Catatan Pendidikan (Keluarga) Soca

Setyaningsih

Meps bilang, kalau aku jadi menteri pendidikan, aku bisa bikin peraturan supaya sekolah tidak usah sering-sering bikin ulangan. Sedikit-sedikit saja, cukup. 
Ya, aku mau jadi menteri pendidikan saja
. (Soca Shobita)

PENCATATAN diri dalam tulisan dilanjutkan pasangan anak-ibu, Soca Sobhita dan Reda Gaudiamo, melalui buku Kita, Kami, Kamu (Gramedia, 2020). Buku ini melanjutkan Aku, Meps, dan Beps (Post Press, 2016). Di catatan pembuka, Meps alias Reda mengabarkan bahwa “buku ini adalah campuran catatannya [Soca] sejak masuk SD, yang dilanjutkan dengan percakapan kami berdua ketika ia mulai masuk SMP”. Soca masih menunjukkan spontanitas berperistiwa dan tanggapan lugu atas hal-hal di keseharian bersama keluarga. Soca tidak sungkan mengekspresikan kesukaan, ketidaksukaan, kelegaan, atau kekesalan tanpa dibebani tuduhan kurang sopan. 

Orangtua sosok paling berpengaruh bagaimana anak bersikap, memandang identitas, menyemai religiositas, mencintai bahasa, menempa impian serta cita intelektual, dan mempersepsikan etika—tentu dengan cara khas masing-masing. Di keluarga Soca, pengajaran hal-hal fundamentaltidak terjadi secara dogmatis atau terperintah. Umumnya orangtua memang sang teladan dan sosok penuh kasih, tapi bukan berarti segala tindakan benar, tidak bisa dikritik, atau tabu dibahas.   

Karena catatan ditulis sejak masuk SD, Soca banyak membandingkan situasi tubuh dan perasaan ketika berada di rumah dan sekolah. Di rumah banyak kesenangan meski bagi pemangku kebijakan pendidikan dekade pertama tahun 2000, peristiwa di rumah belum terlalu dianggap pengajaran. Cerap, “Kenapa sih anak sekolah harus dikasih PR? Kan pulang sekolah aku sudah capek. Aku mau tidur siang. Mau main dengan Cathy Miaw, mau duduk-duduk santai di rumah pohon, mau baca buku, mau main game sama Oom Eri, gergaji-gergaji sama Beps, bantu Bi Yo cuci-cuci, siram tanaman…” (hal. 43). Peristiwa di rumah tidak dinilai, tidak dirumuskan dengan angka, dan secara naluriah tubuh Soca terikat pada hal-hal kecil bersifat keseharian. Begitu mengenal sekolah, tubuh harus belajar mematuhi perintah, mengikuti jadwal, dan melakukan kegiatan belajar serentak. Tubuh tidak lagi menuruti kesenangan atau rasa penasaran personal sebagai fondasi pendidikan anak.

Peristiwa di rumah tidak dinilai, tidak dirumuskan dengan angka, dan secara naluriah tubuh Soca terikat pada hal-hal kecil bersifat keseharian. Begitu mengenal sekolah, tubuh harus belajar mematuhi perintah, mengikuti jadwal, dan melakukan kegiatan belajar serentak. Tubuh tidak lagi menuruti kesenangan atau rasa penasaran personal sebagai fondasi pendidikan anak.

Paling kacau sekaligus kocak adalah waktu tubuh yang sering tidak seritme dengan waktu mekanis (jadwal) sekolah. Kekacauan justru dialami Meps (ibu) dan menjalar ke Soca, “Aku tidak suka sekolah, sebetulnya. […] Aku paling suka kalau Meps terlambat bangun. Dia pasti melompat dari tempat tidur dan berteriak, “Hadooooh, sudah siaaaaaang! Jam berapa ini?” Habis teriak-teriak, Meps akan lihat jam. Habis itu Meps akan menarik nafas panjang, lalu naik lagi ke tempat tidur. Terus dia bilang begini, “Sudah terlalu terlambat, kita teruskan tidur sajaa!” (hlm. 67). Pembaca bisa membayangkan Soca yang girang dan Meps yang pasrah. Menggagalkan anak masuk sekolah justru menggembirakan daripada menakutkan. 

Di catatan ini, Soca masih bercerita tentang watak, kebiasaan, kesukaan, dan keilmuan setiap anggota keluarga dengan kocak, menyenangkan, dan lugu. Di rumah, siapa pun bisa menjadi “guru”. Banyak hal diajarkan secara spontan justru melekat dan membentuk pribadi anak. Bahkan, Soca menjadi guru bagi keinginan, kesukaan, dan rasa penasaran sendiri. “Aku suka tinggal di rumah bersama Opa. Kami suka main macam-macam. Opa pandai menggambar. Sebelum matanya sakit dan tidak bisa lihat lagi, kalau bercerita, Opa pasti sambil gambar-gambar. Aku suka sekali dengan gambar-gambar yang Opa buat. Opa juga mengajari aku bahasa Mandarin. Tapi waktu aku sudah agak besar, aku minta Opa mengajariku bahasa Jepang sedikit-sedikit” (hlm. 25).

Tentu, Soca menemukan keasyikan di sekolah. Itu pun karena sekolah menunjukkan peristiwa-peristiwa seperti tidak di sekolah. Misalnya sosok kepala sekolah semasa SMP di dekat Sarinah yang mengesankan bagi Soca karena tidak seperti kepala sekolah pada umumnya. Kepala sekolah mungkin mengingatkan pada Opa, Oom, atau Beps, dan perasaan “merumah”. Cerap, “Pak Kepala Sekolah ini tidak suka diam di kantor. Kalau waktu istirahat, dia suka ikut main basket dengan kakak-kakak kelas dua dan tiga. Kadang-kadang duduk di bangku dekat kantin. Aku dan teman-teman suka duduk di sebelahnya, dengarkan ceritanya. Nama Pak Kelapa Sekolah ini Pak Gondo. Aku rasa dia kelapa sekolah paling baik di dunia” (hlm. 72).

Keasyikan belajar terjadi di rumah dan nuansa seperti di tengah keluarga. Ketika mendirikan Perguruan Taman Siswa pada tahun 1922, Ki Hadjar Dewantara menamakan sekolah sebagai perguruan (peguron). Perguruan berasal dari kata guru yang berarti tempat, dimana guru tinggal. Perguruan juga merujuk pada kata berguru (belajar). Peguron sebagai rumah guru sekaligus rumah (pusat) pengajaran. Taman Siswa tidak diniatkan sebagai ruang eksklusif yang resmi. Taman Siswa adalah rumah untuk belajar. Dalam buku Pendidikan (1962) Ki Hadjar Dewantara menulis, “amatlah bedanja dengan rumah sekolah Taman Siswa dimana gerombolan murid-murid di waktu pagi, siang dan petang berturut-turut sibuk dengan peladjarannja, dengan olahraga atau latihan seni, dibawah pimpinan guru-gurunja, semuanja tinggal dengan keluarganja.”

Memang sehari-hari di keluarga, Soca “belajar” pelbagai hal meski secara administratif dan otoritatif pendidikan ditangani oleh sekolah. Di masa pandemi dengan banyak keluhan dan keberatan, pintu rumah niscaya dibuka kembali untuk belajar anak-anak. Keluarga dan rumah coba dikembalikan dalam kodratnya sebagai ruang belajar. Kita, Kami, Kamu patut dibaca sebagai hiburan, nostalgia, renungan, ataupun referensi pengasuhan dan pendidikan.


Setyaningsih, pekebun di sedekalacerita.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s