Menjadi Istri, Menjadi Ibu

Devi Puspita

ROMANSA menikah berbeda jauh dengan pacaran atau komitmen lainnya. Aku, sebelum menikah, pernah mengisi rubrik salah satu majalah berisi cerpen romantis pranikah. Semua cerita yang aku tulis berdasarkan imajinasi, pengalaman pribadi, dan kisah-kisah orang sekitar. Cerita-cerita itu kebanyakan aku buat berakhir bahagia. Membayangkan seolah aku merasakan kebahagiaan yang sama seperti si tokoh. Waktu menulis, yang terlintas di benakku adalah “pranikah saja romantis begini, apalagi kalau sudah menikah, pasti lebih romantis”. Iya, aku memang penggemar cerita-cerita komedi romantis.

Seiring berjalannya waktu, tibalah aku menikah dengan seseorang yang aku cintai dan mencitaiku. Cieh. Namanya pengantin baru, rasanya setiap hari seperti kencan. Belum ada konflik-konflik serius, paling hanya ngambek-ngambek biasa kalau suami pulang telat. He he, kangen. Namanya juga baru merantau berdua di kota orang, temannya hanya pasangannya.

Pandanganku tentang romansa menikah semakin terbuka setelah menjalani hampir dua tahun pernikahan. Ternyata, seromantis-romantisnya hubungan tetap saja ada tidak romantisnya. Ada konflik-konfliknya. Namun, setelah melalui konflik-konflik itu, semakin membuat kami dewasa dalam hal mencintai dan memahami. Setiap ada masalah lebih baik diselesaikan dengan santai dan mengutarakan pendapat masing-masing. Lalu direnungkan dan berdiskusi untuk mencari titik temunya. Seperti halnya saat memutuskan untuk menjadi istri yang kerja domestik atau istri berkarir. 

Zaman kuliah, aku termasuk orang yang aktif dalam organisasi. Punya kerja sampingan, punya bisnis kecil dengan brand sendiri. Setelah kuliah langsung kerja di perusahaan start up. Aku memutuskan resign saat mau menikah karena ikut suami yang kerja di kota orang. Terbiasa gerak dan bertemu banyak orang membuatku sedikit bingung dalam hal “membunuh waktu” saat di rumah. Aku coba diskusi dengan suami.

“Mas, baiknya adek kerja di luar apa nggak ya?” tanyaku pada suami.

“Kerja kantoran, Dek?” suamiku tanya balik.

“Iya mas, kayak gitu buat kesibukan”

“Mas nggak tega kalau Adek kerja. Mas aja yang kerja di luar ya. Kerja di bawah tekanan atasan lumayan keras lho, Dek”

“Iya sih bener, adek inginnya usaha gitu Mas sesuai basic adek, mau ngembangin usaha kecil gitu”

“Ya nggakpapa, Dek. Mas dukung. Misal ingin banget kerja di luar ya boleh dicoba, kalau dua bulan nggak betah langsung keluar aja. Kalau mau kerja di rumah Mas seneng banget. Pulang kerja bisa langsung ketemu istri, he he.”

“Iya Mas, adek ingin gitu bikin usaha terus bisa buka lapangan pekerjaan buat orang lain. Sponsorin ya Mas hehehe”

“Boleh banget, siaaap. Adek juga suka nulis kan? Besok beli laptop buat Adek yuk”

“Yeaaa.”

