Itulah Setrika!

Aryani Wahyu

RINTIK hujan masih saja mengeroyok pagi ini. Pas sekali suasananya untuk berseluncur dengan setrika ke area tumpukan baju yang pating klumbruk (tumpukan tidak rapi). Tentu saja aku bukan Nia Ramadhani: hidup sebagai nyonya Ardi Bakrie kerap membuatnya sedikit lepas tangan untuk urusan membersihkan rumah dan lainnya. Semua urusan rumah tentu diselesaikan oleh para asisten rumah tangga. Bahkan, Nia Ramadhani pun sempat mengaku kalau dirinya jarang masak dan mensetrika baju. Kehidupannya yang mewah setelah menikah dengan konglomerat memang membuat Nia Ramadhani hidup “enteng-enteng saja”. Tak hanya itu, Nia Ramadhani juga terungkap tidak bisa melipat pakaian. Sekali lagi, sayangnya, aku bukan dia dan tak sekaya raya itu.  

Setrika pintar, adalah sahabat idaman ibu rumah tangga. Setrika pintar yang tidak bikin ibu rumah tangga capek. Meski terlihat gampang, pekerjaan ibu rumah tangga sebenarnya jauh dari kata mudah. Setrika baju cuma salah satunya dan sepertinya bakal menyenangkan kalau punya alat setrika pintar. Pekerjaan ibu rumah tangga ini seakan tidak ada habisnya. Bayangkan saja, setiap hari harus bangun sebelum anggota keluarga lain bangun dan tidur saat semuanya sudah terlelap. Belum lagi menyiapkan sarapan, baju untuk anak sekolah, dan baju untuk suami kerja. Masih ada acara memasak, mencuci, dan menyetrika pakaian. Seakan tidak punya waktu istrihat, ibu rumah tangga memang rawan stres. Konon, setrika dianggap sahabat karib perempuan (ibu). Setrika mainan anak-anak pun diarahkan dan dikenalkan untuk wanita yang menggunakannya. 

Sedari kecil, aku lebih suka membantu ibuku mencuci ketimbang menyetrika. Pemandangan setiap hari yang kulihat adalah tekunnya ibuku menyetrika baju kami berlima: bapak, ibu, aku, dan kedua adikku. Pilihan jam tiga sore sudah dipatenkan ibuku. Dianggap waktu yang paling pas dan edum (teduh) untuk setrika. Menggelar tumpukan selimut dan sarung. Mulailah ia menyetrika dengan riang gembira ditingkahi suara radio Retjo Buntung, stasiun radio keluarga terkemuka di Jogja waktu itu. Yang didengarkannya pun macam-macam. Mulai lagu-lagu sendu tembang kenangan, campursari, dan dangdut hingga aku kerap menemani sampai terlelap. Lalu, ketika aku terbangun dan ibuku masih sibuk menyetrika sambil sesekali menyenandungkan lagu-lagu yang diputar, cekikikan atau menggumam sendiri entah apa ketika penyiar memberikan guyonan-guyonan segar. Sesekali nasihat keluar dari bibirnya. 

“Setliko ki nglatih sabar, ben tetep sadar. Ra cukup limang menit opo sepuluh menit. Akeh klambine karo lipetane, bahane yo macem-macem ning kudu tetep alus disetliko. Kudu sadar, nek ora sadar iso kenyonyos tangane!” Menyetrika itu melatih kesabaran, menjaga kesadaran. Sabar, sebab menyetrika tak hanya selesai dalam lima atau sepuluh menit saja tapi perlu lebih lama tergantung seberapa banyak dan seberapa sulit bahan serta potongan yang harus disetrika. Sadar, karena kalau tidak, tangan bisa kesenggol setrika, melepuh, luka bakar!

Tak peduli aku mendengarkan serius atau sambil leyeh-leyeh (tidur santai), tapi mulut ibuku selalu menyelipkan banyak pesan sembari menyetrika. “Dadi wong wedok kui kudu iso ngumbai, setliko, reresik omah, ngopeni anak karo masak. Ben bojone sesuk jenak.” Jadi perempuan itu harus bisa mencuci, menyetrika, bebersih rumah, mengasuh anak, dan tentunya saja memasak. Supaya suaminya betah. Begitulah pesan ibuku, yang sampai sekarang kuingat dan terkadang membuat beban. Ngomong-ngomong soal senjata tempur setrika ibuku konon sudah berusia 15 tahun. Beliau bawa setrika zaman gadis hingga berumah tangga. 

Merek Philips yang sempat kuintip janjinya di majalah  Kartini tahun 1985, koleksi bapakku. Philips berjanji “ringan di tangan, rapi di pakaian”. Setrika memang sudah mulai bocel ujungnya. Gejala awalnya bermula dari yang beberapa kali terjatuh atau terbentur dinding.  Tutup lampu indikator lepas,  pasang,  lepas,  pasang,  lepas lagi tapi sampai dipensiunkan lampu indikator setrikaan kesayangan masih nyala. Gejala berikutnya berupa terkelupasnya lapisan anti lengket yang kadang saling bergesekan dengan kancing atau ritsleting pakaian.  Jadi,  perlahan-lahan, lapisan anti lengketnya ingin lepas dari setrikaan. Philips dipensiunkan, digantikan oleh Maspion. Masih awet juga sampai sekarang. 

