Pada Masa Lalu, Menjadi Ibu

May Tauri

PADA saat menjadi murid SD, aku tak pernah tahu buku semenarik itu. Sebelumnya, buku hanya berisi kata-kata: ibu, Wati, Budi, bapak. Ada juga buku memuat angka-angka tak bermakna. Di penglihatanku, terdapat juga buku dengan kertas polos tanpa huruf, kata, dan kalimat. Lainnya adalah buku dengan garis-garis panjang atau garis kotak-kotak. Dulunya, buku yang kumiliki hanyalah buku pelajaran atau buku tulis. 

Setiap naik kelas, waktunya mengunjungi toko buku. Bukan waktu yang kusukai. Rak bagian buku pelajaran SD, SMP, dan SMA paling ramai. Ibu sudah menyisihkan uang guna membeli buku untuk empat anaknya. Harus membeli buku pelajaran baru atau guru akan marah. Semua anak takut dimarahi guru kalau tidak membawa buku pelajaran yang diwajibkan. Tak boleh meminjam atau berbagi buku. Sekolah mewajibkan semua anak selalu punya buku baru. 

Buku-buku itu sama sekali tak menarik. Isinya tak kupahami. Banyak kata perintah: perintah mengerjakan ini dan itu. Banyak angka yang harus dihafalkan, angka tanggal kelahiran, angka jumlah bulu leher atau ekor burung garuda, dan angka-angka lain. Ada banyak nama-nama tempat yang tak kukenali. Aku tidak suka buku! Aku lebih suka melamun dan menggambar di halaman belakang buku tulisku saat guru berusaha menerangkan isi buku yang tak ingin kubuka itu.

Aku tidak suka buku! Aku lebih suka melamun dan menggambar di halaman belakang buku tulisku saat guru berusaha menerangkan isi buku yang tak ingin kubuka itu.

Sampai suatu hari, kakak membawa setumpuk buku ke rumah. Umurku sudah delapan tahun. Kakak menyewa setumpuk buku dari sebuah lapak persewaan di pinggir jalan. Hampir tak ada gambarnya. Ukurannya hanya sebesar telapak tangan orang dewasa. Kertas berbau agak apak dan warnanya kuning kecoklatan. Tidak ada yang menarik, seperti buku punya ayah yang ada di rak buku rumah, tidak ada gambarnya. Dulu, ayah pernah membacakan isinya. Katanya cerita tentang nabi-nabi, tapi aku mengantuk dibuatnya. Ayah tak mau lagi membacakan buku karena itu. 

Tapi, kenapa kakak lebih suka membacanya daripada bermain denganku. Gara-gara bosan tak ada yang bisa dilakukan, juga penasaran, kucoba membaca pelan-pelan. Lama-lama aku “tenggelam”, mungkin karena aku tak bisa “berenang”. Buku itu menarikku ke dalam petualangan orang-orang di rimba persilatan. Mulai saat itu aku suka buku. 

Aku memilih menghemat uang saku. Pulang sekolah tidak naik mobil angkutan, tapi berjalan kaki selama satu jam demi bisa menyewa buku-buku. Meminta dibelikan buku cerita? Itu mimpi. Buku adalah barang mewah. Lebih mewah daripada mobil. Mobil bisa memudahkan aktivitas, bahkan bisa menambah penghasilan. Tapi buku, hanya bisa membuatmu bermimpi dan senyum-senyum sendiri.

Mobil bisa memudahkan aktivitas, bahkan bisa menambah penghasilan. Tapi buku, hanya bisa membuatmu bermimpi dan senyum-senyum sendiri.

Aku jadi mengenal berbagai jenis buku dan majalah. semua berkat lapak persewaan. Aku selalu membawa buku bacaan. Di balik buku pelajaran kusembunyikan buku bacaan itu. Semua orang melihatku khusyuk belajar. Kalau main ke rumah teman yang kucari adalah majalah. Majalah Bobo dan Ananda adalah favoritku. Saat ujian kelulusan SD, semua teman konsentrasi membaca buku pelajaran sambil menunggu bel masuk berdentang. Aku menyembunyikan Kho Ping Hoo di balik buku IPS. Tak ada yang menggangguku membaca. Semua orang melihatku belajar. Saat ujian kelulusan SMP, aku menyembunyikan Musashi di balik buku IPA. Aku sangat menyukai kisah, sangat menyukai cerita. Tenggelam dalam setumpuk seri Kho Ping Hoo, Laura Ingalls, Noni, Pulung, Taiko, Lima Sekawan, atau Agatha Christie, membuatku bisa melarikan diri dari masalah. Masalah karena tidak paham isi buku pelajaran sekolah. 

Pada suatu hari, aku malah tidak sadar kalau guru berdiri di samping meja. Buku pelajaran begitu membosankan dan Trio Detektif begitu menggoda, sampai-sampai aku tidak sabar untuk langsung membacanya saat jam pelajaran geografi. Aku baru sadar saat suara kemarahannya menggelegar mengejutkan tidak hanya aku, tapi seluruh isi kelas. Orang tuaku harus datang menghadap kepala sekolah. Mereka menganggap aku tidak sadar pentingnya sekolah, mendengarkan guru dan mengikuti pelajaran. Buku telah menghilangkan kesadaranku.

 Trauma terhadap buku sekolah begitu dalam. Sampai-sampai saat menjadi ibu, aku memilih untuk tidak menyekolahkan anak. Aku menyisihkan uang untuk membeli buku. Kalau tidak ada uang, aku memilih meminjam buku. Aku bacakan buku sejak di kandungan. Anakku jadi pemakan buku. Harus ada buku yang dibaca setiap hari! Dia menyelesaikan bacaannya dengan cepat. Sampai aku kebingungan, buku apalagi yang bisa aku hidangkan. 

Anakku jadi pemakan buku. Harus ada buku yang dibaca setiap hari! Dia menyelesaikan bacaannya dengan cepat. Sampai aku kebingungan, buku apalagi yang bisa aku hidangkan.

Kata seorang penulis, peminjam buku lebih kejam dari pembajakan. Bisa jadi aku memang kejam. Aku peminjam buku sejati. Sejak kecil aku pinjam buku di perpustakaan sekolah atau di persewaan-persewaan pinggir jalan. Sekarang di rumah-rumah teman. Tanpa buku-buku yang kupinjam itu, aku akan merana dan kesepian. Buku adalah penyelamat. Kalau aku dianggap lebih kejam dari pembajak, tak apalah. 

Buku tak berdiri sendirian. Dia butuh diperbincangkan. Buku tak hidup hanya dibaca. Aku baca beratus buku, tapi semuanya tak berbekas. Seperti angin yang hanya lewat, menyentuh sesaat sudah itu lenyap. Tapi buku itu hidup sampai lama saat aku mengeluarkannya dari lembaran-lembaran kertas. Mempertemukannya dengan buku-buku lain, melayarkannya dalam perbincangan-perbincangan di meja makan. 

Sekarang, anakku punya teman bicara. Ia menceritakan isi buku yang dibacanya. Membahasnya bersama. Aku berharap buku akan hidup bersamanya.


May Tauri, ibu ketergantungan buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s