Hasil diskusi kami, aku menyimpulkan bahwa suamiku mengizinkan aku bekerja di luar, tapi lebih suka kalau aku berkarya di rumah. Karena kerja adalah tanggung jawabnya, sedangkan aku didukung berkarya sesuai skill-ku. Qodarrullah, pilihan berkarya dari rumah lumayan menyibukkan dan menghasilkan. Keinginan membuka lapangan pekerjaan sudah terwujud meski baru merekrut orang menjadi reseller bisnis online. Sertifikat usaha kecilku pun sudah kudapatkan dari Dinas Koperasi. Kadang ada pembinaan yang mengharuskan ke luar kota, Alhamdulillah, suami juga mengizinkan. Setelah kupikir lagi, keputusan yang kami ambil waktu itu sudah tepat. Aku berkarya sesuai hobi dan passion-ku. Saat hobi itu belum menghasilkan, tidak apa-apa, karena tujuannya bukan bekerja tapi berkarya. Ketika hobi itu sudah menghasilkan berarti itu bonus. 

Semua pilihan ada risikonya masing-masing. Tidak ada pilihan yang benar dan salah saat istri memilih bekerja di luar, kerja dari rumah, atau kerja di rumah (ibu rumah tangga). Semua kembali kepada kondisi dan alasan masing-masing keluarga. Aku juga sangat sensitif ketika ada orang yang mengatakan ibu rumah tangga itu tidak bekerja. Nyatanya kerjaannya banyak, aku pernah mencoba full mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan itu tidak ada habisnya. Baru saja nyuci piring, sudah ada piring kotor lagi. Baru selesai nyuci baju, setrikaan sudah numpuk. Rumah sudah rapi, berantakan lagi. Nata ini nata itu, belanja, ngurus manajemen keuangan, ngurus keperluan keluarga. Dan ternyata butuh tenaga ekstra pemirsa. Apalagi para ibu yang sudah punya anak balita. Baru saja duduk anaknya sudah lari-larian. Baru saja makan sesuap, anaknya pup. Pokoknya ibu rumah tangga itu hebat banget. Jasanya amat sangat berharga dan menghemat pengeluaran dengan jasanya. 

Dan ternyata butuh tenaga ekstra pemirsa. Apalagi para ibu yang sudah punya anak balita. Baru saja duduk anaknya sudah lari-larian. Baru saja makan sesuap, anaknya pup. Pokoknya ibu rumah tangga itu hebat banget. Jasanya amat sangat berharga dan menghemat pengeluaran dengan jasanya.

Besyukurnya, suami bukan orang yang menuntut istri harus menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dengan full. Dia menyadari bahwa semua juga tanggung jawabnya. Setiap aku nyuci baju, suami yang sering jemurin dan lipatin. Kalau pada capek semua ya laundry. Waktu males masak ya beli. Kami tidak mempersalahkan tentang pekerjaan domestik, yang penting saling pengertian. Apalagi saat aku memilih kerja dari rumah yaitu selain pekerjaan utamanya ibu rumah tangga, pekerjaan sampingannya mempunyai UMKM.

Begitu pula jika ada yang mengatakan kalau ibu berkarir sama dengan menelantarkan keluarga. Aku sangat tidak setuju. Bisa jadi memang itu adalah yang terbaik untuk keluarganya. Dia ingin membanggakan orangtuanya dengan karirnya sebagai wujud terima kasihnya sudah menyekolahkan di perguruan tinggi. Bisa juga dia termasuk tulang punggung keluarga. Siapa tahu, istri yang memilih berkarir sedekahnya lebih banyak karena berpenghasilan, doanya lebih kencang untuk keluarganya karena waktu berkumpulnya jarang.

Pilihan dan pendapat kita memang pas untuk kita. Namun belum tentu pas jika diterapkan di keluarga lain. Semakin ke sini aku semakin menghargai pendapat orang lain dan mencoba memahami sudut pandangnya. Tujuannya pasti sama baiknya, semua untuk kebaikan keluarga. Sama halnya untuk menghasilkan angka lima. Bisa satu ditambah empat, dua ditambah tiga, bahkan seratus dikurangi Sembilan puluh lima. Banyak jalan dan cara untuk mencapai tujuan yang sama. Tinggal kita memilih cara yang sesuai dengan keadaan dan kemampuan kita.


Devi Puspita, suka menulis dan bisnis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s