Setrika berkembang dari zaman ke zaman, mulai dari setrika arang, setrika listrik, setrika uap, mungkin ke depan akan berkembang model setrika yang lebih maju. Atau mungkin kita tidak perlu setrika. Setrika listrik memiliki kemampuan untuk mengatur panas. Salah satu komponen dalam setrika adalah pengatur panas. Setrika dengan pengatur panas otomatis memakai komponen tambahan konon bernama thermostat yang bermaterikan bahan bimetal, yaitu satu lempengan yang disatukan dari lempeng dua logam yang berlainan koefisien muai panjangnya. Jika lempengan ini dikenai panas, maka salah satu jenis logamnya akan memuai terlebih dahulu, sehingga lempengan gabungan tadi membengkok, yang arah bengkoknya dimanfaatkan untuk menghubungkan kontak. Jadi saat panas berlebihan, kontak akan memutus dan elemen pemanas tidak dialiri arus listrik lagi. Namun, saat panasnya mulai rendah lagi kontak akan terhubung kembali dan arus listrik mengalir lagi melalui elemen pemanas. Sehingga, kondisi panas dapat dipertahankan sesuai dengan suhu yang diinginkan.

Aku juga mengalami di keluarga menggunakan setrika arang yang sempat populer selama puluhan tahun sampai sekitar masa 1980-an. Berwarna gelap, bobotnya berat, dan ada patung ayam di ujungnya. Saat itu dengan niat menghemat daya listrik menggunakan setrika arang ini. Walhasil, malah seragam sekolahku ada noda titik arangnya. Kapok!

Aku benci menyetrika! Tapi, kulakoni juga hampir tiap minggunya. Menyetrika di lantai, kadang di atas sajadah yang kulapisi dengan selimut. Aku tak punya meja khusus setrika. Dahulu sebelum pandemi Covid-19 ini datang memang binatu menjadi sahabatku. Perkilonya cukup murah sekira 2.500-3.000 rupiah/kg. Santai dan semuanya rapi juga wangi. Namun sekarang lebih banyak kulakukan sendiri. Bisa dibilang sekarang dapat dihitung berapa kali aku ke laundry dan itupun lebih banyak untuk urusan boneka dan bedcover, yang tebal dan sulit kulakukan.

Ini bukan lagi tentang uang. Ini tentang kemampuan. Kini tak semua perempuan bersedia melakukan rutinitas seperti mengepel, menyetrika, atau memasak. Aku tetap melakukannya. Sebab, aku konservatif dan aku mampu melakukannya. Pekerjaan rutin semacam ini memang pilihan dan tak harus wanita yang melakukannya. Para pria juga sebaiknya bisa melakukannya. Bahkan suamiku sering menggantikan tugas rumahku sebagai perempuan ketika dia sedang senggang. Aku melakukannya dengan tujuan. 

Ini bukan lagi tentang uang. Ini tentang kemampuan. Kini tak semua perempuan bersedia melakukan rutinitas seperti mengepel, menyetrika, atau memasak. Aku tetap melakukannya. Sebab, aku konservatif dan mampu melakukannya.

Aku tak takut jadi wanita rumahan, juga merasa senang menjadi wanita yang memiliki kehidupan selain urusan rumah. Aku ingin menjadi keduanya, perempuan karir dan wanita yang mampu melakukan urusan rumah tangga. Aku tahu sebagian wanita karier tak suka melakukan kegiatan rumah tangga, aku sendiri juga terkadang malas melakukannya. Meskipun urusan kantor kadang-kadang memeras otak, tapi jauh lebih melelahkan mengurus pekerjaan rumah tangga. Sedangkan terus-terusan berkutat dengan rutinitas rumah tangga itu juga membosankan. Ya, aku mengambil peran keduanya, bekerja dan tetap melakukan pekerjaan rumah tangga. Alhasil aku paham keluh kesah wanita pekerja dan aku juga bisa tahu keluhan-keluhan yang dialami ibu rumah tangga. Aku meneladani orang-orang yang kukenal yang mampu melakukan keduanya, menjadi wanita pekerja sekaligus wanita rumahan. Aku benci menyetrika! Di antara semua pekerjaan rumah tangga, aku paling tak suka menyetrika. Panas, lelah, bikin badan kaku, dan membosankan.

Menyetrika baju juga mendatangkan kenangan masa lalu. Dahulu ketika aku pindah ke Jakarta, tinggal di asrama pekerja, aku juga berkawan akrab dengan kawan asrama di meja setrika untuk sekadar menyetrika baju seragam kerja kami. Dari perjumpaan-perjumpaan itu, aku mendengar keluh-kesah mereka terhadap pemilik asrama alias induk semang. Ada yang mengeluh kurang bersihnya lingkungan asrama, kadang ada cucian yang hilang, menggibah penghuni yang lain, peralatan mandi yang sering berpindah tempat tanpa pamit dan masih banyak hal lainnya. Sering pula sembari menanti antrian menyetrika kami berkelakar. Memutar MP3 keras-keras, bernyanyi, dan menyetrika! Setrika mempertemukan keluarga baru di rantau. 

