Di Pantai, Kehidupan dan Kematian

Susantini

MOMEN paling diingat saat sekolah bukanlah rumus dan teori yang diajarkan tiap hari, melainkan piknik. Acara yang tidak memengaruhi prestasi sekolah tetapi selalu diagendakan oleh sekolahan. Alternatif yang sering dijadikan tempat wisata sekolah adalah museum dan pantai. Museum tetap membosankan untuk sebagian siswa, yang mengartikan piknik adalah senang-senang. Pantai di Bali dan di Jogja sering menjadi pengenalan wisata bagi para siswa. Pantai di Indonesia memiliki hierarki. Pantai di Jogja terkesan untuk kelas bawah dan Bali untuk kelas menengah.

Bagi masyarakat urban, pantai menjadi pilihan tempat berekreasi dan istirahat. Mersault, tokoh dalam novel The Stranger (1989) karangan Albert Camus, adalah seorang pekerja kantoran di kota, yang menikmati setiap hari Minggu-nya di pantai, yang tidak jauh dari kota. Pantai, bagi Mersault, seperti kawan dalam berkeluh kesah. Setiap pikirannya gundah, entah dari pekerjaan atau masalah keluarga, ia melarikan diri ke pantai. Seperti di awal cerita saat dia langsung pulang setelah pemakaman ibunya. Ia tidak meratapi kesedihan itu di tempat tidur atau ruangan gelap. Ia melarikan diri ke pantai. Bagi orang lain akan dianggap aneh, bisa-bisanya saat ibunya meninggal ia malah bersenang-senang. Seperti dalam persidangan Mersault, jaksa menuduh, “Gentlemen of the jury, the day after his mother’s death, this man was out swimming, starting up a dubious liaison, and going to the movies, a comedy, for laugh. I have nothing further to say.

James J. Spillane dalam buku Pariwisata Indonesia: Siasat Ekonomi dan Rekayasa Kebudayaan (1994) menjelaskan, para pekerja industri semakin merasakan sebuah kebutuhan berwisata untuk leisure time. Leisure merupakan bagian dari kerja yang berarti pengembalian energi, yang nantinya akan dipakai untuk bereproduksi kembali di kemudian hari. Hal ini mungkin yang dirasakan oleh Mersault saat memutuskan ke pantai setiap hari Minggu atau libur. Menormalkan diri dari kebisingan, keresahan, kepadatan manusia dan gedung di kota. Saya membayangkan kota dalam novel The Stranger mirip Jakarta saat ini. Kota yang padat, berisi bangunan angkuh, bising, kemacetan namun tetap diburu untuk beradu nasib.

Pantai dengan suara ombak yang membanting diri di bebatuan, warna laut yang biru tak berujung, langit yang tak ternodai awan serta keriangan matahari yang begitu cerah menjadi tempat yang menawarkan pemandangan elok, memanjakan tubuh dan pikiran. Sebagian turis asing yang datang ke pantai Indonesia malah ingin memanggang kulit mereka agar kecoklatan. Ada juga yang ke pantai hanya ingin minum air kelapa karena melihat iklan atau gambar pantai dan kelapa muda sudah menjadi satu paket yang harus dicoba. Keramaian ini membuat negara dan swasta melirik sebuah peluang untuk dijadikan industri pariwisata. Berdirilah bangunan seperti hotel di sekitaran pantai, muncul para pedagang lokal mulai dari makanan dan pakaian khas daerah tersebut. 

Di pantai, kita tidak hanya menemukan keindahan dan kesenangan. Mengingat kembali kisah Mersault, di pantai ia melakukan kejahatan besar yang menjadi titik balik jalan hidupnya. Kita juga menemukan kejahatan lain terhadap pantai dan laut, seperti banyaknya sampah yang menumpuk di pantai. Beberapa bulan lalu, terbaca berita-berita mengenai Pantai Kuta rusak keindahanya karena sampah berserakan. Pantai Kuta menampilkan pemandangan sampah. Namun orang-orang yang membuang sampah tidak menyadari bahwa itu kejahatan, bahkan bisa membunuh biota laut. 

Bagi Carlos Brauer, tokoh dalam novel Rumah Kertas (2016), pantai menjadi tempat penghukuman bagi dirinya. Ia seorang manusia buku, yang hidupnya hanya untuk buku, memutuskan mengecor buku-bukunya di gubuk miliknya yang ada di pinggir pantai. Cerita yang tragis, “Buku itu melunak di bawah siraman hujan, lunglai ke batu pualam, luruh ke dalam kematian yang hening dan lambat laksana kapal memasuki dermaga perlahan-lahan. Sekali lagi kubayangkan Carlos Brauer dicekam rasa sangsi, mencoba mengingat-ingat di mana persisnya buku itu berakhir dalam tembok yang dilabur putih itu, meraba-raba permukaan kasar itu dengan membuta, berharap getaran jarinya bisa mengingatkan di mana ia menaruhnya, menempel ke buku lain.”

Pantai bisa menjadi tempat romantisme bersama pasangan, kawan dan keluarga. Namun juga bisa menjadi menakutkan dan berbahaya, seperti bencana alam dan kejahatan. Ia juga menjadi sumber penghidupan dan penghukuman umat manusia. 


Susantini – penjaga Toko Buku Susano

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s