Bocah dan Mercon

Bandung Mawardi

SEKIAN hari menjelang Ramadan, bocah-bocah di kampung sudah membuat keramaian. Siang-siang, mereka berada di jalan dan kebun: bermain mercon. Suara-suara ledakan mercon membuat gembira. Mereka berlarian dan teriak-teriak. Duit dari orangtua dibelikan bungkusan mercon. Korek api koleksi dapur dibawa untuk mencipta kegembiraan bersama. Terlihat, mereka memang gembira! Sekian bocah malah loncat-loncat. Siang panas ditambahi ledakan.

Kebiasaan itu sudah berlangsung lama, sejak awal abad XX. Bocah-bocah di  Jawa dan Sumatra menandai Ramadan dengan mercon atau petasan. Kita menemukan kebiasaan mereka dalam buku-buku sastra dan biografi. Perkara aneh bila membaca pengisahan dan pengakuan bermain mercon jarang mendapat larangan dari bapak atau ibu. Dulu, para warga maklum melihat bocah-bocah main mercon. Kegembiraan dengan api dan ledakan tapi memiliki risiko besar: luka, kebakaran, dan pertengkaran. 

Kini, polisi dan pelbagai pihak menganjurkan agar bocah atau remaja tak perlu lagi bermain mercon, petasan, atau long. Usaha menghindari kejadian-kejadian buruk. Pedagang tetap saja ada. Pembeli bisa mendapatkan mercon. Situasi berbeda dengan puluhan tahun lalu. Keluarga-keluarga mengesankan memberi restu bagi bocah dan remaja menikmati ledakan-ledakan. Di rumah, mereka kadang membuat sendiri petasan atau mercon dengan kertas-kertas bekas atau buku tulis sudah tak terpakai. Kesibukan di hari-hari tak ingin merasakan lapar, bosan, dan melongo. Bermain mercon itu keumuman tapi BM kecil jarang menjadi pelaku. Ia tak mungkin diberi duit oleh simbok untuk membeli mercon. Pada saat pagi, selesai subuhan selama Ramadan, teman-teman di jalan bermain mercon adalah pemandangan membikin iri. Ia mengerti saja. Melihat teman-teman ikut gembira dan takut. 

Bermain mercon itu keumuman tapi BM kecil jarang menjadi pelaku. Ia tak mungkin diberi duit oleh simbok untuk membeli mercon. Pada saat pagi, selesai subuhan selama Ramadhan, teman-teman di jalan bermain mercon adalah pemandangan membikin iri. Ia mengerti saja. Melihat teman-teman ikut gembira dan takut.

Pada masa berbeda, ia melihat Bait Daun Takjub (5 tahun), anak ketiga bergabung dengan teman-teman di jalan. Semula, mereka bermain biasa saja. Siang, terdengar ledakan-ledakan. Bocah-bocah mulai berteriak dan tertawa keras gara-gara mercon. BM melihat Bait tampak gembira. Bocah itu melihat saja, menginjak mercon-mercon selesai meledak. Adegan para bocah pamer keberanian. Bait pun dipanggil pulang. Berjalan dengan malas ke rumah. Bait tentu masih ingin bergabung dengan teman-teman. Gerombolan bocah memiliki hiburan. BM melihat sekian ibu dan bapak di sekitar jalan membiarkan bocah-bocah bermain mercon. Mereka mungkin menganggap itu perkara biasa, belum perlu dikhawatirkan atau mengeluarkan larangan. 

Kita bandingkan dengan keberanian, kegembiraan, dan risiko bocah-bocah bermain mercon masa lalu. Kita membuka buku berjudul Woelang Basa (1948) susunan G Boswinkel dan R Wignjadisastra. Buku untuk mahir membaca dan menikmati cerita-cerita berbahasa Jawa. Halaman demi halaman, pembaca diajak membuat atau melengkapi cerita dilengkapi gambar-gambar memikat. Pada abad XXI, buku itu masuk daftar langka dicari para kolektor. Buku memang memberi panggilan nostalgia, memicu imajinasi-dokumentatif mengenai bacaan bocah masa 1940-an.

Di halaman 6, tersaji gambar dan deretan permintaan jawab: “Soekra maoe njekel apa? Genea ditjoelake? Sababe apa mripate ditoetoepi? Genea Soekra diarani koerang ngati-ati? Benere mretjone dikapakake?” Jawaban-jawaban diberikan bocah dalam pengisahan bermain mercon. Gambar tiga bocah bermain mercon diperhatikan untuk diceritakan dengan kalimat-kalimat berbahasa Jawa. Di gambar, 3 bocah bermain tanpa dilihat oleh orangtua. Mereka tampak bermain di sekitar rumah.

Kehadiran gambar dan cerita dalam buku mengabarkan kebiasaan bocah-bocah bermain mercon itu wajar. Para orangtua mungkin membiarkan atau memberi restu dengan cara memberi duit. Bocah-bocah membeli mercon belum dianggap kesalahan besar. Duit menjadi api, ledakan, dan kertas berhamburan. Kita sulit mengerti para orangtua tak lekas membuat “fatwa”. Tahun-tahun berlalu, bermain mercon masih berlangsung di Indonesia. Situasi berubah saat polisi mengeluarkan larangan dan mengumumkan hukuman-hukuman bakal ditanggungkan orang-orang nekat dalam perdagangan atau permainan mercon. Kini, kita tersadarkan ada permainan-permainan lain agar bocah-bocah bergembira selama Ramadan tanpa perlu mercon atau petasan. Begitu. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s