Pertanyaan Caleb

Setyaningsih

“APAKAH Sarah akan membawa sedikit laut?” 

Siapa pun mendapat pertanyaan yang ganjil ini, kemungkinan akan menjawab tidak. Bahkan Anna, kakak Caleb, dalam cerita Sarah yang Jangkung dan Sederhana (Gramedia, 1990) garapan Patricia Maclachlan pun menjawab, “Tidak, laut tak dapat dibawa.” 

Anna dan Caleb tengah berada di beranda. Di depan mereka, terhampar padang rumput yang disenangi domba-domba dan sapi-sapi. Anna dan Caleb belum pernah melihat laut. Mereka lahir dan tumbuh di tanah pertanian.

Laut adalah bagian yang belum menjangkau dunia kecil Caleb. Namun dari pertanyaan yang berbuntut jawaban tidak itu, laut perlahan mendekati melalui sosok Sarah, calon ibu sambung. Ketika Sarah yang lahir dan tumbuh di wilayah pantai Maine datang, 

Caleb mengajukan pertanyaan itu sekali lagi, “Apakah kau membaca sedikit laut?” Sarah yang jangkung dan sederhana tidak menjawab tidak. 

“Sedikit laut” berarti sesuatu dari laut, Sarah, kucing Sarah bernama Seal, kerang siput bulan berbau garam, dan sebutir batu laut paling halus. Sarah benar-benar membawa sedikit laut yang berarti benda-benda, identitas, dan kenangan. Caleb bahkan tidak memusingkan hal serius bahwa seucap pertanyaan bisa berarti bentang rasa ingin tahu pada identitas, geografi, ataupun emansipasi.

Melalui pertanyaan memang cara Caleb mengimajinasikan, membayangkan, dan mendapatkan sesuatu. Sebelum meninggal, usai melahirkan Caleb, ibu meninggalkan pertanyaan kepada Anna, “Bukankah ia tampan, Anna?” Ada kesedihan tentu saja, tapi pertanyaan itu tidak meninggalkan trauma. Barangkali sejak Caleb bisa berkata-kata, ia selalu menanyakan hal-hal empiris bertanda tanya kepada Anna. 

“Apakah Ibu menyanyi setiap hari?” 

“Apakah Ayah menyanyi juga?” 

“Dapatkah kau mengingat lagu-lagunya?” 

Ketika ayah bercerita tentang Sarah, Caleb dan Anna meminta ayah bertanya, apakah ia suka bernyanyi. Kodrat Caleb, mungkin seperti anak-anak pada umumnya, bertanya apa saja.

Ketika tengah bersantai di padang rumput, Caleb menanyakan hal ini kepada Sarah, “Apakah kau menyukai angin?” Sarah menjawab, “Di dekat laut ada angin.” Angin di laut pasti berbeda dari angin di padang rumput. Pertanyaan Caleb menjadi pantikan mengenalkan Sarah pada jenis angin yang selama ini dikenali Caleb dan Anna. Caleb ingin Sarah merasa betah dan mengenal tempat Caleb bertumbuh. “Angin meniup salju dan membawa biji-bijian serta membuat domba-domba berlarian. Angin, angin dan angin!”

Di tulisan “Bagaimana Caranya Agar Anak-anak Mendengarkan Kata-kata Kita?” garapan Don E. Hamachek yang disadur oleh Leila Budiman (Peranan Keluarga Memandu Anak, 1985), dibabarkan ketika anak bertanya, ia siap mendengar. Meski yang ditanyakan tampak sepele, itulah cara anak membuka diri pada sekitar sekaligus rasa ingin tahunya. Tanggapan pada pertanyaan anak-anak memengaruhi rasa percaya diri sekaligus harga diri anak. Seorang anak bertumbuh bisa dilihat dari bagaimana setiap pertanyaannya ditanggapi. 

Meski yang ditanyakan tampak sepele, itulah cara anak membuka diri pada sekitar sekaligus rasa ingin tahunya. Tanggapan pada pertanyaan anak-anak memengaruhi rasa percaya diri sekaligus harga diri anak. Seorang anak bertumbuh bisa dilihat dari bagaimana setiap pertanyaannya ditanggapi.

Tentu masih banyak diyakini, pertanyaan anak itu merepotkan. Begitu besar keinginan orang dewasa ingin didengar, tapi bagaimana hal itu bisa terjadi saat mereka bahkan tidak ingin mendengar anak-anak. Sekolah lebih ingin membentuk jiwa-jiwa yang siap menjawab sesuai kunci jawaban orang dewasa. Pertanyaan dibatasi dan bahkan dihabisi. Anak-anak harus belajar menjawab bahkan sebelum bertanya dengan bebas dan bahagia.  

Ketika seorang anak bertanya, ia seperti mengantongi secuil demi secuil semesta yang ingin dikenali. Pertanyaan demi pertanyaan selalu meluncur, spontan dan sering buru-buru. Mereka tetap saja bertanya meski tidak selalu berpamrih jawaban. Setelah pertanyaan, anak-anak siap mendengar dan memikirkan jawaban paling sederhana sekalipun. Jika mau mengakui, pertanyaan anak yang sering membuat orang (dewasa) ingat berpikir, tertawa, merenung, dan (mau) mengobrol. 


Setyaningsih, pekebun di sedekalacerita.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s