Peninggalannya

Ayenni Afriyani

Judul : Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang. Penulis : Luis Sepúlveda. Penerjemah : Ronny Agustinus. Cetakan : Oktober 2020. ISBN : 978-602-0788-06-7. Penerbit : Marjin Kiri. Tebal : v + 90 hlm 

SEMINGGU sebelum Hari Buku Sedunia 2020, kabar duka menghampiri para pembaca buku di Indonesia. Sastrawan asal Cile, Luis Sepúlveda, meninggal dunia karena Covid-19. Ia sudah meninggalkan dua buku yang diterjemahkan oleh Penerbit Marjin Kiri. Buku yang pertama, Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta (2017). Kita boleh mengira buku ini cukup diminati karena sudah cetak ulang kedua. Pembaca bisa berharap buku itu cetak ulang ketiga. 

Pada Oktober 2020, penerbit masih mau mengenalkan gubahan Luis Sepúlveda, maka terbitlah Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang dalam edisi bacaan untuk anak dan remaja. Sampul buku tidak memerlukan perayaan kalau sudah diterjemahkan lebih dari 40 bahasa dengan beberapa adaptasi ke dalam film dan teater. 

Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang mungkin menjadi peninggalan berharga anak-anak Luis Sepúlveda. Mereka bisa mengingat masa lalu ketika ayahnya mendongengkan tentang kucing peliharaannya. Kedekatan ayah dan anak diantarkan lewat cerita sebelum tidur yang dibuat Luis Sepúlveda. 

Kucing-kucing digambarkan seperti kehidupan manusia; membaca buku, bercakap-cakap, berkonflik, mengkritisi, mengalami perundungan, dan menjalin persahabatan. Dalam wawancara yang termuat di almabooks.com, ia mengaku tokoh Zorbas dan Bubulina adalah nama kucing yang dipeliharanya. Zorba dan Bouboulina, nama juga terinspirasi dari novel Nikos Kazantzakis berjudul Zorba the Greek.

Kisah Zorbas berlatar di Hamburg, sesuai dengan pengalamannya sebagai eksil di sana selama sepuluh tahun. Dalam wawancara yang termuat dalam buku Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta (2017),ia pernah jadi awak kru kapal selama lima tahun. Maka, pikiran pembaca diajak ke dalam kesibukkan kapal-kapal di pelabuhan. Ia juga pernah bergabung dengan Greenpeace pada 1982 untuk menjaga lingkungan hidup. Kepedulian yang dilakukannya termuat dalam buku ini dengan bahasa lugas mengenai pembuangan minyak di laut.

Bahasa Kasih Zorbas

Kehidupan burung-burung camar berlangsung seperti sebelumnya. Bermigrasi musiman untuk persiapan bertelur bagi betina dan menyiapkan sarang bagi pejantan. Jadwal penerbangan mereka menuju langit Biscay. Akan ada seribu camar dan bisa terus bertambah dalam perjalanan itu. Mereka mengikuti perintah camar-camar pilot. Sesekali perintah mengambil haring di laut dengan segera melawan udara dingin dan menceburkan diri. 

Dengan instingnya, mereka dapat mengira bahaya yang mendekat. Pada saat itu, ketidakberuntungan menyergap Kengah, si camar betina. Ia tidak mendengar tanda bahaya. Saat ia sadar dan melihat sekeliling sudah sepi dari kawanannya. Hanya ada minyak lengket menempel di tubuhnya. Ia tahu bukan pertama kalinya camar-camar dipaksa menerima limbah minyak.

Terkadang ia melihat kapal-kapal berbalut pelangi warna-warni mendekati kapal-kapal tanker untuk mencegah membuang minyak. Sialnya kapal itu kadang terlambat, limbah terlanjur sengaja dibuang tanpa memikirkan kehidupan makhluk lain. Kesedihan dan kekhawatiran melingkupi pikiran Kengah sambil terus berusaha terbang, ia sadar jarang ada yang bisa bertahan hidup setelah terkena limbah.

Terbang begitu kuat dan melelahkan mengantarkannya ke hadapan Zorbas, kucing hitam yang diadopsi anak lelaki. Zorbas dirawat dengan kasih sayang dan berpikir kalau anak itu yang paling terbaik. Zorbas menangkap dan memahami  perhatiannya: “Ia punya alasan kuat untuk berpikiran demikian tentang anak lelaki itu, yang bukan cuma menyisihkan sebagian uang sakunya untuk cemilan-cemilan kucing yang lezat, tetapi juga menjaga bak pasir tempatnya buang air agar selalu bersih. Anak itu juga mengajarinya dengan mengajaknya bicara mengenai hal-hal penting.” Zorbas pun merasa punya utang nyawa karena sewaktu kecil pernah hampir dilahap burung pelikan sebelum akhirnya diselamatkan.

