Goreng Garing

PADA tiap sore Ramadan, sekian pedagang di kampung menggelar beragam masakan. Di atas meja, ada gorengan: tempe, tahu, bakwan, dan lain-lain. Di pinggir jalan, pedagang menggoreng memenuhi keinginan para pembeli mendapat panas atau hangat. Sore, kebutuhan gorengan dipenuhi dalam kebiasaan buka bersama. Orang-orang memilih makan gorengan ketimbang roti atau kue. Ada gorengan, kelegaan dinikmati orang-orang setelah seharian menahan lapar. Para pedagang menggoreng tanpa margarin. Mereka mungkin belum mengerti atau memang belum mau repot dengan margarin saat menggoreng. Bakul gorengan tanpa margarin. Ilmu menggoreng dari ibu atau nenek jarang mengajarkan penggunaan margarin.

Mereka belum pernah melihat iklan dalam majalah Minggu Pagi, 16 Agustus 1953. Ibu semringah saat menggoreng. Di depan itu wajan tapi kita tak mengetahui isi. Kita menduga menggoreng tempe atau tahu. Ibu menggunakan Pusaka Margarine dimengerti: “Menolong lebih menggaringkan goreng-gorengan dan menambah lezatnja lauk pauk.” Ibu modern tahu kegunaan margarin. Kegunaan lain: “Karena Pusaka kuwehnja mendjadi repui dan empuk, lagu pula baunja sedan dan agak istimewa.” Iklan tak berani menggunakan diksi “istimewa”. Ada sedikit kesopanan: “agak istimewa”. Pada masa 1950-an, ibu-ibu di Indonesia menggemari Blue Band dan Palmboom. Ada merek berbeda minta dikonsumsi: Pusaka. Di kaleng, kita melihat gambar keris. Nama dan gambar tentu ingin dianggap sebagai margarin-lokal atau khas Indonesia. Pada masa berbeda, iklan dan cerita mengenai Pusaka Margarin perlahan hilang, tak selanggeng Blue Band.    

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s