Namun semua itu sirna ketika aku pindah ke Kota Bengawan ini. Aku mulai berpikir setrika merupakan salah satu barang yang wajib dimiliki.  Maka kupinang setrika merk Miyako di swalayan Luwes. Imajinasiku mengatakan setrika ini mirip sekali kepala lumba-lumba. Licin meluncur di area baju kusut. Menyapu dan mengusapnya menjadi halus. Setrika ini pula yang kubawa sekarang dalam kehidupan rumah tanggaku. Aku berharap akan segera akrab dengannya kala itu.  Namun ternyata pada praktiknya, keseharianku sudah membuatku tak ada waktu untuk mencuci dan menyetrika sendiri. Walhasil, setrika nangkring manis di sela rak almari bajuku. Hingga suatu hari, kurasakan betul manfaat setrika yang kubeli ini. Ini kisah nyata dan sungguh aku alami delapan tahun lalu, tepatnya saat aku masih menyandang status sebagai anak kost. Pengalaman menjadi anak kost amat berharga. Dari sini aku belajar tentang kemandirian, tanggung jawab, dan yang paling penting adalah kreatif terasah dengan sendirinya. Seperti pengalamanku satu ini. Sebagai anak kos, tentu pernah merasakan keterbatasan. Tak hanya sebatas kamar yang sempit, keterbatasan itu juga dalam hal perlengkapan dan kelengkapan dapur. Singkat cerita, saat itu hujan turun dengan begitu deras. Melihat kondisi seperti ini dengan sangat terpaksa kuurungkan niat untuk keluar mencari makan. Aku yang tak bisa tinggal diam mendengarkan cacing diperut mulai berontak, mencari berbagai cara. Aku ingat di almari amunisi masih tersisa satu bungkus roti tawar putih dan satu saset susu kental manis cokelat. Terbesitlah keinginanku untuk membuat roti bakar ala cafe. Dengan peralatan ala kadarnya, anak kos mulai beraksi. Bukan memakai pemanggang roti seperti pada umumnya. Bukan juga memakai wajan teflon anti lengket yang sudah tentu anak kos tidak punya.Terus pakai apa dong? Setrika!

Kala banyak orang ingin memiliki rambut panjang dan lurus. Beragam cara pun dilakukan untuk mendapatkan penampilan idaman. Bagi mereka yang punya rambut ikal atau agak keriting, biasanya mengandalkan alat catok untuk meluruskan rambut. Alat kecantikan ini juga lazim dipakai untuk merapikan atau menata rambut sesuai model yang diinginkan, termasuk membikin efek bergelombang pada rambut lurus. Menggunakan jasa salon bagiku setiap hari sebagai anak kost kala itu tentu sangat merepotkan dan memakan biaya. Oleh karenanya, banyak orang membeli alat catok sendiri agar bisa menggunakannya sewaktu-waktu di rumah. Lalu, bagaimana jika tidak punya alat catok tapi ingin meluruskan rambut dalam sekejap? Setrika! Benda itu kembali menjawab derita anak kost yang ingin tampil trendi ini. Rambut panjang kugelar di atas bantal dengan posisi yang sedikit ribet, kusetrika rambutku dengan media kain sarung.

Pun sama ada pengalaman unik lainnya dari setrika. Bapakku pernah melaminating kertas dokumen kartu Askesnya menggunakan setrika. Caranya adalah dia letakkan selembar kertas Askes (Asuransi Kesehatan) di antara dua lembar plastik tipis, dan di atasnya letakkan selembar kain, lalu setrika area itu. Maka, jadilah! Ia pamerkan kepada anak-anak betapa genius penemuannya. Ternyata terlalu banyak cerita yang kubagi bersama setrika.

Sekarang berseluncur di media belanja online seiring berkembangnya teknologi. Banyak alat-alat kutemui yang diciptakan untuk memudahkan pekerjaan manusia. Salah satunya adalah alat setrika dan langsung melipat baju secara otomatis. Ibu tak lagi stress menyetrika namun beralih stress merogoh kocek.

Ada pelajaran tersembunyi yang bisa kupelajari dari setrika. Manusia memang makhluk yang luar biasa karena memiliki emosi berupa marah, cinta, benci, kasih, haru, dan banyak perasaan lain. Emosi yang paling seram adalah emosi ketika marah, otak dan hati terlalu panas. Pengendalian emosi itu penting. Kita seharusnya punya termostat alami dalam diri kita agar kita bisa meredamkan emosi yang sudah meluap-luap. Kita seharusnya bisa mendinginkan kepala yang panas. Seperti setrika yang warnanya lampu indikatornya mati kalau panasnya sudah melebihi kapasitas. Demikianlah, aku seharusnya, mampu menempatkan diri. Itu kuncinya! Tahu kapasitas, tahu tempat. Itulah setrika!


Aryani Wahyu, ibu dan pengusaha yang suka baca tulis.

FB: Aryani Wahyu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s