Burgerisasi dan Siasat Ibu

Agita Yuri

PADA tanggal 9 Februari 2021, anakku mencoba memecahkan keheningan, “Bu, aku pengen burger.” 

Apa mau dikata, anakku yang pertama ini sudah terpapar pengaruh burgerisasi. Tapi, bagaimana ya, sejak pandemi aku berhenti bekerja, gaji suamiku ya terpaksa digunting, lalu banyak permintaan anak yang ditangguhkan. Salah satunya burger atau cemilan lain yang kadang dibeli sebelum pandemi di mana semuanya relatif lancar. 

“Burger? Ya,” begitu jawabku singkat.

Lalu, aku berhitung. Kalau satu orang beli burger yang agak enak bisa habis 15 ribuan. Kalau 3 orang, bisa habis segitulah. Hitung sendiri! 

Jadi, aku memutuskan pergi beli tomat, selada, bombay, timun, dan jamur tiram. Lalu, ke swalayan beli mayones. Pas ada promo! Lanjut di warung tetangga, beli Sri Roti yang seribuan itu, beli 5. Total duit untuk berbelanja cuma 22 ribu.

Burgernya juga tidak jadi dalam sehari sih. Hari pertama nyicil bikin saos tomat sendiri. Cuma tomat diblender, ditambah bawang putih, bombay, lada garam gula. Dimasak sampai mengental, tambahkan maizena sedikit, lalu masukkan ke toples kaca bekas selai. 

Hari kedua bikin jamur krispi. Selada, bombay dan timun dipotong-potong sesuai selera. Bentuknya tidak jelas sih, yang penting bisa dimakan. Sri Roti yang per bungkus isi 2, masing-masing  dibelah, dalamnya coklat. Gara bilang  yang  rasa nanas habis. Yowis, gapapa, rasanya “nano-nano”. Yang dibuka tadi 3 bungkus roti untuk 6 burger mini. Tiap roti yang sudah dibelah diisi saos tomat homemade, mayones, bombay, selada, timun, dan jamur krispi. Kedua belahan hati, eh roti, dipertemukan, diplenet sedikit biar saosnya ndledek (keluar sedikit). Dah, jadi!

“Nih, Gara, sudah jadi!”

“Nyuammm, nyam, nyam, enak Bu,” kata Gara.

“Namanya burger apa, Gara?”

“Burger Joss.”

Begitulah cerita pemenuhan keinginan di masa pandemi. Terbayang begitu saja saat saya melihat iklan mayones. Merek inilah yang saya beli untuk membuat burger joss tadi. 

Waktu kuposting cerita burger ini di instagram, ada kawan tak percaya jumlah uang yang saya habiskan hanya 22 ribu. Katanya, masa ada roti bun harga seribu, dan masa ada mayones murah. Lalu dengan santai saya jawab, total belanja dengan sedetail-detailnya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Mayones yang saya beli itu harganya cuma 5.000, sebab sedang harga promo. Ya, jangan berharap mayones dengan kemasan botol kacalah. Ana rega ana rupa. Lha wong kemasannya cuma sachet kecil kok. Kecilnya, ya, seperti yang tampak di iklan majalah-majalah wanita abad XXI. Di iklan ada gambar “keluarga mayones”. Ada bapak mayones yang kemasan pouch paling tinggi, ibu mayones yang pakai wadah tabung sebelahnya, lalu yang paling kecil anak mayones. Yang penting saat itu dalam pikiranku cuma bagaimana membuat senang anak tapi aku juga tenang karena keterbatasan uang jajan menyesuaikan zaman.

Diskon dan program promo adalah satu hal yang paling aku syukuri di masa pandemi ini. Seperti tagline mayones ini: “kaya rasa menambah selera”. Tambah diskon, ya tambah berselera.

Di masa kecilku, sama sekali tidak pernah orang tuaku membeli mayones untuk menambah selera makan. Aku juga mengamati teman-teman dekatku di sekolah, sangat jarang yang membawa makanan berpelengkap mayones pada masa 1990-an. Mayones hanya kutemui saat beli burger di restoran siap saji. Setelah tahun 2000-an, mulai banyak penjual burger-burgeran yang memakai mayones-mayonesan. Rasanya aneh perpaduan asam dan gurih namun kok enak juga dimakan sebagai tambahan bumbu dalam burger atau ayam goreng, juga sandwich, salad dan goreng-gorengan yang lain. 

Anak saya suka mayones. Terkadang saos yang cocok untuk cocolan ini malah dicolek-colek dan dimakan langsung begitu saja olehnya. Sekarang malah banyak produk mayones dengan kemasan lebih kecil lagi, cucu mayones, yang dijual seharga 1.500-2.000. Tidak harus ke supermarket, kios sayur biasa juga banyak. Ya, memang menambah selera rasa gurihnya, tapi apa ya sehat jika sering dikonsumsi? Katanya, kalori dan lemak di dalamnya tinggi lho!

Saya coba membandingkan pengalaman saat bekerja di sebuah vila dengan tamu kebanyakan orang Eropa, pada tahun 2009. Pekerjaan saya sebagai tour leader saat itu. Di waktu luang ketika tidak ada tamu yang menginap, saya sering merecoki para chef di dapur. Saya suka bertanya tentang berbagai resep masakan, salah satunya mayones. Waktu itu salah satu chef mengajari cara membuat mayones: menggunakan minyak zaitun, lemon dan kuning telur, tambah garam dan merica. Semua bahan itu diaduk-aduk sampai menghasilkan tekstur yang pas, tidak terlalu cair atau kental. Kelihatannya mudah saat saya melihatnya, namun ternyata saya tidak berhasil membuatnya. Mungkin karena teknik yang kurang tepat saat memasukkan minyaknya perlahan-lahan atau mengaduknya yang kurang cepat. Saya coba ulangi di rumah, masih gagal. Ah, sudahlah, mikir liyane wae. Pada 2009, mayones yang ada di pasaran masih dalam kemasan besar sepertinya. Saya tidak terpikir untuk membelinya, namun riweuh juga kalau harus membuatnya sendiri. 

Hadirnya mayones kemasan setidaknya cukup menjadi angin segar bagi pelaku bisnis burger kerakyatan: burger dengan harga miring. Tak hanya burger, sekarang itu banyak sekali jajanan apa-apa pakai mayones atau mayo nama bekennya. 


Agita Yuri, ibu suka membuat kliping

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s