Kembali ke Rumah

Lydia Natalie

BERDASARKAN penelitian sampai saat ini, ditemukan tulang manusia tertua di Afrika Timur. Ditemukan juga alat-alat sederhana yang terbuat dari batu. Dulu, manusia pernah menjadi para pemburu dan pengumpul. Sementara itu, binatang-binatang liar membuat sarang: musang menggali lubang dan berang-berang membuat rumah dari sekumpulan ranting dan lumpur. Pada masa lalu, sekumpulan manusia tidak mempunyai rumah untuk ditinggali seperti yang kita lakukan sekarang ini. Mereka berpindah-pindah dan mencari apa saja yang dapat digunakan untuk berlindung: celah di bebatuan atau gua-gua di lereng gunung supaya dapat terhindar dari dingin, badai, dan incaran binatang buas.

Sampai akhir 2018, Ahmad Arif mengikuti perjalanan tim peneliti Lembaga Biologi Molekuler Eijkman untuk mendokumentasi dan mengambil sampel genetik orang Punan Batu, yang berlindung di ceruk-ceruk karst di hulu Sungai Sajau, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Mereka yang hidup dalam kelompok- kelompok kecil dan berpindah-pindah mengikuti ketersediaan makanan di hutan. Mereka diduga sebagai kelompok pemburu dan peramu terakhir Kalimantan yang tersisa.

Bukan hanya binatang yang membuat sarang, manusia juga mencari tempat berlindung yang sekarang kita sebut sebagai rumah. Menurut YB Mangunwijaya dalam Wastu Citra, rumah mempunyai daya guna yang lain disamping sebagai tempat berlindung dari cuaca. Penataan ruang yang baik dan efisien memberikan kenyamanan yang dapat meningkatkan kualitas hidup manusia. Rumah kemudian menjadi citra atau gambaran cerminan keadaan manusia yang tinggal di dalamnya, Istana melambangkan kemegahan dan wibawa, gubug reyot melambangkan keadaan penghuni miskin yang serba reyot. Penjelasan-penjelasan itulah yang pahami bahwa rumah menunjukkan citra manusia dan budayanya.

Tetapi semua itu belum mengungkapkan dan menyinarkan sesuatu yang paling menjadi ciri kemanusiawian manusia yang diam di rumah tersebut: spiritual. Rumah bisa dianggap sebagai mesin, alat penggandaan produksi, seperti tokoh Koly dalam novel Homeless Bird gubahan Gloria Whelan, yang dibuatkan ruang di rumah barunya untuk membordir. Kamar yang memiliki dua jendela besar sehingga dapat melihat matahari terbit dan tenggelam, halaman dan pohon asam di satu jendela, dan lahan tempat Raji bekerja di jendela yang lain. Penataan ruang yang sesuai membuat Koly berpikir akan merasa nyaman tinggal di rumah itu bersama suaminya kelak. Yang terbaca dalam novel: “Rumah kami tak akan selalu begitu bersih, masakannya mungkin akan agak terburu-buru, dan anak yang merengek akan duduk di pangkuanku dan aku akan bernyanyi untuk mereka sementara aku bekerja.”

Lebih dari itu, rumah juga adalah pantulan jiwa dan cita-cita, cermin, dan bahasa kemanusiaan yang bermartabat: “Aku kerap memikirkan kamar yang telah dibangun Raji untukku. Tak ada suara mobil atau motor atau bus di sana. Alih-alih, aku akan mendengar gerisik dedaunan pohon asam dan suara burung-burung yang bersarang di sana. Aku akan memasang tirai dari kain muslin berwarna putih yang akan melayang-layang jika angin meniup menyeberangi lahan. Anak lelakiku akan membantu Raji di lahan. Sementara anak perempuanku akan duduk di sampingku di kamar dengan secarik kain dan jarum serta benang di tangannya.”

Namun sepertinya zaman telah banyak berubah. Sekarang, rumah menjadi sebuah bangunan, sebuah materi. Di perkotaan, orang yang tidur di kolong jembatan atau di teras depan toko-toko disebut sebagai orang yang homeless. Itu menjadi citra dirinya. Padahal, dulu apapun yang dapat digunakan sebagai tempat berlindung bisa saja disebut sebagai rumah, seperti binatang yang dapat menjadikan rumahnya di mana saja.

Di perkotaan, orang yang tidur di kolong jembatan atau di teras depan toko-toko disebut sebagai orang yang homeless. Itu menjadi citra dirinya. Padahal, dulu apapun uang dapat digunakan sebagai tempat berlindung bisa saja disebut sebagai rumah, seperti binatang yang dapat menjadikan rumahnya di masa saja.

