Yang Terpukau

May Tauri

KARTINI cucu bupati. Kakeknya, Ario Tjondronegoro, memberi Kartini inspirasi, memulai sebuah perlawanan terhadap tradisi. Ario Tjondronegoro bisa merasakan, dia melihat jauh ke depan. Tak mengulang kekalahan perang, dia melampaui waktu. Dia  maju sepuluh langkah di depan. Dia datangkan  guru dari negeri seberang agar anak-anaknya mendapat pendidikan yang dia idamkan. Ada celaan dan anggapan merendahkan dari bupati-bupati lain. Mereka takut, tradisi feodal yang sudah berurat akar akan berubah. Bupati Demak, kakek Kartini itu, tak surut ke belakang. Anak lelaki dan perempuannya dia berikan kelimpahan: ilmu dan buku. 

Kartini anak bupati. Ayahnya meneruskan warisan, memberi pendidikan  utnuk anak-anak. Semua anaknya disekolahkan. Dan banyak priyayi mulai mengikuti di belakang. Menyekolahkan anak-anak mereka yang tampan. Kartini anak perempuan. Ayahnya memberinya sedikit kesenangan. Sekolah sebentar saja sampai waktunya pingitan. Dipikirnya tak akan menjadi beban pikiran. Tak sangka, di sekolah, ada sebuah pertanyaan yang sangat mengesankan hati Kartini kecil: “Kau mau jadi apa kelak?” Sebuah pertanyaan yang menjungkir balik dunia perempuan, selamanya (Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja, 2003).

Ayahnya memberinya sedikit kesenangan. Sekolah sebentar saja sampai waktunya pingitan. Dipikirnya tak akan menjadi beban pikiran. Tak sangka, di sekolah, ada pertanyaan yang sangat mengesankan hati Kartini kecil.

Kartini hidup dalam kelimpahan. Segala tak kurang. Buku pun segudang. Tak perlu kerja ke sawah terpanggang matahari setiap hari, hanya demi sepiring makanan. Tapi, Kartini merasa ada bagian jiwanya yang berlubang. Kartini tak bisa mandi di kali seperti Surti. Surti, suka memanjat pohon bersama adik lelaki. Makan hanya sekali sehari. Tak ada tembok yang menghalangi. Ke sawah, ia selalu pergi. Membantu bapak emaknya menanam padi. Padi bukan milik Surti. Keluarga Surti hanya kuli. Mungkin itu sebabnya Surti tak pernah bermimpi.

Bukan kain batik cantik yang menghambat laju jalan Kartini, karena kereta berkuda selalu siap bersama kusirnya, tapi tembok tebal di luar pekarangannya yang luas. Tembok itu tradisi. Kartini ingin keluar dari dunianya, bermain di bawah pohon seperti biasa. Dia sudah pernah merasakannya, dan tak ingin kehilangan kenikmatannya, bersama para noni dan sinyo Belanda. Tapi tradisi terlampau kuat untuk dilawan. Pendidikan itu sudah berlebihan bagi pribumi, apalagi perempuan. 

Beruntung, Kartini bisa membaca. Buku menjadi pelariannya: keluar dari tembok penjara, menjelajah negeri asing, menggali akar dirinya sendiri, bertemu ide-ide dan pemikiran yang menggetarkan. Kartini terpukau! Darah warisan dari kakeknya bergejolak di bawah kulitnya yang halus terawat. Mimpi untuk bebas seperti burung dan teman-teman Eropanya. Tak pernah berharap mimpi itu akan mengubah apapun. Mimpi Kartini adalah mimpi perempuan. Mimpi itu bukan mimpi untuk diri sendiri, mimpi itu untuk anak keturunan, untuk kerabat dan handai taulan, untuk semua orang. Dia mencoba menembus sekat dan batas, lewat guratan pena dan tinta, dia terbangkan mimpi-mimpinya. Mimpi-mimpi itu hinggap di pohon-pohon, dibawa oleh burung-burung, dinyanyikan oleh angin, dihirup oleh alam, tumbuh menjadi bunga-bunga. 

Dia mencoba menembus sekat dan batas.lewat guratan pena dan tinta, dia terbangkan mimpi-mimpinya. Mimpi-mimpi itu hinggap di pohon-pohon, dibawa oleh burung-burung, dinyanyikan oleh angin, dihirup oleh alam, tumbuh menjadi bunga-bunga.

Seorang perempuan yang jauh dari Jepara, di tengah hutan Kalimantan, memetik mimpi-mimpi itu. Perempuan itu tak bisa membaca. Dia tak pernah makan buku. Tangannya yang berkulit kasar tak pernah memegang pena, selain pacul dan beliung. Dia mengguratkan mimpi di keringat dan kerja. Perempuan punya mimpi tentang masa depan yang gemilang. Hasanudin Abdurakhman menuliskan kisahnya di buku Emakku Bukan Kartini (2017). Mimpi emaknya yang buta huruf, mengantarkan Hasan dan kakak-kakaknya melampaui mimpi mereka sendiri. 

Mimpi-mimpi bertumbuhan seperti sesemakan lebat sekali. Musuhnya hanya tradisi yang sudah basi. Tradisi yang berusaha memangkasi, tapi mimpi-mimpi itu tak juga bisa mati. Tradisi bilang kalau mimpi itu sanggul dan kain batik. Itu diajarkan di sekolah-sekolah. Anak-anak perempuan mengangguk lemah. Tapi mimpi punya cara sendiri untuk berkelit dari ikatan dan jebakan. Mimpi tumbuh subur lagi. Bahkan anak lelaki pun ikut bermimpi. Semua anak-anak kini bermimpi. Tradisi tak sanggup menebas habis semua mimpi. Masih ada mimpi yang tumbuh di sana-sini. 

Kini perempuan tak hanya bisa bermimpi. Menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Menentukan jalan dengan kakinya sendiri. Perempuan-perempuan punya mimpi. 


May Tauri, ibu suka “makan” buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s