Kemeranaan di Desa

Bandung Mawardi

INDONESIA diceritakan dari kota-kota, setelah kedatangan bangsa-bangsa asing mencipta kolonialisme berarti membentuk dan memajukan kota-kota. Di sana, politik dan bisnis bergerak dengan capaian-capaian besar. Desa-desa mulai dipatuhkan dari struktur kekuasaan selalu berpusat di kota. Kolonialisme di kota-kota kadang membingungkan dalam mengetahui nasib Indonesia. Kota-kota dikuasai dan diperintah dengan nalar-imajinasi kemodernan biasa meredupkan kekhasan-kekhasan lawasan. Situasi disempurnakan dengan kemeranaan desa-desa. Di kalangan pejabat dan sarjana kolonial, desa-desa dimunculkan dalam buku-buku pelajaran dan cerita sejak akhir abad XIX untuk membimbangkan modernitas dan keluhuran-keluhuran termiliki dari para leluhur. Kebijakan-kebijakan itu perlahan berubah dan “diteruskan” setelah Indonesia merdeka.

Kisruh memahami desa dan kota makin menguat saat Indonesia berlakon revolusi. Pada masa 1950-an, pemerintah dan penerbit-penerbit partikelir rajin menerbitkan buku-buku mengenai desa. Di situ, penjelasan pertanian, keluarga, kesehatan, makanan, dan lain-lain perlahan menempatkan desa penting dalam pembuatan kebijakan-kebijakan besar. Desa tetap dalam posisi “direndahkan” dan terperintah berurusan kekuasaan. Di luar pematuhan, desa-desa memiliki “kodrat” telanjur dipahami dengan segala keminderan, kelawasan, kelemahan, dan kekolotan.

Acuan mengetahui nasib desa berkaitan keluarga bisa terbaca dalam buku-buku cerita gubahan para pengarang Indonesia. Buku-buku mengandung petunjuk pemerintah atau kritik-kritik atas kebijakan-kebijakan sulit mujarab. Ratusan judul buku mungkin ingin mengisahkan keluarga-keluarga di desa hampir realis. Pola itu ditiru pada masa Orde Baru dengan “perintah” mematuhkan desa dan membentuk keluarga-keluarga membenarkan pembangun  nasional.

Nah, kita menepi dulu dari buku-buku memiliki pembaca disasar mendapat pengaruh-pengaruh ideologi, dari masa ke masa. Kini, kita memilih buku cerita saduran berjudul Talu Anak Desa (1951) oleh Sjair, diselenggarakan Penerbit Buku Tehnik, Jakarta. Sumber saduran berjudul Talu de Dessajongen gubahan S Franke. Pengisahan keluarga miskin, mendapat nafkah dari menggarap sawah dan berjualan di pasar. Keluarga ingin bernasib baik setelah melihat nasib keluarga-keluarga lain termiskinkan oleh teknik pertanian sederhana dan bencana. Desa sulit diakui tempat terindah dan terbaik dalam penghidupan. Pembaca disodori kelemahan dan kesalahan hidup di desa. Kita simak kutipan dalam buku. 

“Ah, djanganlah bersusah hati benar, Ibu! Apakah jang tidak kamu ketahui?”

“Aduh, Pak. Sekarang anak laki-laki tidak tinggal didesa seperti pada masa dahulu. Perhatikanlah Sarimono dan Saidi! Tiap-tiap orang berpikir, bahwa mereka akan bekerdja disawah bersama-sama dengan orang tuanja. Dan apakah jang terdjadi?”

“Ah,” keluh Ajah, “benar, kedua orang anak itu sudah pergi kekota dan menurut pendengaran saja, hidupnja senang disana. Mereka beroleh pekerdjaan jang bagus benar dan sangat bersenang hati.”

“Boleh djadi,” kata Ibu dengan sungguh-sungguh, “boleh djadi tetapi saja lebih suka, kalau anak-anak kita tinggal bersama-sama dengan saja.”

“Itu tergantung kepada hasil sawah kita, Ibu. Sebanjak itu perut jang harus diisi. Saja tidak tahu, mana jang lebih baik, tinggal dikampung atau pergi kekota. Dikota banjak pekerdjaan dan banjak orang diperlukan. Tetapi marilah kita pergi tidur, belum sedjauh itu kedaan kita.”

Percakapan itu disimak Talu, si anak sulung berumur 10 tahun. Ia berjanji ingin setiap hari membantu pekerjaan di sawah tapi orang tua menginginkan ia memiliki hidup baik ketimbang berlumpur. Talu mengerti bertani itu berat, belum tentu menghasilkan beras melimpah dan kecukupan pada bulan-bulan setelah panen. Ia mendengar cerita orang-orang pergi ke kota. Hidup keluarga bisa agak terjamin.

Masa lalu sudah mengisahkan keluarga bakal sulit bila tetap tinggal di desa dengan bersawah. Kota itu jawaban. Duit itu keselamatan. Di desa, sulit demi sulit bakal dihadapi dan mustahil terjawab semua. Bermula dari buku lawas berupasa saduran saja kita memikirkan para pembaca masa lalu diberi ketetapan bahwa kota itu mulia dan desa itu merana. Ketetapan menjadikan keluarga-keluarga di desa wajib membuat keputusan agar anak-turun tak memutuskan tinggan dan bekerja di desa sampai kiamat. Begitu.  


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s