Penjawab

Ria Santati

NENEK lahir tahun 1900, tahun ke-33 Meiji, kala Jepang mengakhiri keemasan samurai menuju modernisasi yang diadaptasi kebudayaan Barat. Tanpa uang, nenek ditinggal kakek selamanya di usia masih 42 tahun. Harus membesarkan 7 anak, maka Nenek bekerja bersih-bersih sebuah SD dan universitas Saga. Tak berbohong bahwa Nenek  bersemangat, selalu ceria hidupnya. Ia tidak pernah terlihat murung dan mengeluh. 

Semua kisah pada buku ini diangkat dari kisah nyata Akihiro Tokunaga sendiri (Yoshichi Shimada). Ia harus kehilangan ayah yang menjadi korban radiasi bom. Dan demi memikirkan masa depannya, ibu harus mengirim Akihiro, 8 tahun, ke desa, dibesarkan oleh nenek agar ia bisa bekerja dan mengirim uang untuknya. Seluruh cerita, berlatar belakang Jepang setelah pengeboman Sekutu pada Hiroshima, yang menandai berakhirnya Perang Dunia II secara tiba-tiba di Asia.  

Dengan caranya yang alami, nenek membesarkan dan mendidik Akihiro. Di Saga, Akihiro harus hidup satu tingkat lebih miskin  dibanding ketika ia bersama ibunya di Hiroshima. Secara materi memang Akihiro menjadi semakin miskin namun sikap hidup, pandangan, dan perilaku neneknya yang bersahaja ternyata membuat hidupnya menjadi kaya akan berbagai pengalaman hidup yang kelak akan membuatnya kaya dan bahagia secara batiniah. Bagi Akihiro, nenek adalah orang Miskin yang ceria dan garis keras.

Bagi Akihiro, nenek adalah orang Miskin yang ceria dan garis keras.

Miskin yang Ceria  

Jalan raya, sungai, kebun, dan parit adalah sumber rezeki buat orang miskin seperti nenek dan Tokunaga. Di dua sisi sungai, dipasangi nenek galah panjang. Begitu banyak barang bisa saja tersangkut di situ. Suatu hari, sandal sebelah kiri ditemukan. Ketika Tokunaga hendak membuangnya, nenek melarang. Tunggu beberapa hari, pasti yang sebelah kanan akan datang. Dan begitu kenyataannya! “Orang pasti membuang yang lain setelah berhari-hari dicari tidak ketemu,” begitu kata nenek. 

Di saat festival obong, anggota keluarga mengantar arwah yang telah berpulang dengan menghanyutkan perahu yang membawa makanan dan bunga ke sungai. Tentu saja perahu-perahu akan tersangkut galah nenek. Apel, pisang, dan buah lain pun dipungut. Lalu, perahu dibiarkan kembali melanjutkan perjalanan. Pernah juga Tokunaga tak sengaja menginjak suppon, sejenis kura-kura di parit. Ketika dibawa ke pemilik toko ikan ia membelinya seharga 840 yen. Tokunaga menjadi satu-satunya murid yang memiliki krayon 24 warna akibat menginjak keberuntungan. Meski menemukan banyak barang berharga di sungai atau di jalan, nenek melarang keras membuang barang secara serampangan.

Bagaimana pun Tokunaga seperti remaja laki-laki lainnya, iseng kalau tidak dikatakan nakal. Suatu hari ia mendapati sepasang gurunya yang menjalin asmara. Ia menggoda mereka dengan memahat tanda love untuk dua gurunya itu. Tokunaga harus mengganti papan tulis yang rusak oleh pahatan hati. Itu adalah penyesalan besarnya karena nenek harus mengganti. Tetapi, nenek adalah seseorang yang tak tertandingi. Papan tulis itu digotong pulang oleh teman-teman Tokunaga dan dijadikan media komunikasi nenek dan Tokunaga. Berbagai pesan nenek dituliskan di sana. 

Meski miskin luar biasa, nenek tak pernah lupa memberi persembahan kepada Buddha setiap pagi atau memberi sumbangan ke kuil. Nah, itu artinya tidak pernah membiarkan diri dikalahkan keadaan dan sungguh tampak selalu bahagia. Menikmati apapun yang terjadi dalam hidup, menyantap dengan syukur makanan yang ada, dan hidup dalam tawa setiap hari. Jika perasaan tenang, kita dapat hidup ceria.

Meski miskin luar biasa, nenek tak pernah lupa memberi persembahan kepada Buddha setiap hari atau memberi sumbangan ke kuil. Nah, itu artinya tidak pernah membiarkan diri dikalahkan keadaan dan sungguh tampak selalu bahagia.

Kata nenek, orang miskin yang ceria, sejak awal tak pusing jika pakaian kotor, saat hujan atau duduk di tanah, mau jatuh dengan cara apapun, terserah saja. Sebaliknya, orang kaya bangun pagi, naik kereta berdempetan, sibuk di jam kantor, bekerja, lembur. Tak bisa hidup tanpa uang. Selalu sibuk.

Miskin Garis Keras 

Rumah bobrok asal tidak bocor, tak apa. Atau baju, masih bisa dapat lungsuran pakaian bekas dari saudara sepupu. Tetapi makan adalah tantangan terberat orang miskin. Masa seusai perang, semua orang memang miskin, banyak anak tak cukup makan dengan baik. Sekolah pun mengadakan pemeriksaan gizi dengan menanyakan pagi dan malam makan apa? Menu Akihiro: sarapan makan sup miso isi lobster, malam lobster panggang. Khawatir muridnya berbohong, wali kelas datang ke rumah dan menanyakan sendiri pada nenek. Apa iya dengan rumah bobrok mereka bisa makan lobster dua kali sehari. Alih-alih meratapi kemiskinan, nenek memilih menyajikan udang karang. Penampilannya mirip lobster? Udang karang yang diambil dari “supermarket sungai” depan rumah. 