Perkotaan semakin padat, rumah-rumah berdesakan, bangunan-bangunan tinggi menjulang memperlihatkan kemegahan dan kewibawaannya. Hutan  semakin tersingkir, binatang-binatang pun pergi. Orang-orang bekerja, makin sibuk bekerja, dari pagi hingga petang. Rumah-rumah ditinggalkan. Mereka terus bekerja, terus mencari, berusaha mencari kebahagiaan. Dan, waktu-waktu berlalu, sampai tersadar bahwa kita telah ada di ujung jalan. Seperti digambarkan dalam puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Rumah di Ujung Jalan.” Suasana yang mengharukan: Ke mana saja kau selama ini?/ Rasanya tak pernah kukenal/ yang membukakan pintu itu/ seorang lelaki tua/ bertelekan tongkat/ menyambutku. Aku yakin ini alamat/ rumah yang kucari-cari selama ini. Terdengar senada dengan puisi dari Emily Dickinson yang berjudul “Returning”. Kita membacanya: Sudah tahunan aku jauh dari rumah/ dan sekarang, di depan pintu/ aku tidak berani membuka, kalau-kalau sebuah wajah/ tidak pernah kulihat sebelumnya/ memandang kosong wajahku/ dan menanyakan apa urusanku di sana/ urusanku, hanya sebuah hidup yang tersisa/ seperti apa yang masih tinggal di sana. 

Peter Tovy, tokoh dalam novel berjudul Pegunungan Tinggi Portugal gubahan Yann Martel, adalah seorang senator, yang setelah pindah ke Ottawa memiliki apartemen yang lebih besar dan bagus. Apartemen dengan pemandangan sungai yang cantik. Peter dan istrinya (Clara) gembira karena selain mereka menikmati kehidupan santai di ibu kota, mereka juga dapat tinggal berdekatan dengan anak, menantu, dan cucu. Lebih dari empat puluh tahun Peter hidup harmonis dengan istrinya, sampai suatu hari istrinya meninggal karena sakit, anaknya bercerai, hubungannya dengan anaknya penuh pertengkaran. Impiannya hancur: “Tidak, ini bukan rumah. Rumah adalah ceritanya bersama Odo” Odo, seekor simpanse. Bagaimana bisa seekor simpanse membuat Peter merasa seperti di rumah? Apakah maksudnya seperti juga yang Koly katakan: “Namun, Tanu adalah gadis kota, dan segala alam terbuka di sekeliling sungai membuatnya gugup. Jadi kami segera kembali ke rumah kecil kami. Sebagian dari diriku kembali, tetapi sebagian besar dariku tinggal bersama sungai dan burung pekakak serta bangau dan kenangan saat-saat aku bersama Raji.”

Selanjutnya, tokoh buatan Yann Martel mengatakan: “Ini adalah rumah, ini adalah rumah, ini adalah rumah. Dia menempatkan dirinya sedemikian rupa sehingga punggung simpanse menempel ke dadanya dan kedua lengannya memeluk simpanse dan anak beruang, sementara tangannya memegang anak beruang.” 

Novel berjudul Pegunungan Tinggi Portugal memiliki tiga cerita yang berbeda di dalamnya. Namun, cerita itu sebenarnya saling mengait menjadi satu cerita. Tiga judul di tiap bagian: “Tanpa Rumah”, “Menuju Rumah”, dan “Rumah”. Setiap kisahnya selalu diakhiri dengan kisah seekor simpanse. Apakah rumah orang modern dengan kewibawaan dan kemegahannya gagal untuk memberikan suasana rumah yang sesungguhnya? Setelah impian Peter Tovy hancur untuk hidup bahagia bersama istri dan keluarganya, ia menjual semua miliknya dan memutuskan pindah ke pedesaan tempat orang tuanya berasal, Pegunungan Tinggi Portugal. Udaranya sejuk, namun sayangnya tidak terlalu sesuai dengan bayangannya akan suasana pegunungan, lebih merupakan hamparan sabana yang gersang. Peter mencari rumah untuk dia tinggali bersama simpansenya. Mungkin sebuah rumah yang ideal. Sebab, dulu di Eropa setiap rumah ada binatang. Di desa itu pun penduduk biasa hidup berdampingan dengan binatang: “Para penduduk desa di depan mereka langsung memberi jalan, begitu pula ayam dan anjing. Kecuali ayam, semua penduduk desa, manusia dan binatang, turut mengiringi si pendatang baru.”

Terlepas dari semua kesibukan dan hiruk-pikuknya di kota. Tibalah dia di rumahnya yang baru di pedesaan. Odo duduk di kursi di dekat mereka, memegang secangkir kopi, menatap ke luar jendela. Peter memasuki semua ruangan, mencari kesan yang berbeda. Lalu: “Tidak, ini pun bukan rumah.” Rumah adalah ceritanya bersama Odo. Apakah Odo hanya sekadar simpanse? Kita menduganya, tidak. Sebab, manusia akan pergi ke rumahnya yang kekal. Dan, debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.


Lydia Natalie, ibu momong anak dan buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s