Pelajaran Kerumahtanggaan

Bandung Mawardi

APRIL mengingatkan “putri” dan sekolah putri. Pada masa pergerakan politik kebangsaan, “putri” telah ramai dibicarakan dan mengguncang pikiran-pikiran lawas dalam tata kehidupan di Nusantara. Pada masa berbeda, “putri” disahkan menjadi “ibu kita.” Kita pun mengingat “putri” atau “ibu kita” itu mengadakan sekolah putri. Sekolah memberi pelajaran kerumahtanggaan, terselenggara sejak awal abad XX. Di Jawa, sekolah itu turut memberi perubahan. Di Sumatra, sekolah putri juga diadakan menanggapi “zaman kemadjoean”. 

Pada masa 1940-an dan 1950-an, Indonesia sudah tak diperintah kaum kolonial. Arus-arus perubahan berlangsung tapi mengikutkan hal-hal telah berlaku pada masa kolonial. Sekolah putri masih berlanjut. Pelajaran-pelajaran tentu berbeda, tak wajib sama dengan episode awal abad XX. Jumlah murid-murid perempuan di pelbagai sekolah bertambah. Sekian jenis sekolah. Indonesia masih memiliki sekolah putri, masih saja mengajarkan kerumahtanggaan, selain pelajaran-pelajaran baru.

Kita mengartikan April dengan dua buku lawas. Kita mulai dari buku berjudul Pekerdjaan Rumah Tangga disusun oleh M Geldens, S Moerdono-Asjik, dan S Djaja. Di bawah judul, kita membaca: “Kitab peladjaran untuk dipergunakan di perguruan rumah tangga di Indonesia”. Indonesia sedang ancang-ancang berlari di jalan revolusi. Urusan rumah tangga tetap penting, pantang ditinggalkan atau disingkirkan. Buku terbit pada 1939, terus digunakan sampai akhir masa 1940-an. Para penulis menjelaskan: “Harapan saja, semoga buku ini akan mendapat perhatian djuga diluar pengadjaran kepandaian putri dan dapat pula meninggikan deradjat pekerdjaan rumah tangga dalam keluarga di Indonesia. Hanja djerih pajah, jang benar-benar dapat dipahami dan diketahui artinja, dapat pula membawa kesenangan dan kepuasan.” Buku itu penting dan berdampak pada masa lalu.

Puluhan petunjuk penting dimuat dalam buku. Kita membaca sebagai “resep” memudahkan melakukan puluhan peristiwa dalam rumah. Petunjuk-petunjuk untuk ibu tapi bapak boleh turut belajar dan mengamalkan. Di situ, mereka memahami petunjuk memelihara tempat perhiasan, memelihara logam, mencuci, membersihkan jendela, memelihara lampu, membersihkan kompor, dan lain-lain. Di rumah, pekerjaan-pekerjaan selalu ada. Ibu tak mau malas berakibat rumah kotor, berantakan, dan mengakibatkan penghuni bisa sakit. 

Pelajaran demi pelajaran bisa diobrolkan bagi para perempuan ingin memiliki kehormatan dalam bertanggung jawab di rumah tangga. Sekian pelajaran mungkin asing, terpengaruh dari tata cara hidup di Eropa. Para putri belajar dan membaca buku kadang kebingungan: isi buku berbeda dengan kehidupan keseharian. Buku-buku kerumahtangaan masa lalu masih jarang ditulis oleh orang-orang Indonesia. Edisi terjemahan atau saduran menjadi buku babon atau pedoman.

Kita lanjutkan membuka buku berjudul Perihal Tjutji Mentjuti (1949) disusun oleh I Grondhoud dan AFPM Kamp, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh S Moerdono-Asjik dan F Masrin. Buku berasal dari negeri jauh, dipelajari di Indonesia setelah diterjemahkan dan disesuaikan dengan situasi Indonesia. Penjelasan sederhana dalam buku: “Mentjutji itu membersihkan kain jang kotor.” Pokok-pokok dalam mencuci seperti tercantum dalam buku: “memilih, merendam, meneguhkan warna, menangas, merebus, mentjutji, mengelantang, membilas, membelau, mengandji, memulas, meratakan, mendjemur, melembabkan, meregang.” Mencuci bukan urusan gampang. Sekian peristiwa itu disertai dengan peralatan-peralatan. Pelajaran mencuci wajib dianggap penting dalam sekolah kepandaian putri. 

Dua buku itu membuka ingatan pelajaran-pelajaran di sekolah putri. Penulis belum memiliki seri lengkap buku terbitan JB Wolters. Dulu, buku-buku menjadi tumpuan mempelajari beragam hal, selain pengalaman-pengalaman di keluarga atau pengetahuan terwariskan dari para leluhur secara lisan. Kita mengerti bahwa rumah tangga itu bab penting, sejak masa kolonial sampai Indonesia memulai babak revolusi. Buku-buku terjemahan atau saduran mula-mula digunakan di pelbagai sekolah, disusul orang-orang Indonesia berani menulis buku kerumahtanggaan meski tak terlalu digubris dalam katalog perbukuan Indonesia. Buku-buku bertema kerumahtanggaan jarang diakui berpengaruh dalam sejarah dan perkembangan keluarga-keluarga di Indonesia. Begitu.


     

Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s