Buah, Buah Hati, Buah Pikiran

Titin Mufarrahah

BUAH, apa yang ada di benakmu ketika kata buah disebut? Harganya yang mahal? Warna yang kentara dan beraneka rupa? Rasa yang menonjol? 

Kalau aku, sebagai seorang ibu, ketika mendengar kata buah, maka harapan-harapan besar mengemuka. Buah kuanggap salah satu perantara penting demi kesehatan badan anak-anakku. Maka, persiapan matang untuk menyusun asupan bergizi itu penting sekali kupikirkan.

Anak pertamaku tak terlalu menyukai buah. Ia pemilih. Hanya tiga buah yang ia terima: mangga, naga, dan semangka. Ia penyuka sayur. Anak keduaku lumayan menyukai buah. Ia cenderung memilih buah daripada sayur. Momen makan buah bisa menjadi petaka untuk sulungku. Sebaliknya, menjadi sedikit anugerah bagi tengahku. Agak putus akal saat sulung menolak buah dengan tatapan sebal. Sementara tengah tak terlalu kehilangan bila buah tak terhidang di meja makan. Kesal, aku sudah meluangkan waktu membeli, mengupas. Namun, rasanya syok mendapat persangkalan.

Lama berpikir, mengapa buah ranum yang masing-masing bentuknya unik, rasanya menggoda itu tidak disukai sulung? Mesin pencarian di pikiran berhenti pada ingatan. Saat hamil, aku tidak terlalu mengonsumsi buah. Sibuk dengan kesakitan yang tidak mampu kualihkan. Mual dan sekujur badan tidak enak. Namun, aku lahap memakan sayuran. Hamil si tengah aku mulai membiasakan makan buah. Dan benar saja, si tengah menyukai buah. Meski ia juga seringkali menolak buah-buah tertentu.

Satu-satunya yang tidak pernah mereka tolak adalah buah yang diwujudkan dalam bentuk permen. Berupa-rupa rasa buah artifisial mereka terima dengan gembira. Jus buah juga jarang mereka tolak. Di balik jus yang segar dan manis, ada takaran gula yang terkira. Sebagai ibu, tentu aku paham betul rasa-rasa itu palsu atau bila menggunakan gula asli toh harus dibatasi. Sebab pemanis buatan maupun gula asli yang berlebihan memiliki konsekuensi serius pada kesehatan badan dan mental. Terbayang nyata, betapa aku dicekam rasa takut yang mendalam. Panik memikirkan bagaimana bila penyakit diabetes menyapa mereka.

Bukan tanpa alasan kuat mengapa aku ngotot menyajikan buah di rumah kami. Berawal dari grup di sosial media. Di situ, aku mendapat pencerahan manfaat buah (dalam arti sebenarnya). Bagaimana jus buah, sayur dan pemaduan keduanya bisa menjadi perantara kesembuhan penyakit-penyakit akut. Macam kangker dan gerd (penyakit yang disebabkan oleh asam lambung).

Iluminasi manfaat buah tersebut kugaungkan ke suamiku. Sebelumnya aku membeli buku Mas Erikar (pakar food combining Indonesia). Aku baca kencang-kencang di hadapan suami manfaat buah. Jatuh bangun aku meyakinkannya. Sebab, ia bukan tipe manusia yang mementingkan buah. Ia terbiasa hanya memakan nasi, sayur, lauk (protein nabati dan hewani), dan tak ketinggalan kerupuk. Hingga suatu hari ia terserang tipes. Sejak itu aku memaksanya untuk mengonsumsi buah.

Sampai detik ini, aku masih merenungkan bagaimana mengampanyekan buah pada anak-anakku. Mengajak sulung dan tengah terlibat memilih buah yang mereka suka. Supaya mereka lebih menikmati masing-masing pilihannya. Selama ini aku yang aktif memilihkan buah-buah yang kami konsumsi. Mereka pasif. Menerima saja buah-buah itu. Tapi, benarkah mengajak serta mereka memilih buah akan efektif memunculkan kecintaan mereka pada buah? Haruskah mereka kukenalkan ide apa yang melandasi orangtuanya memilih buah sebagai salah satu sumber energi? Atau supaya terhindar dari kerumitan, mereka kusodorkan buah tanpa memberi kesempatan untuk protes?

Ah, urusan menjejalkan buah saja serumit ini. Kupikir keruwetan itu berakhir saat aku berhasil memasok buah-buahan di rumah kami. Ya, karena kami harus menaksir dana demi hadirnya buah-buahan di kehidupan kami. Mengapa mereka tidak otomatis jatuh hati pada buah? Apa yang asli dan membawa manfaat besar itu memang tidak disukai? Apa kecenderungan menyukai yang enak meski berbahaya dan mengabaikan keaslian dan ketepatan sedemikian menggoda jiwa manusia? Atau ini sekadar persoalan kebiasaan saja?

Ah, urusan menjejalkan buah saja serumit ini. Kupikir keruwetan ini berakhir saat aku berhasil memasok buah-buahan di rumah kami. Ya, karena kami harus menaksir dana demi hadirnya buah-buahan di kehidupan kami.

Aku dan suami sepakat buah menjadi sajian harian kami. Gagasan itu, meski terpaksa, harus diterima. Barangkali untuk menanamkan secara lembut otoritas kami sebagai orangtua akan mengenalkan bermacam ragam buah beserta manfaatnya. Kami optimis berhasil, mengetahui Indonesia dikaruniai aneka rupa buah yang bergantian hadir sesuai musimnya. Belajar sejarah kemunculan masing-masing buah, menarik untuk segera dilakukan. Bentuk buah yang lucu-lucu patut diperhatikan secara teliti. Tekstur yang berbeda, akan menimbulkan sensasi bila kami meluangkan waktu untuk merasakannya.


Titin Mufarrahah, ibu suka mencuci, berkhotbah, dan menulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s