“Istriku” dan Doa Panjang

Aryani Wahyu

PERTEMUAN memang tak ada yang tak disengaja. Aku yakin Tuhan telah mengaturnya dengan epik. Pun termasuk pertemuanku dengan mantan kekasihku yang sekarang 7 x 24 jam menemaniku, merawat bersama buah hati kami. Menyadari kami tak semuda kala itu untuk mengumbar kata-kata penuh rayuan. Namun, jika aku mau memperhatikan keseharian kami, ternyata romantisme kami sudah berubah. Kata sederhana menjadi sangat “dalam” maknanya ketika diucapkan dan dipikirkan berulang-ulang. 

Suamiku sering mengucap kata “terima kasih istriku” atau “i love you istriku”, di sela segala kegiatan kami. Kata yang membuatku selalu bergetar adalah kata “istriku”. Entah, mengapa kata itu seperti kata sakti. Kata legitimasi bahwa dia tak hanya memilikiku tapi pun sebaliknya, aku memilikinya secara utuh. Terdengar sederhana, namun makna luar biasa untuk kesegaran jiwa dan ragaku. Ini melebihi vitamin kekebalan apapun di dunia. Bahkan ini vaksin paling ampuh di masa Covid-19, membuat hormon endorfinku berkembang biak dengan baik. 

Terdengar sederhana, namun makna luar biasa untuk kesegaran jiwa dan ragaku. Ini melebihi vitamin kekebelasan apapun di dunia. Bahkan ini vaksin paling ampuh di masa Covid-19, membuat hormon endorfinku berkembang biak dengan baik.

Kata “istriku” sering diucapkan  Shi Han Wen dalam serial film Cinta Terlarang Siluman Ular Putih yang Melegenda. “Legenda Ular Putih”, sebuah serial yang cukup legendaris pada masa 1990-an. Tepatnya, 1993. Serial Mandarin yang memiliki judul asli New Legend of Madam White Snake ini ditayangkan di salah satu stasiun televisi ternama. 

Kawan seangkatan yang paham film itu akan menertawakan kami ketika mendengar suamiku menyebutkan kata “istriku” tatkala sedang memanggilku. Sontak terbahak dan mencibir kami. Namun itu tak membuat suamiku menjadi minder. Justru dia bilang memang itulah sebutan sayangnya untuk ibunya anak-anak. 

Namanya rumah tangga pastilah tak semulus paha seorang model. Tak selancar jalan tol. Semua ada kerikil meski kecil, maupun batu sebagai sandungan dan loncatan. Pertengkaran kecil maupun besar acap terjadi. Pun dengan kami. Pertengkaran besar bisa dihitung dengan jari saja selama sudah enam tahun menjalani bahtera rumah tangga ini. Doa kami semogalah hanya perselisihan kecil dan ora mutu saja yang akan kami lewati. Sehingga, cukup bisa diatasi dengan senyum dan tawa bersama. Kami memang jarang bertengkar meributkan sesuatu hal. Hampir setiap hari, suasana rumah meskipun mungil dan sederhana selalu diisi gelak canda yang dipantik suamiku. 

Jika ditanya, hal apa yang paling membuatku semakin menyukainya, dari hari ke hari? Akan kujawab ketika dia mengucap kata “istriku”. Dia masuk kategori pria tidak romantis. Tapi, sisi romantisme dia terletak tatkala bibirnya mengucap kata “istriku”. Kata sakti yang mampu membuatku menjadi semakin menjadi bucin (budak cinta). 

Dia cenderung suka jahil kepada kami: anak dan istrinya. Tapi, aku bahagia hidup bersamanya. Meskipun kehidupan kami dapat digolongkan tidak mewah, namun kami merasa “cukup”. Segalanya dicukupkan oleh Tuhan. Lika-liku tak punya uang pun ada. Meski acapkali kita ketarketir tak ada uang di kantong, namun suamiku adalah orang yang selalu meyakinkan aku bahwa tak perlu khawatir soal rezeki. Tuhan sudah berjanji untuk memenuhinya. Keyakinannya yang di awal pernikahan kami dulu sering membuatku gamang. Namun, pandemi ini membuatku semakin bisa menerima dan legowo apa yang dikatakan suamiku. Karena terbukti, dari kejutan-kejutan yang Tuhan berikan setiap harinya dalam kehidupan rumah tangga kami. 

Kami sering menertawakan ketidakpunyaan kami. Menertawakan barang-barang kebutuhan rumah tangga yang habis. Bersenandung bersama dengan suara peringatan listrik yang mau habis. Semua seperti sudah di-pas-kan Tuhan. Pas dapat orderan pepes, misalnya, kok ya pas gas abis. Pas dapat orderan menatah kayu, nantinya, pasti pas harus mengisi galon air atau nempur beras. Tuhan memang mengaturnya dengan sangat sempurna. Inilah rumah tangga. Kata “istriku” kembali menguatkanku ketika dia menepuk bahuku sambil bilang: “Sabar, ya, istriku.” Seketika permasalahan segala kehabisan tadi menjadi sirna. 

Kembali kusadari kekuatan kata “istriku” dari Pak Sugeng. Tentunya, dia bukan makhluk Tuhan yang sempurna. Tapi, dia mampu menjadi idola, setidaknya untuk anak dan istrinya. Ketekunannya dalam hal apapun yang acapkali membuatku kagum. Tak tanggung-tanggung, dia pun acapkali terjun ke pekerjaan rumah tangga: menyapu, mengepel, mencuci piring, dan mencuci baju kami. Dia tak mempermasalahkan ini pekerjaan yang ada kaitannya dengan gender. Karena, aku yakin dia melakukan itu bukan atas dasar takut dengan istri. Namun, dia suami yang paham sunnah dan tahu ilmu dalam berumah tangga. Dia pernah berkata kepadaku: “Istriku, aku tidak bisa melahirkan, dan ikut membantumu mengurangi kesakitan pascamelahirkan. Namun, aku bisa membantumu meringankan pekerjaan rumah, sehingga kamu bisa beristirahat lebih lama.” Seketika melelehlah hatiku. Lumer seperti es krim yang hendak mencair. Kembali, aku jatuh cinta kepada suamiku. 

Istriku, aku tak bisa melahirkan dan ikut membantumu mengurangi kesakitan pascamelahirkan. Namun, aku bisa membantumu meringankan pekerjaan rumah, sehingga kamu bisa beristirahat lebih lama.

Dia memang tidak masuk kategori pria tampan dengan tubuh atletis. Tapi, dia tetaplah pria manis yang mampu menggetarkan hatiku. Membuat hari-hariku berirama. Janji kami adalah tetap menjadi manusia yang asyik hingga nanti kami membesarkan anak-anak, menyekolahkan, menikahkan hingga merawat cucu-cucu kami. Doa yang sangat panjang. Doa emak-emak yang ingin selalu bersama. 

Semoga kekuatan kata “istriku” mampu meneguhkan dan membawaku tetap menemani suamiku dalam keadaan apapun, hingga kami mampu menyelesaikan tugas kami di dunia dengan baik. 


Aryani Wahyu, ibu dan pengusaha yang suka baca tulis.

FB: Aryani Wahyu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s