Pemenuhan Kebutuhan dan Perlunya Mencipta Alat

Yulia Loekito

Ganti mengurus kebun dan huma, bercocok tanam bersama-sama. Tujuh sesaudara itu memiliki berbidang-bidang ladang, luas, dan bertanah gembur. Letaknya berdampingan dengan petak-petak lebar kebun yang sangat subur. (Suwarna Pragolapati, Ai Ngam Sorngai, Sinar Harapan, 1981)

BUKU cerita rakyat Aru-Kai, kepulauan di daerah terluar dari kepulauan Maluku. Dalam cerita digunakan kata sapaan khas “beta” untuk saya. Cerita tentang putri bungsu teraniaya, bersuamikan katak yang pada akhirnya menjelma manusia. 

Kutipan menceritakan awal kehidupan sang putri bungsu dengan Ai Ngam Sorngai, yang kelak di akhir cerita diketahui adalah seorang putra mahkota dari kerajaan seberang lautan. Jalan cerita klasik. Kita justru tertarik dengan cara Putri Bungsu bernama Wat Warin dan Ai Ngam Sorngai mengusahakan hidup saat Ai Ngam Sorngai belum mengungkap diri sebagai pangeran. 

Mereka mengurus kebun dan huma. Istilah huma tidak banyak terdengar saat ini. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, huma memiliki arti: “ladang padi di tanah kering; tanah yang baru ditebas hutannya.” Cerita rakyat berkisah tentang pembukaan hutan, membuktikan manusia sudah sejak lama berhenti hidup nomaden dan bercocok tanam. Tanaman-tanaman pangan untuk dibudidayakan sudah dikenal luas. Hutan-hutan dibuka dijadikan ladang. Namun terbaca pula dari cerita kalau hasil ladang terutama masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari. Ladang belum dipikir sebagai lahan industri untuk menghasilkan keuntungan. 

Anak-anak membaca cerita rakyat, barangkali tak secara khusus memperhatikan hal ini. Tapi banyak membaca cerita dengan latar belakang masa lalu mungkin bisa membuat anak-anak menyadari sesuatu lalu membandingkannya dengan keadaan masa kini. Lebih gayeng lagi kalau orang tua, guru, kakak, atau pendaamping bisa diajak ngobrol. 

***

Dengan serempak keenam putri itu menjatuhkah pisau-pisau pusaka. Sudah jadi adat istiadat negeri Kai, ke manapun pergi selalu mempersenjatai diri. Sebilah pisau kecil selalu terselip di dada, lambung, atau punggung. (Ragil Suwarna Pragolapati, Ai Ngam Sorngai, Sinar Harapan, 1981)

Cerita makin sarat konflik, keenam ayunda putri Wat Warin yang dengki telah gagal merayu Ai Ngam Sorngai untuk memperistri mereka pula. Tak bicara soal kesesuaian isi cerita untuk anak, kita justru tertarik dengan keenam ayunda putri yang membawa pisau-pisau kecil ke mana-mana. Kutipan menunjukkan gambaran tradisi.

Pada suatu masa, perempuan di wilayah timur Nusantara punya citra bukan kaum lemah yang bergantung pada laki-laki. Adat istiadat adalah pencetusnya. Barangkali faktor bahaya datang dari lingkungan tempat tinggal adalah alasan utama. 

Manusia belajar bertahan hidup di tengah lingkungan alam yang sering tidak aman. Teknologi mutakhir belum lagi tercipta. Namun, manusia sudah mulai mencipta alat-alat: untuk mempertahankan diri, untuk membantu pekerjaan. Dan itu terus berlangsung hingga hari ini sehingga menempatkan manusia di puncak piramida makanan. 

Tapi hari ini, adat istiadat bukan pencetus penciptaan alat. Pun ancaman bahaya dan upaya mempertahankan hidup bukan alasan mengembangkan alat dan teknologi. Nafsu serakah dan ingin menguasai barangkali lebih dominan jadi alasan saat ini. 


Yulia Loekito, penulis cerita anak

Instagram: yulialoekito

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s