Apa iya dengan rumah bobrok mereka bisa makan lobster dua kali sehari. Alih-alih meratapi kemiskinan, nenek memilih menyajikan udang karang. Penampilannya mirip lobster? Udang karang yang diambil dari ‘supermarket sungai’ depan rumah

Nenek juga punya cara lain mendapatkan uang, yakni mengikat pinggangnya dengan tali yang ujungnya dicantelkan sebuah magnet. Ke mana pun nenek pergi, aneka logam menempel. Hasilnya diuangkan.

Ketika Tokunaga ingin mengikuti olah raga beladiri kendo, nenek bilang, lari saja, tak perlu biaya. Seperti biasa, ia tak dapat “melawan” pemikiran nenek. Ia pun harus berlari dengan bertelanjang kaki supaya sepatu tidak cepat rusak.    

Kali lain, Tokunaga menemukan serupa topeng dari semangka dari kebun teman. Pagi harinya, berniat memamerkan pada teman-teman di sekolah, dicari ke mana pun tak juga ditemukan. Sepulang sekolah didapatinya semangkuk acar kulit semangka. Begitulah garis keras nenek.

Segalanya untuk Cucu

Sebenarnya bagi sebagian kebiasaan masyarakat kita, menitipkan anak pada orang tua, kakek-nenek adalah hal biasa. Dan bila mereka melakukan segalanya untuk cucu (baca: memanjakan), rasanya itu berlaku di banyak tempat di muka bumi ini. Tetapi, cara nenek benar-benar berbeda. Sebagai orang miskin, nenek melarang Akihiro ikut klub baseball dengan alasan tak ada uang untuk membeli peralatan. Maka, Akihiro beralih ke olah raga lari. 

Di kemudian hari, Akihiro jadi juga bermain baseball di tim sekolah. Dan ketika ia terpilih menjadi kaptem tim, nenek menghadiahi sepatu termahal dari toko olah raga di Saga dengan mengeluarkan uang tabungannya. Nenek pun melupakan keanggunannya ketika berada di bangku penonton, berteriak keras menyemangati Tokunaga.

Nenek memang lahir di tahun 1900, tetapi hidup sejalan perkembangan abad ke-20. Nenek membesarkan hati Tokunaga dalam hal kesulitannya mengikuti beberapa mata pelajaran. Kata nenek, karena orang Jepang wajar tidak bisa bahasa Inggris. Atau kala tak bisa Kanji, saran Nenek karena hidup dengan Hiragana dan Katakana tulis dengan huruf itu. Dan ketika tidak suka sejarah, lagi-lagi nenek memberi jawaban tak lazim: “Tulis di kertas ulanganmu, ‘Saya tidak menyukai masa lalu’.”  Ketika rapor dibagikan, tentu saja yang terbaik adalah olah raga dan matematika. Yang terakhir ini akibat kebaikan teman-teman yang mengajari. 

Seiring berjalannya waktu, Akihiro bisa membedakan antara kebohongan dan “kebohongan”. Setiap festival olah raga (undokai) yang dimaksudkan “menumbuhkan rasa cinta pada olahraga, membentuk jiwa dan raga yang sehat”, di setiap awal bulan Oktober, kala cuaca cerah, hangat, dan bersahabat, Akihiro mewakili kelas dalam lomba lari. Tak ada yang berlari secepat dirinya. Seusai itu, para siswa makan bersama dengan bekal yang dibawa dari rumah. Dan selalu saja dari tahun ke tahun dari hari festival olah raga, wali kelas dengan dalih sakit perut, menukar bekalnya: telur dan udang goreng serta sosis dengan yang dibawa Akihiro: acar plum dan jahe. 

Setelah dewasa, Akihiro baru mengerti mengapa banyak orang baik kepada mereka. Selain para guru, terutama Tanaka Sensei, juga penjual tahu. Tahu yang rusak dijual separuh harga. Acap kali, ternyata, di penjual sengaja merusak tahunya agar nenek dan Akihiro dapat membelinya. Juga kebaikan hati dokter yang mengobati mata Akihiro yang terjatuh dari sepeda. Dokter menolak uang dari nenek. Ya, semua karena nenek gemar membantu orang lain. Kebaikan sejati dilakukan tanpa diketahui orang yang menerima kebaikan. Kelak, Akihiro Tokunaga sukses di dunia pertelivisian, panggung, dan penulisan dengan nama Yoshichi Shimada.

Nenek contoh bukan perempuan lemah. Lho, nyatanya, memang masih jamak pandangan, perempuan dipandang makhluk lemah. Nenek memilih yang rumit, di usia tua membesarkan cucu di usia sulit, anak-anak hingga beranjak remaja. Miskin tapi tak menyerah kalah pada kemiskinan. Nenek memberi contoh, bukan nasihat belaka. Cucu laki-lakinya kelak akan hidup sendiri dan mandiri, maka dibekali mental tak cengeng. Misi ini membutuhkan banyak bekal pengetahuan. Bayangkan, salah didik, runyam masa depan sang cucu. Penyesalan yang akan dibawa hingga mati. 


Ria Santati, guru di SMA Regina Pacis Surakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s