Pengabdi Sinopsis

Sekar Mayang

“PADAHAL, di KBBI terpampang jelas definisi sinopsis. Ini kenapa malah berakhiran dengan tanda tanya? Ada apa, sih, dengan otak orang-orang ini? Kurang bacaan atau kurang kasih sayang sebenarnya?”

Kira-kira begitulah ocehan yang muncul di otak saya ketika menerima naskah dengan sinopsis rasa blurb. Tidak hanya satu atau dua kali, tetapi berkali-kali. Sampai pada titik saya memutuskan untuk melampiaskan kekesalan melalui hasil ulasan kelayakan terbit.

Segitunya, Bun.

Apakah Dez dan Em bisa menemukan jalan pulang?

Bisakah Atun mengembalikan rasa yang dulu pernah ada terhadap Karyo?

Mampukah Markonah memaafkan kesalahan Maemunah?

Semuanya bukan variabel pembentuk sinopsis. Itu khas blurb—narasi di sampul belakang sebuah buku, media promosi yang memberi gambaran calon pembaca terhadap karya tersebut.

Sinopsis seharusnya utuh. Tidak cuil di belakang. Tidak bolong di ujung. Namun, yang banyak terjadi justru cuil dan bolong itu yang dianggap benar. Seorang teman sampai minta dibuatkan tutorial menulis sinopsis. Oh, Gusti. Ke mana saja mereka ketika mata pelajaran bahasa Indonesia berlangsung?

Dan, tahu apa yang membuat saya lebih ingin salto lagi? Mereka selalu menempatkan sinopsis di tempat yang salah.

Saya pernah membuat sebuah ulasan novel. Pulang, punya Leila S. Chudori. Seorang sahabat protes. Katanya, kenapa saya tak menyertakan isi cerita bukunya (baca: sinopsis)? Loh, ini ulasan novel, bukan kelas mendongeng. Kalau mau tahu isi bukunya, ya, belilah. Atau pinjam ke perpustakaan, atau ke teman (yang saya yakin akan berat hati meminjami sebab kau adalah teman rasa saudara), atau nodong pacar untuk belikan (yang mungkin setengah tak ikhlas sebab harga buku setebal Pulang setara nyaris sepuluh kilogram beras).

Seekor ikan tidak seharusnya ditempatkan di gurun pasir dan seekor kambing gunung tidak seharusnya hidup di samudra.

Mereka mencari-cari sinopsis pada sebuah ulasan novel, tetapi tidak menyertakannya dengan baik ketika mengirim naskah ke penerbit. Lalu, jika naskah yang mereka anggap baik dan benar serta indah menawan itu tidak lolos saringan, curahan hati colongan akan segera terbit di dinding, mengundang cecak-cecak merapat sembari berburu nyamuk. Dan, kepada sebuah ulasan novel, mereka berharap mendapat banyak pencerahan sehingga tidak perlu lagi membeli atau meminjam bukunya. Kalau sudah begitu, antara hemat dan pelit itu beda tipis, ya, Bun?

Ah, intinya, mereka tak punya nyali untuk menggauli kata-kata dengan intim.

Kenapa, sih? Menggauli itu enak loh. Sensasi yang kalian dapat akan bulat sempurna seperti tahu yang digoreng dadakan di atas mobil pikap. Sinopsis mungkin mengandung keajaiban micin, tetapi membaca bukunya dengan utuh akan memberi kalian bumbu genep layaknya ayam betutu. Micin mungkin tidak akan membuatmu bego, tetapi jelas perlahan akan mematikan sensor lidahmu. Micin mungkin mudah didapat, tetapi dengan bumbu genep, perbendaharaan rasa menjadi turah-turah.

Kenapa, sih? Menggauli itu enak loh. Sensasi yang kalian dapat akan bulat sempurna seperti tahu yang digoreng dadakan di atas mobil pikap. Sinopsis mungkin mengandung micin, tetapi membaca bukunya dengan utuh akan memberi kalian bumbu genep layaknya ayam betutu.

Bagi saya, sinopsis tidak seharusnya dipublikasikan. Sinopsis itu sakral. Ia berada di level kerahasiaan tertinggi. Jika sinopsis sampai jatuh ke publik, air mata darah yang dicucurkan penulis ketika menggarap novel menjadi sia-sia. Kadang, hanya dengan membaca sinopsis yang cuma seons itu, mereka berani menghakimi kualitas seratus kilo has dalam yang terkandung dalam novelnya. Lalu, ketika tertarik memiliki buku berdasarkan sinopsisnya, mereka tak segan menodong tanpa berkeinginan untuk menukarnya dengan nominal rupiah. Ya, nasib!

Segalanya yang instan memang nagih. Sebab, memang mudah mendapatkannya, cepat memprosesnya, dengan hasil akhir yang relatif sama.

Eh, yakin sama?


Sekar Mayang, editor, pekerja teks komersial, pelahap dan pengulas buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s