Walkman: Pengangguran dan Peterpan

Irfan Sholeh Fauzi

Pada suatu hari di tahun 1989, Presiden Soeharto tertegun. 

“Ah masa?” kata Soeharto. 

Ia lantas memanggil Tien, membagi ketakjuban. “Bu, Bu, ini bagus, harganya hanya lima ribu.” 

Tien juga tak percaya, “Pinten?” ia memastikan. 

Si bakul asal Karanganyar, Jawa Tengah, mengulang kembali jawabannya. Yakin pendengarannya tak silap, segera Tien memberi instruksi: pesan tiga puluh. Kalung-kalung imitasi berlian berbahan pecahan kaca itu segera diangkut, tertukar duit seratus lima puluh ribu rupiah.

Rombongan masih mondar-mandir di antara 8 stand pengrajin. Kalung warna putih dan biru tua sudah terbeli, sekarang mata Tien berkilap lagi. Ia tergoda cincin merah. Kadung kalap, Tien memanggil ajudan, seorang polwan. 

“Maaf, Bu, saya ndak bawa uang,” saya bayangkan itu kalimat yang keluar dari ajudan. Mendengar jawaban ajudan, Menko Kesra Soepardjo Rustam langsung menunjukkan kesigapan bak anak berbakti. 

“Biar saya saja, Bu,” katanya. Sebagai “bapak”, Soeharto mungkin tersenyum bangga, dan Menteri Sekretaris Negara Moerdiono tampil sebagai adik usil. Kepada wartawan ia berteriak, “Ingat, ya, kalau menulis, yang bayar tadi Pak Pardjo.” Kontan kerumunan itu tertawa. Hari itu rombongan negara sedang meresmikan Monumen Yogya Kembali (Tempo, 15 Juli 1989). 

Sekitar dua puluh tahun kemudian, bersama rombongan guru dan kawan-kawan SD, saya melakukan study tour ke sana. Tak seperti Soeharto yang kaget dengan barang-barang murah, kami dicengangkan barang-barang berharga mahal dari penjaja. Selain mainan, topi, dompet dan kacamata, mereka menjual walkman. Pada barang inilah mata kami berkilap-kilap.

Saat tak ada pedagang di sekitar kami, seorang teman yang agaknya berpengalaman memberi nasihat. “Nek regane wolung puluh ewu, aja gelem. Nyang! Payu telung puluh ewu bae mesti wis bati bakule,” kurang lebih kata dia. 

Para pedagang di tempat wisata bisa menaikkan harga lebih dari dua kali lipat, apalagi kalau tahu bocah ingusan macam kami. Syukurlah, orang-orang licik itu tak tahu kalau kami punya seorang ahli. Berbekal wejangannya, kami berhasil membeli walkman, paling tidak, dengan harga jauh lebih murah. Seingat saya, umur walkman itu tak kalah cepat dengan habisnya bakpia di rumah. Murahan! 

Tapi kehilangan walkman tak bikin saya merajuk sebagaimana Ulid ketika radionya “dihilangkan” sang ibu (Mahfud Ikhwan, Ulid Tak Ingin ke Malaysia, 2009). Sebab, fungsi walkman bagi kami—setidaknya saya, deh—bukan buat benar-benar mendengar siaran radio atau musik, melainkan sekadar nggaya. Video klip Kukatakan Dengan Indah dari grup Peterpan mengajari kami, para bocah lelaki, berpenampilan necis tatkala melakukan perjalanan. Di video klip itu kita bisa menonton Indra, pemain bass, menyumpal kupingnya dengan headset dan memakai kacamata hitam. Dua aksesoris ini mudah kita jumpai di rombongan study tour anak-anak sekolah.

Tapi kehilangan walkman tak bikin saya merajuk sebagaimana Ulid ketika radionya “dihilangkan” sang ibu (Mahfud Ikhwan, Ulid Tak Ingin ke Malaysia, 2009). Sebab, fungsi walkman bagi kami bukan buat benar-benar mendengarkan siaran radio atau musik, melainkan sekadar nggaya

Kukatakan Dengan Indah boleh jadi mengamplifikasi ledakan headset di kalangan anak-anak muda. Saking maraknya, Tempo edisi 20-26 Oktober 2008, sampai-sampai menurunkan artikel dengan judul gawat buat tren ini: “Keren Pangkal Tuli”. Masa itu, sekitar 100 juta orang di dunia menggunakan headset. Alat pendengar “egois” ini memberi perasaan keren pada penggunanya. Tanpa headset di kuping, ketika duduk sendirian, misal, mereka bakal dikira melamun. Dan ketika saya kecil, orang-orang sering memberi peringatan: “Jangan melamun, nanti kerasukan setan!” Headset (walkman) jadi cara terkeren buat menangkal setan!

Cuma rupanya walkman tak menggoda bocah-bocah generasi 2000-an belaka. Untuk pembuktian ini, kita perlu menyebut nama Soeharto dan Tien lagi. Pada 23 Mei 1985, M. Magdalena P. mengirim surat ke Presiden (G. Dwipayana dan S Sinapsari Ecip—ed., 1991). Magda berasal dari Medan. Ia sudah dua tahun lulus dari SMA dan saat itu, menurut pengakuannya, sedang menjadi anggota PBB alias Pengangguran Besar-Besaran. Magda sebenarnya sudah lama memendam keinginan berkirim surat pada Soeharto dan Tien, tapi ia minder: “… saya hanya rakyat kecil, anak petani dan masih mempunyai adik-adik yang mau sekolah.” Di surat, tak lupa Magda mengguratkan cita-cita dan kendalanya: “Pengen melanjutkan (kuliah—pen.), tapi keadaan ekonomi tidak mengizinkan.” Kita mudah menduga, Magda akan meminta beasiswa kuliah dari presiden. Tapi ia tak mudah ditebak. Pengangguran kita ini menunjukkan keajaiban. Di akhir surat Magda memohon, “… saya pengen dari Bapak/Ibu sebuah kenang-kenangan yaitu gambar Bapak/Ibu yang sudah dibingkai berukuran sedang dan sebuah walkman.” 

Kali ini kita bisa berusaha menduga lagi. Mungkin walkman adalah siasat Magda agar tak terlihat melamun sepanjang hari. Berimajinasilah saja, pada suatu waktu di tengah kesibukannya menjadi anggota PBB, Magda sempat menyumpal telinga, mendengar musik, sambil menatap bingkai foto Seoharto dan Tien demi terhindar dari kerasukan setan dan segala cacian karena ia pengangguran.


Irfan Sholeh Fauzi, Esais dan suka mengliping

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s