Dulu dan Sepatu

KELUARGA Indonesia bersepatu belum terlalu lama. Pada suatu masa, sepatu dipandang benda mentereng. Kolonialisme memilik lakon sepatu di kaki orang-orang Eropa. Sepatu digunakan dalam beragam peristiwa: bekerja sampai pelesiran. Keluarga-keluarga Eropa terhormat dengan sepatu. Sosok bapak bersepatu mengartikan tanggung jawab besar dalam mencari nafkah. Anak-anak bersepatu saat sekolah. Pemandangan baru di mata bumiputra. Cerita-cerita orang Indonesia cekeran perlahan berubah akibat tata aturan dan etika alas kaki: sandal dan sepatu. Para lelaki di Jawa tergoda tampil mentereng dengan sepatu meski belum tentu digunakan untuk bekerja. Di hajatan-hajatan pernikahan, sepatu menjadi benda penting bagi para bapak. Mereka mengenakan jas atau batik. Di kaki, mereka bercelana halus. Pada bagian bawah, kaki-kaki itu bersepatu setelah mendapat semir. Di rumah, rak sepatu milik keluarga mengartikan kegunaan dan makna. Bapak, ibu, dan anak membiasakan bersepatu dalam beragam peristiwa.

Di Jogjakarta, ada pabrik dan toko sepatu Mansoer. Kaum masa lalu memiliki ingatan membeli sepatu di toko Mansoer adalah kebanggaan. Orang membeli dan mengenakan sepatu biasa menimbulkan percakapan dan gosip. Pada masa 1950-an, sepatu masih milik kaum tertentu saja. Di majalah Minggu Pagi, 24 Maret 1957, iklan kecil dari Mansoer. Gambar empat sepatu bagi orang dewasa. Tiga sepatu untuk perempuan dan satu sepatu untuk lelaki. Sepatu anak-anak belum tampak. Pabrik dan toko sepatu beralamat di Malioboro 9, Jogjakarta. Keunggulan: “Terbikin dari bahan jang baik. Dikerdjakan dengan mesin-mesin modern.” Di jalan bersejarah dan ramah, orang-orang masuk toko: melihat dan membeli sepatu. Mereka mengerti zaman. Hidup tak lagi cekeren. Malu! Sepatu-sepatu mengabarkan kebaruan dalam tata cara hidup. Kesopanan cap baru berlaku. Orang-orang membiasakan bersepatu: pagi, siang, sore, malam. Sepatu untuk politik, bisnis, pesta, pelesiran, olahraga, sekolah, dan lain-lain. Begitu.  


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s