Barangkali pengalaman yang hampir merenggut nyawa Zorbas menjadikannya menularkan kasih sayang untuk Kengah yang sedang dirundung kepayahan. Dalam buku Lima Bahasa Kasih untuk Anak-anak (2000) gubahan Gary Chapman dan Ross Campbell, dapat digambarkan bahasa kasih Zorbas akibat meniru hal-hal yang diterimanya, berupa bahasa kasih sentuhan fisik, waktu berkualitas, hadiah, dan layanan. Kesemuanya pun akan ditularkan Zorbas ke anak Kengah.

Kucing biasanya panik dan melompat kalau sesuatu tetiba muncul. Zorbas sama sekali tidak melakukan itu. Ia justru menyapa Kengah dengan kalimat ramah dan tenang. Ia pun membantu membersihkan minyak yang sangat bau dan menjijikan di tubuh Kengah dan membuat janji untuk merawat telurnya dari menetas sampai mengajarinya terbang. Sangat kontradiktif, seekor kucing akan merawat piyik camar. Tapi itulah yang ingin disampaikan Luis Sepúlveda dalam wawancaranya, menyatukan dua karakter yang sangat berbeda. Ia ingin menunjukkan walaupun berbeda, tetap bisa saling memahami perasaan dan memiliki kepedulian.

Zorbas kebingungan dihadapkan pada camar sekarat. Kemudian pembaca dihadirkan kucing-kucing lainnnya dengan karakter unik dan kocak. Kucing pertama yang ditemui Zorbas adalah Kolonel, seekor kucing tua yang memiliki bakat memberi nasihat untuk kucing dalam masalah. Seperti manusia yang kebingungan mencari nasihat pada tetua. Meski berpengalaman belum tentu bisa menyelesaikan masalah. Dengan kesadaran Sectario, asisten kolonel, ia sarankan pergi kepada si kucing profesor yang barangkali lebih tahu. Sebab, kebiasaannya mencari solusi dari ensiklopedia.

Keempat kucing itulah yang akan merawat piyik camar bernama Fortuna. Penggambaran kerja sama antarkucing begitu jelas, di samping adanya karakter kucing dan tikus begundal yang kerap menganggu. Menambah kesan pada kehidupan manusia yang tidak selalu mulus dalam berencana. Fortuna tumbuh cepat hingga mereka dihadapkan hal sulit, mengajarinya terbang. Hanya mengandalkan teknik terbang dari buku-buku tidak cukup dan selalu gagal. 

Imajinasi Anak-anak

Dalam proses pembuatan buku ini, Luis Sepúlveda tidak melewatkan bagian terpenting. Isi cerita yang dibuat akan dimintai komentar anak-anak. Ia bilang dalam wawancaranya yang termuat di almabooks.com: ”Saya membacakan bagian-bagian buku untuk mereka dan menunggu komentarnya. Komentar mereka sangat menolong,karena tidak ada yang lebih sulit dibandingkan menulis cerita untuk anak-anak. Mereka punya imajinasi murni, surealis, dan menyukai bahasa tanpa ambiguitas tapi puitis di saat yang sama. Saya memutuskan buku sudah siap ketika camar berani terbang ditemani Zorba!”

Mereka dihadapi kebingungan dalam memenuhi janji. Ide paling berisiko dalam kehidupan kucing pun dipilih. Melanggar pemali dengan meminta pertolongan manusia. Manusia mana yang percaya kalau kucing mengeong dalam bahasa manusia? Apalagi meminta bantuan mengajari camar terbang! Itulah yang dikhawatirkan akan nasibnya kelak: “Hampir pasti mereka akan mengurungnya dalam sangkar untuk menjalani segala macam percobaan bodoh, sebab manusia secara umum tidak mampu menerima bahwa makhluk yang tidak sama seperti mereka bisa memahami mereka dan mencoba ingin dipahami.” Sebuah sindiran keras untuk manusia.

Kisah Zorbas pantas menjadi referensi perayaan imajinasi untuk memahami karakter manusia dari karyanya. Dari sekian daftar manusia, tibalah keputusan mereka memilih satu yang paling tepat. Si penyair yang memelihara Bubulina. Boleh jadi sebagai penyair ia mempunyai imajinasi yang berbeda. Zorbas seakan paham sifat penyair dari sajaknya: “Mungkin ia tidak tahu caranya terbang dengan sayap burung, tetapi saat mendengarnya aku selalu ingin terbang dengan kata-katanya.”

Kata-kata itu mengantarkan Fortuna terbang. Makna terbang bagi Zorbas adalah kehilangan. Suasana melankolis menyergap ketika Fortuna pergi ke habitatnya. Kesedihan sudah pasti ada di dalam setiap perpisahan. Tapi yang lebih bahagia adalah tidak menahan Fortuna untuk tetap tinggal bersama. Mengingat Fortuna begitu bahagia pada ucapan terakhirnya: “Aku terbang! Zorbas! Aku bisa terbang!” Ia berteriak girang di angkasa.


Ayenni Afriyani, pembaca buku-buku sastra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s