Masa Lalu, Tempe, Ibu

Eva Tampubolon

PEKAN di desaku jatuh pada hari Senin. Ini adalah hari yang aku nanti-nantikan datang. Mamak biasanya akan mengajakku ke pekan, belanja bahan makanan untuk seminggu. Tidak banyak yang dibeli jika dibandingkan dengan belanja mingguanku saat ini. Belanjaanku adalah bawang merah dan bawang putih, cabe merah, ikan asin, sayuran yang awet seminggu tanpa masuk ke kulkas seperti kol, wortel, sawi putih, dan jipang (labu siam). Terkadang ada juga sekilo atau setengah kilo ikan basah, tergantung persediaan uang mamak. Makan dengan menu ikan basah adalah kemewahan yang hanya hadir sekali seminggu. Lalu, sisa hari dalam seminggu itu akan diisi dengan menu yang berganti-ganti antara ikan asin atau ikan asin campur tahu dan tempe. 

Olahannya pun sederhana saja. Itu lagi, itu lagi! Tidak ada resep, tidak ada Google maupun Youtube untuk mencari inspirasi mau masak apa hari itu. Aku tidak akan bertanya tempe dan tahu yang baru saja dibeli dari tukang tahu keliling satu-satunya di kampung saat itu, mau dimasak bagaimana dan apa. Tahu dan tempe hanya akan berakhir di wajan penggorengan setelah dipotong kotak-kotak lalu bersatu dengan ikan teri asin bersama-sama bermandikan sambal: yang terdiri dari cabe sedikit, bawang merah putih, dan tomat. Tempe hanya berteman dengan tahu dan teri. Begitu terus berulang-ulang. Kasihan si tempe. Ibarat seorang anak, tempe menjadi seorang yang kuper. Tahunya hanya berteman dengan tahu dan teri. Aku sebagai “koki” merasa bersalah tidak meng-ekspos tempe pada pergaulan yang lebih luas.

Tempe hanya berteman dengan tahu dan teri. Begitu terus berulang-ulang. Kasihan di tempe.

Beranjak dewasa hingga kini aku menjadi ibu rumah tangga, olahan tempe sudah semakin bervariasi walau sambal tempe-tahu-teri tetap yang paling sering hadir setelah tempe goreng tepung. Ah, ternyata hanya dua varian!  

Ini tentu tidak cukup untuk menebus rasa bersalahku terhadap tempe. Bahan makanan yang namanya sudah begitu tersohor ke segala penjuru dunia, hanya aku olah menjadi sambal tempe-tahu-teri dan tempe goreng tepung. Keterlaluan!

Lalu, aku menelusuri kemungkinan-kemunginan tempe dapat diolah menjadi apa saja. Hasilnya mencengangkan! Di salah satu perpustakaan digital yang ada di gawaiku, ada buku olahan tempe yang terdiri dari 26 seri buatan Hieronymus Budi Santoso. Artinya, tempe bisa diolah menjadi 26 jenis masakan. Mulai dari bacem, gulai, pepes, perkedel, dan kroket. Istilah-istilah ini sudah sering aku dengar. Hingga olahan aneh, yang aku tidak mampu membayangkan bagaimana rupa tempe diolah menjadi puding, pizza, dan schotel. Kemudian ada yang lebih aneh lagi. Aku tidak tahu apa itu souffle, menjeng, orem-orem, besengek, kemul, lengko-lengko, dan botok. Butuh hampir satu bulan bagiku jika ingin memahami dan mencoba aneka olahan. 

Aku melanjutkan penelusuran lagi ke media sosial. Dengan mengetik tagar “olahantempe” di Instagram, di hadapanku langsung tersaji 10.4K tayangan lengkap dengan gambar yang menggiurkan. Bentuknya juga macam-macam. Tidak hanya dipotong kotak-kotak seperti yang sering aku buat. Ada yang berbentuk sate lilit yang pada umumnya berbahan dasar ikan, tapi ini terbuat dari tempe. Tempe bertemu dengan bumbu sate lilit dengan serai sebagai tangkainya. Bagaimana rasanya? 

Ada yang berbentuk sate lilit yang pada umumnya berbahab dasar ikan, tapi ini terbuat dari tempe. Tempe bertemu dengan bumbu sate lilit dengan serai sebagai tangkainya. Bagaimana rasanya?

Aku kemudian tertarik pada satu tayangan yang diberi judul “Pecak Tempe”. Aku yang berasal dari Sumatera Utara, istilah pecak ini pun masih asing. Yang menarik perhatianku bukan resepnya tapi kalimat sebelum resep tersebut: “Hari ini masak bebek Madura, dan karena badan sudah tidak bisa menerima makanan berkolesterol tinggi, jadi ini menu khusus buat bunda.” Pernyataan ini merupakan suara hati orang-orang yang tak sanggup lagi menanggung “kekejaman” makanan yang bersumber dari hewani, yang konon kandungan kolesterolnya bisa menyebabkan jantung berhenti berdetak. Jadi, tempe tidak hanya menolong kaum yang tidak sanggup menanggung “kekejaman” harga protein hewani tapi juga orang-orang berduit yang berpenyakit. 


Eva Tampubolon, ibu suka memasak kata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s