Mengerti dan Istimewa

Muhammad Safroni

Kakak beradik harus lebih akrab pada waktu menghadapi kesukaran. Kalian harus berusaha untuk saling memahami, sabar, dan penuh tenggang rasa.

KITA bisa tertegun sejenak. Kalimat di atas merupakan nasihat, tanda kecintaan ayah kepada kedua putrinya. Nasihat yang terbaca dalam novel berjudul Kau Pun Istimewa, Anna. Novel terjemahan dari gubahan Barbara M. Joosse. 

Barbara M. Joosse, seorang penulis berkebangsaan Amerika, yang telah menulis begitu banyak buku anak. Karya-karyanya telah dialihbahasakan ke kedua puluh delapan bahasa. Ia lahir di desa Grafton, Wisconsin, Amerika Serikat  dari pasangan Robert Elmer dan M. Eileen Monnot pada tanggal 18 Februari 1949. Joosse memiliki tiga orang anak: Maaike Sari , Anneke Els, dan Robert Collin. Suaminya berprofesi seorang psikiater. 

Anna, The One And Only terbit pertama kali pada 1988 oleh Arrangement with Harper & Row, Publizer. Inc. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Kau Pun Istimewa, Anna oleh Irina M. Susetyo, diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, 1991.

Cerita bermula dengan berpindahnya keluarga Skoggen ke Egg Harbor karena ayah mereka akan berpindah kerja menjadi redaktur di Door Country Advocate. Egg Harbor adalah sebuah desa di Door Country, Wisconsin, Amerika Serikat. Tokoh utama seorang bocah perempuan bernama Anna. Anna Skoggen, lengkapnya. Dia mempunyai seorang kakak perempuan bernama Kimberly. 

Anna memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Dia terlihat suka tantangan dan ingin mencoba sesuatu yang baru. Ketika keluarga Skoggen pertama kali masuk ke rumah baru mereka. Anna bertingkah. Saat pintu rumah dibuka Anna langsung melesat cepat mendahului yang lain. Bermaksud mencari toilet. Rupanya Anna menahan kencing. Namun, rasa penasaran dan ingin tahunya lebih besar daripada perut sakit saat menahan kencing. 

Dia memutuskan untuk berkeliling. Sampai akhirnya dia berhenti, saat melihat sebuah lorong. Lorong sempit itu menuju keluar, saluran susu. lorong itu tidak terlalu besar. Anna penasaran, dia mencoba memasukkan badannya merangkak ke dalam lorong itu. Ternyata, besar lorong tersebut tak seperti yang diperkirakan. Dia terjebak! Badannya terkunci. Tidak bisa maju dan tidak bisa mundur. Kepanikan pun muncul. Bersamaan dengan itu, dia sedang menahan kencing. Setelah berteriak keras kedua orang tuanya membantu dia keluar. Kedua orang tuanya yang tertawa dengan tingkah lakunya dianggap sebagai ledekan. Dia sangat malu dan jengkel!

Di bagian sampul, kita digoda ilustrasi garapan Gretchen Will Mayo. Tergambar seorang gadis cilik berambut pirang sedang berdiri di depan kelas, tampak percaya diri. Mengenakan baju putih berenda dengan begitu banyak aksesoris bergelantungan di leher dan tangannya, kalung dan gelang. Bisa dikatakan penampilannya terlihat berlebihan. Berlatar papan tulis besar dan sebuah penghapus. Mempertegas ini adalah ruang kelas. Gadis kecil ini bernama Anna. Di dalam novel, adegan ini menggambarkan saat pertama kali Anna masuk sekolah di tempat baru. Anna sengaja berpenampilan seperti anak Minggu agar mendapat perhatian dan pujian. Kita bisa menyimak kutipan panjang berikut. 

Asyiknya pindah ke kota baru, pikir Anna tiba-tiba, adalah bahwa tak seorang pun mengenalku. Anna menggesek-gesekkan kuku ibu jari kakinya yang kasar pada seprai. Zip zip. Tak seorang pun tahu aku sederhana. Tak seorang pun tahu aku tak memiliki piala, atau aku serampangan dan sering mendapat kesulitan. Zip zip. Di kota baru, aku bisa menjadi siapa saja. Zip Zip Zip. Aku tak mau menjadi anak yang dirundung malang lagi. Aku akan menjadi anak Minggu! Aku cantik, bahagia, baik hati, dan periang! Aku bewajah cerah, menyenangkan, dan hebat! Aku begitu hebat hingga semua orang ingin berteman denganku.

Anna melakukan banyak hal dengan berbagai macam kekonyolan bukan tanpa sebab. Dia berusaha mencari perhatian. Anna ingin diperhatikan. Dia ingin kedua orang tuanya bangga dan memujinya. Rasa iri kepada kakak kandungnya selalu muncul. Ingin rasanya Anna menjadi lebih hebat dari kakaknya, Kimberly.

Sungguh tidak menyenangkan bila kita mempunyai kakak yang cantik dan berbakat seni. Sungguh tidak menyenangkan mendengar orang mengatakan “Kimberly begini” dan “Kimberly begitu” sepanjang waktu. Yang lebih tidak menyenangkan adalah waktu Kimberly bersikap manis dan penuh pengertian, tapi… yang paling tidak meyenangkan adalah bila ia bersikap sabar terhadap Anna. 

