Oh, Meteng!

Bandung Mawardi

BERITA terbaca pagi hari. Nella Kharisma meteng. Berita membahagiakan bagi penggemar atau kaum dangdut di seantero Indonesia. Sekian hari lalu, penulis dolan, dari Solo ke Semarang. Pagi terasa dingin banget. Penumpang bus sedikit. Di dalam bus, dingin minta ampun. Televisi di depan. Perjalanan lama dengan hiburan pemutaran lagu-lagu Nella Kharisma. Oh, ia tampak cantik dan molek. Pagi kedinginan dan berpuasa malah melihat rekaman pentas-pentas dangdut koplo. Di pangkuan ada buku terbuka berjudul Writing and Being garapan Nadine Gordimer. Ah, Nella Kharisma sulit diabaikan! Di panggung, ia masih lincah. Kini, ia meteng, tak mungkin jingkrak-jingkrak. 

Nella Kharisma meteng mendapat ucapan dan tanggapan ramai dari penggemar. Artis meteng berbeda dengan orang-orang meteng di kampung: cukup diobrolkan oleh keluarga dan tetangga. Meteng memberi bahagia, menuju kelahiran makin mengabarkan bahagia bila diberi keselamatan. Meteng itu kemuliaan perempuan.

Dulu, penulis sering sesumbar ingin kawin dan menjadi bapak ketimbang melanjutkan kuliah jenjang tinggi atau bekerja di kantor. Keinginan sederhana sebagai lelaki jarang piknik, sulit mengerti kenikmatan makanan, dan gagal mengerti keparlentean. Terkabul! Penulis menikah dengan perempuan pujaan saat terlihat di kampus. Pada saat memandang episode awal, penulis sudah membatin perempuan itu bakal menjadi mbok. Penantian lama untuk perempuan itu menerima si lelaki berpenampilan lusuh dan tak pernah malu gara-gara kesulitan menraktir makan siang. 

Dulu, penulis sering sesumbar ingin kawin dan menjadi bapak ketimbang melanjutkan kuliah jenjang tinggi atau bekerja di kantor. Keinginan sederhana sebagai lelaki jarang piknik, sulit mengerti kenikmatan makanan, dan gagal mengerti keperlentean. Terkabul!

Menikahlah! Hari-hari dialami sebagai suami-istri. Sekian hari berlalu, waktu terus melaju. Pada suatu hari, istri mengabarkan meteng. Penulis menunduk mesem, membatin kebahagiaan sebagai wong lanang. Malam, ia berjualan buku bekas di pusat kesenian di Solo. Malam keputusan bagi penulis rajin merokok sejak kelas 1 SMA. Malam itu mengakhiri kebiasaan merokok. Lelaki dengan janji kecil: kelak tak mau anak-anak melihat bapak merokok. Malam itu ikhlas menandai kebahagiaan istri meteng dengan berhenti merokok. Gampang saja! Hari-hari terasa bahagia. Perut makin besar, kita sering bergantian membaca Al Quran. Kelahiran! Pada hari Lebaran, istri melahirkan. Di laci, istri menghitung uang: 300-an ribu. Oh! Berangkat ke poliknik. Ketegangan dan pengharapan. Lahir! Ia dinamakan Abad Doa Abjad. 

Kini, kita berurusan dengan meteng saja. Perempuan hamil kadang bingung dalam pelbagai hal. Pengalaman pertama menuntut mencari informasi dan menambahi pengetahuan. Pada 1957, terbit buku berjudul Perkawinan dan Kesehatan susunan A Seno-Sastroamidjojo. Buku penting dan laris masa 1950-an. Kita mengenali penulis adalah kakek dari pengarang kondang: Seno Gumira Ajidarma. Buku dipersembahkan: “Pertama-tama kepada isteri saja dan kaum wanita pada umumnja jang bertjita-tjita menudju kearah kesempurnaan dalam perkawinan.” Buku serius tapi diusahakan gampang dipelajari suami-istri. 

Seno-Sastroamidjojo menerangkan bahwa “perkawinan mempunjai akibat jang tertentu pula, jang terpenting diantaranja ialah hamil.” Di Jawa, ia terpahamkan dengan meteng. Pengamatan menghasilkan penjelasan bila orang-orang sering “kurang atau tidak sadar.” Sindiran: “Malahan sering-sering diselubungi oleh awan ketololan, kebodohan, kegelisahan, ketakutan, ketasawufan, dan lain-lain.” Suami-istri perlu belajar tentang kehamilan, menghindari pandangan sempit dan picik dalam lakon perkawinan. 

Pada masa lalu, buku-buku bertema perkawinan, kesehatan, kehamilan mulai disuguhkan ke publik. Pembaca masih sedikit tapi pesan-pesan dalam buku diusahakan disampaikan ke pihak-pihak lain melalui tuturan-lisan. Penulis menemukan buku kehilangan sampul dan identitas buku. Dugaan buku terbit sebelum pemberlakuan ejaan Soewandi (1947). Buku berbahasa Jawa, dilengkapi gambar-gambar. Judul dan nama penulis belum diketahui. Buku dibuka sudah mulai halaman 7.

Kita mengutip dari buku: “Titik-titikan sawatara kang loemrahe dadi pratandane wong wis katoeroenan widji oetawa ngandoet jaikoe: sirah moemet, weteng moenek-moenek krasa tansah arep moetah, terkadang moetah-moetah tenanan. Terkadang awake andredeg, ngrekes, krasa adem panas nanging doedoe adem panase malaria.” Bab meteng mendapatkan pembahasan panjang. Dulu, para pembaca buku diharapkan marem menemukan penjelasan-penjelasan dan gambar, diajak ke pengetahuan modern. Begitu. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s