat berbeda hari ini. 

“Tumben ya, Sabita dan Gita tidak jahil?” ucap murid kelas IV A. 

“Kok Sabita nggak bareng sama Gita, ya?” ucap teman Sabita. Sabita mencari Gita. Gita akhirnya ketemu dengan Sabita di perpustakaan. Sabita memina maaf kepada Gita. 

“Maaf ya, Gita, atas kelakuanku tadi,” ucap Sabita.

“Iya Sabita, aku maafkan, kok,” ucap Gita.

Sejak itu, Sabita dan Gita tidak jahil lagi.


Faiza Nur Aisya Alya, murid di SD Al Islam 2 Jamsaren, Surakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s