Kimberly benar-benar manis. Semua orang mengatakan demikian. Itulah salah satu sebab mengapa semua orang menyukainya dan mengapa ia selalu memenangkan penghargaan, seperti Piagam Warga Negara yang Baik. Tapi itu alasan utama Anna tidak menyukainya. 

Kita jeda sejenak. Dalam psikologi, persaingan antarsaudara ini disebut dengan sibling rivalry. Sibling rivalry merupakan kompetisi antarsaudara dalam hal cinta, kasih sayang, dan perhatian dari salah satu atau kedua orangtua atau untuk mendapatkan penghargaan tertentu. Sibling rivalry ditunjukkan melalui beberapa tingkah laku, seperti berperilaku agresif atau resentment (kekesalan, kemarahan, dan kebencian) terhadap orangtua dan saudaranya, memiliki rasa kompetisi atau semangat untuk bersaing, serta adanya perasaan iri atau cemburu dengan mencari perhatian lebih. Apabila sibling rivalry ini tidak dapat diatasi dengan baik, dapat merusak kualitas persaudaraan dan menyebabkan perilaku agresif anak terutama terhadap saudaranya di rumah (Havnes, 2010).

Dalam mengatasi sibling rivalry ini, kita selaku orang tua harus berupaya bijak. Tidak tepat rasanya jika kita membanding-bandingkan anak yang satu dengan lainnya. Masing-masing memiliki karakter berbeda, tentu ada kelebihan dan kekurangan, yang itu merupakan sebuah kewajaran. Selalu berusaha adil. Adil bukan berarti harus sama.

Kita tengok lagi novel Kau Pun Istimewa, Anna. Pada bab berikutnya, Anna terus-menerus mencari perhatian untuk menunjukkan kebolehannya. Berusaha membantu dengan tulus, membuat makanan di dapur untuk keluarga, dan berbagai hal. Dia ingin lebih baik dari Kimberly. Hingga suatu saat ketika di sekolah akan melakukan pestas sandiwara. Judulnya Golden Wishes. Anna pun dengan sangat serius mempersiapkan kebolehannya agar bisa berperan sebagai tukang sihir. Tekad dan usahanya mendapatkan hasil. Dia terpilih berperan menjadi tukang sihir. Banyak ide yang Anna tuangkan di sekolah, agar pementasan bisa maksimal. Dari tata lampu, suasana, dan perangkat panggung lainnya. Termasuk mengusulkan bagaimana tukang sihir masuk seolah terbang ke tenggah panggung.

Kesialan pun terjadi. Pada hari yang Anna tunggu-tunggu, hari pementasan sandiwara, Anna mendapatkan musibah. Karena tergesa-gesa ingin mengejar bis sekolah, Anna turun dari lantai dua rumahnya tidak melalui tangga. Pikirnya, lewat ranting pohon itu lebih cepat. Tak di sangka, ranting pohon tak kuat menopang badannya. Akhirnya, Anna jatuh dan tangannya patah.

Peristiwa ini sangat memukul dirinya. Bukan karena sakit yang dirasakan, tapi dia akan gagal menunjukkan kebolehannya berakting di depan kedua orang tuanya. Tekadnya ingin menunjukkan kebolehannya melebihi Kimberly pun kandas. Anna sangat kecewa. Peran tukang sihir digantikan kakaknya, Kimberly

Ada dialog menarik di akhir bab. Dialog ini menunjukkan bahwa kecemburuan pun selalu terngiang pada diri Kimberly. Dia iri pada kebisaan Anna. 

Tidak, kalau aku melakukan ini, semua orang akan bertanya mengapa. Lalu, aku harus menjawab bahwa aku takut. Ibu dan ayah akan kecewa padaku. Lalu, mereka akan berkata, “Oh, Kimberly! Kau harus mencontoh Anna. Anna selalu ingin mencoba semuanya. Anna adalah petualang sejati.”

“Anna punya banyak gagasan bagus! Dia begitu kreatif! Anna begini, Anna begitu. Aku tak tahan lagi.” 

Anna baru sadar bahwa kehadiranya dalam keluarga pun diakui. Orang tuanya selama ini bangga padanya. Tidak harus seperti Kimberly. Dia diakui sebagai dirinya sendiri.

Pada saat membaca novel ini, pikiran tertuju kepada kedua putri saya: Najwa Asylah Hasna dan Hafsa Amanina. Selisih usia mereka sekitar 3 tahun. Saat ini keduanya mengenyam pendidikan di SD. Acapkali mereka bertengkar. Berebut perhatian! Melakukan kekonyolan-kekonyolan yang tekadang membuat kita terpancing emosi. Novel ini tidak hanya tepat dibaca anak-anak dan remaja. Tetapi, juga orangtua yang sedang dalam proses mendidik anak. 

Detail-detail perilaku orangtua pada novel bisa dijadikan referensi dalam bersikap. Setiap anak menginginkan perhatian. Mereka butuh kasih sayang. Senang dengan momen kebersamaan. Dekapan dan pelukan yang kita anggap biasa saja ternyata membuat mereka merasa nyaman. 


Muhammad Safroni, peminat bacaan anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s