Kenikmatan Es Krim

Bandung Mawardi

AH, ratusan kali, Pak Kabut melewati toko dengan tulisan “Es Krim Tentrem, Buka Sejak 1953”. Di Solo, toko itu mungkin tertua dalam pembuatan dan hidangan es krim. Pada saat berhenti di bangjo, mata melihat ke kiri jalan. Di situ, orang-orang memanjakan diri dengan es krim. Pada saat siang panas banget, Pak Kabut menengok tanpa bisa berimajinasi kenikmatan es krim. Pak Kabut makin bingung dengan es krim abad XXI. Dulu, ia cuma mengerti es dungdung. Penjual keliling kampung sambil memukul alat musik: dung, dung, dung. Sejak kecil sampai tua, ia pun jarang membeli es dungdung. Kini, ia kebingungan mengartikan es krim, sulit menikmati atau ketagihan.

Es krim teringat saat mengetahui Abad, Sabda, dan Bait memiliki uang. Lebaran menjadikan mereka berduit. Nah, berkumpulah dengan para keponakan! Persaingan selera terjadi dalam rapat untuk membeli es krim. Mereka tahu peta atau toko-toko menjual es krim, selain menunggu mobil keliling menjajakan es krim. Pengetahuan telah termiliki. Hari demi hari, mereka terbiasa dengan es krim beragam nama dan rasa. Pak Kabut susah mengikuti kemauan dan kemanjaan mereka. Bait, bocah 5 tahun, malah sering memberi khotbah dan mengejek Pak Kabut. Bait lebih mengerti es krim. Pada saat mereka berduit, rapat bermanjaan es krim sulit dibantah kaum tua. Pak Kabut sungkan mengganggu rapat seru. Duit dan es krim!

Pak Kabut jarang memberikan uang untuk membeli es krim. Abad, Sabda, dan Bait berhak menuduh Pak Kabut pelit. Mereka belum mengetahui Pak Kabut tak menemukan argumentasi rasional kenikmatan es krim. Pak Kabut memang manusia sulit, manusia dari Abad Pertengahan. Urusan makanan dan minuman sering telat atau babarblas tak mengerti. Bu Ririn memilih bersekutu dengan mereka. Empat orang penikmat es krim biasa mengiming-imingi Pak Kabut. Makan es krim diklamuti itu puitis. Pak Kabut memilih disendoki tapi agak kerepotan saat masuk ke mulut. Kenikmatan es krim tetap saja belum terbuktikan.

Pak Kabut kadang iri dengan Franz-Magnis Suseno dan Sartono Kartodirdjo. Dua intelektual itu sanggup menikmati es krim. Terduga saja kenikmatan es krim tak jauh dari kenikmatan membaca tulisan-tulisan mereka. Pak Kabut lupa nama es krim kegemaran dua orang telah memberi pengaruh besar dalam urusan pengetahuan, sejak remaja sampai sekarang. Franz-Magnis Suseno berasal dari Eropa, memiliki kebiasaan menikmati es krim telah lama. Sartono Kartodirdjo lahir dan besar di Jawa. Ia mungkin mula-mula menganggap es krim berasal dari negeri asing. Sejarawan itu menikmati saja, tak ada pamrih mau menulis sejarah es krim di Jawa dinikmati kalangan bangsawan, priyayi, atau elite-terpelajar.

Eh, pada masa 1950-an, terbit buku berjudul Membuat Ice Cream Modern susunan Nona H Kwee. Buku terbitan Sunrise, Jakarta. Penjelasan: “Tetapi kini di Indonesia kita dapat membikin serupa alat ice cream tanpa putar dan tanpa stroom listrik, ialah bus ice cream modern jang harganja hanja beberapa ratus rupiah sadja! Dengan adanja alat modern ini, ialah bus ice cream modern, maka di kota-kota besar di Indonesia kaum wanita sibuk mempeladjari tjara membuat ice cream setjara modern. Kegemaran akan membuat ice cream sendiri sudah mendjalar djuga pada kaum pria. Tidak sedikit orang laki-laki jang taruh perhatian atas pendapatan baru ini.” Es krim untuk perempuan dan lelaki. Pak Kabut mengangguk. Benar!

Pada suatu hari, Pak Kabut membaca majalah Kartini edisi 11-24 Juli 1988. Di situ, Pak Kabut menemukan iklan: Campina. Oh, es krim! Pemandangan es krim methungkruk, selain es krim dalam bungkusan plastik dan kotak. Pak Kabut membaca saja: “Lezatnya, nikmatnya, mutunya… tiada dua. Memang, silahkan anda buktikan ice cream Campina begitu nikmat terasa di lidah, halus dan segar.” Pak Kabut tak berjanji mau membuktikan dengan membeli dan menikmati saat Lebaran. Bocah-bocah sudah berpesta es krim. Pak Kabut tak mau sekaum dengan mereka, memilih manja saja dengan membeli buku baru. Buku itu lezat. Begitu. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s