Pasaran

Bandung Mawardi

SABDA Embun Bening bosan dan bosan. Hari demi hari di rumah dan mendapat kiriman tugas-tugas dari guru menjadikan hari-hari makin membosankan. Di rumah, bocah itu mudah marah dan malas. Hal-hal untuk gembira tak mudah diperoleh seperti dulu. Bocah itu ingin gembira. Acara-acara di televisi belum menjanjikan setiap hari memicu bahagia.

Oh, bahagia itu bermain! Sabda mencoba bermain “ini” dan “itu”. Teman-teman berdatangan ke rumah. Benda-benda dikeluarkan dan ditata di emperan. Mulailah Sabda dan teman-teman bermain pasaran. Pembagian peran: pedagang dan pembeli. Tanda pembeda peran disahkan kata-kata diucapkan pembeli dan pedagang. Suasana pagi agak meriah. Di emperan, pasaran terjadi meski bakal meninggalkan berantakan dan basah. Mereka menghadirkan dedaunan, air, tanah, dan lain-lain. 

Bermain bersama memerlukan bekal dan kesanggupan berimajinasi. Sabda selalu ingin menjadi pedagang. Peran dimengerti setelah puluhan kali ikut ibu berbelanja ke pelbagai tempat membeli “ini” dan “itu”. Semua hal dipelajari, termasuk penggunaan bahasa. Pedagang itu sosok sibuk tapi menghasilkan uang. Nah, permainan pasaran menggunakan uang berupa daun dan guntingan kertas. Pedagang memiliki dompet. Hasil berjualan adalah duit memenuhi dompet. Senang! Sabda dan teman-teman senang tapi ibu kadang kehilangan pisau dan gunting. Benda-benda digunakan bocah-bocah untuk rajang-rajang dan memotong dagangan. 

Pasaran, jenis permainan masih saja berlaku sampai sekarang. Di pasar atau toko, alat-alat untuk pasaran dijual dengan harga terjangkau. Alat-alat terbuat dari plastik atau seng. Bocah-bocah boleh memilih dengan pertimbangan bagus dan awet. Pertimbangan batal saat bocah-bocah sering bermain. Sekian alat gampang rusak. Alat-alat kotor belum tentu lekas dibersihkan. Pada edisi awal, bocah berjanji merawat tapi hari demi hari berganti janji bisa terlupa. Bapak dan ibu biasa melihat benda-benda untuk pasaran bergelimpangan, kotor, dan rusak. 

Di Jawa, pasaran masuk dalam pengajaran. Kita membuka buku berjudul Pinter Matja 1 susunan R Soeharno dan W Poedjosoebroto (1956). Ada halaman-halaman bercerita pasaran. Kita simak cerita dilengkapi gambar: “Djaka, Sri, Hari pasaran ana sakiwaning omah. Panggone ejub banget. Sri dodol iwak, endog, petjel, mihun. Hari sing nukoni. Duwite wingko karo beling.” Bocah-bocah bergembira selama pasaran. Menit-menit berlalu, mereka memilih selesai: “Olehe pada pasaran nganti suwe. Bareng wis bosen pada bubar. Regedane disaponi.” Tanggung jawab membersihkan dan merapikan terbuktikan.

Bocah-bocah senang bermain pasaran dampak dari pengalaman dan pengamatan. Mereka berimajinasi menjadi pedagang seperti terlihat di kampung dan pasar. Bocah melihat ibu sering berbelanja, belajar cara mendapatkan “ini” dan “itu” dan mengelola uang. Pemandangan ibu membawa hasil belanjaan menggunakan kresek atau tas membuat bocah ingin meniru. Pada saat berada di pasar atau warung, bocah ikut ibu melihat peristiwa sambil menumpuk ingatan: sumber acuan mengadakan pasaran bersama teman-teman. 

Bait Daun Takjub biasa melihat si mbak (Sabda Embun Bening) dan teman-teman bermain pasaran. Bocah itu meniru tapi dengan jenis pasaran berbeda. Di amben, ia menata buku-buku. Ia mengaku berjualan buku. Bapak diminta menjadi pembeli. Percakapan pedagang dan pembeli terimajinasikan berbeda dari bahasa digunakan Sabda Embun Bening dan teman-teman. Pilihan kata dalam perdagangan buku terasa aneh. 

Bait menjadi pedagang buku. Ia mungkin mengamati saat diajak bapak berbelanja buku di pasar buku loak. Bait belum pernah melihat bapak berjualan buku dengan cara digelar di lantai atau ditata di atas meja. Ia berimajinasi saja sebagai pedagang buku. Teman-teman di sekitar rumah kadang diajak bermain dengan menjadi pembeli. Bocah-bocah itu kerepotan berperan sebagai pembeli. Bait menjadi cerewet: memberi contoh dan perintah. Pasaran dan permainan berdagang buku itu berbeda. Begitu.  


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s