Berprasangka Baik

Yuni Ananindra

SAYA makjegagik ketika membaca paragraf pertamanya Mbak Sekar Mayang. Dari paragraf itu, timbul kesan bahwa Mbak Sekar ini orang cerdas. Tecermin dari kalimat sambatnya yang mempertanyakan apa yang terjadi dengan “otak orang-orang ini”. Bukankah cuma orang cerdas yang berani mempertanyakan kecerdasan orang lain? Jadi sebenarnya, saya agak sungkan sekaligus minder menulis tanggapan ini. Tapi baiklah. Saya coba membesarkan nyali untuk menanggapi tulisan belio. 

Setelah membaca tulisan Mbak Sekar Mayang secara menyeluruh, saya menemukan setidaknya dua sambatan atau keluhan utama dalam tulisan tersebut. Sambat pertama, ketika Mbak Sekar menemukan orang-orang yang menulis sinopsis tetapi memakai variabel penyusun blurb. Atas kegagalan ini Mbak Sekar mempertanyakan: Ke mana mereka ketika mata pelajaran Bahasa Indonesia berlangsung? 

Mbak Sekar ini sambatnya kebablasan. Sebagai editor, tentu Mbak Sekar menemukan hal-hal sepele yang lebih mengherankan untuk terjadi. Misalnya, kenapa orang-orang yang kirim naskah itu tidak semuanya bisa membedakan “di” sebagai kata depan dan imbuhan meskipun sudah mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia sekian tahun. Oiya, saya kebetulan editor juga. Jadi saya kira, sedikit banyak, kita punya kesamaan pengalaman, Mbak. 

Ngomong-ngomong tentang mata pelajaran Bahasa Indonesia, saya jadi teringat masa lalu saya ketika masih jadi mahasiswa. Saya pernah kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta, meski pada akhirnya tidak layak mengaku alumnus karena tidak bisa bawa pulang ijazah. Dalam suatu mata kuliah kajian fiksi, untuk tugas satu semester, sang dosen menyuruh mahasiswa untuk membuat sinopsis dari empat puluh novel yang dibaca. Kalau tidak salah ingat, jumlah itu masih lebih baik (baca: sedikit) dibandingkan penugasan untuk mahasiswa angkatan sebelumnya. 

Lalu, apakah mahasiswa benar-benar membaca empat puluh novel kemudian membuat sinopsisnya? Ya tentu saja tidak. Edan! Teman-teman saya mencari sinopsis dari internet atau dari buku sinopsis. Saya? Ya jelas sama dengan mereka. Tentu saya tidak menyalin mentah-mentah. Saya ada usaha untuk membuat parafrase. Dan beberapa novel yang saya buat sinopsisnya adalah novel yang sudah pernah saya baca sebelumnya, sehingga saya tidak buta-buta amat untuk menuliskan sinopsisnya. Mungkin ada yang membatin, kelakuan kayak begitu kok dibanggakan kepada khalayak? Saya tidak sedang menuliskan kebanggaan lho ini. Saya cuma ingin berbagi pengalaman saja. Lalu apakah kami, saya dan teman-teman satu jurusan di berbagai perguruan tinggi yang notabene dipersiapkan untuk jadi guru Bahasa Indonesia, sudah pasti bisa bikin sinopsis dengan baik? Sayangnya, saya tak bisa menjamin.

Lanjut sambat kedua, adalah tentang “mereka yang selalu menempatkan sinopsis di tempat yang salah”. Se-la-lu. Waow! Saya takjub atas keberanian Mbak Sekar untuk menggeneralisasi hal dinamis dan jamak seperti itu. Lalu Mbak Sekar melanjutkan, kalau mau tahu isi bukunya, ya beli, pinjam, atau minta kepada pacar, jangan berharap pada ulasan buku. Kemudian, ditulislah kesimpulan bahwa  mereka tak punya nyali untuk menggauli kata-kata dengan intim.

Habis Lebaran badanku tambun. Nggak nyambung, Bun. Apa hubungan antara tidak mau membaca buku keseluruhan dengan tidak punya nyali menggauli kata-kata dengan intim? 

Beberapa tahun lalu saya menamatkan tujuh serial Harry Potter edisi bahasa Indonesia. Seri terakhir seribuan halaman, saya lakoni. Kurang berani apalagi saya dalam menggauli? Atau contohnya masih kurang seram? Saya pernah baca buku nonfiksi yang tebalnya hampir lima ratus halaman. Saya megap-megap bacanya, tapi toh selesai juga karena saya butuh. Tapi di sisi lain, saya juga punya metode membaca seperti mereka, orang-orang yang bikin Mbak Sekar ingin salto. Sebelum pinjam atau beli buku, saya kadang baca sinopsis atau ulasan. Kalau sekiranya buruk, ya buat apa baca bukunya. Buang-buang waktu saja. 

Memang benar bahwa menggauli buku itu membuat kita bisa memersepsi secara utuh. Tapi, menggauli buku alih-alih baca sinopsis atau ulasan terlebih dahulu untuk mengambil keputusan, mungkin lebih cocok untuk orang-orang yang memiliki keistimewaan seperti Mbak Sekar, yang waktunya bisa didedikasikan banyak untuk buku. Bagi orang-orang yang hidupnya tak melulu tentang buku, tapi harus diisi dengan momong anak, yhang-yhangan, ngarit, kerja di pabrik, mengurus orang tua, dan lain sebagainya, sinopsis ataupun ulasan adalah sejenis metode penjajakan sebelum menggauli buku secara keseluruhan. Dan itu cukup menolong. 

Karena saya belum menikah, izinkan saya pakai analogi seperti ini. Misal ada seorang lelaki yang mengajak saya menikah. Ada banyak metode yang bisa saya lakukan untuk mengambil keputusan, misal mengetahui karakternya dari caranya menanggapi konflik, ketika chatting WhatsApp, dari tulisan-tulisannya di media sosial, atau bisa juga dengan bertanya kepada pihak-pihak yang mengenalnya. Untuk memutuskan apakah saya akan menikah dengannya, saya tidak perlu menghabiskan seluruh hidup saya untuk mengenal dia secara keseluruhan. Dikiranya saya nganggur? Dan seumpama saya menolak, orang-orang di sekitar saya tidak akan bilang: “Mbok kamu jangan cepat ambil kesimpulan begitu. Kamu kan belum kenal dia utuh. Coba kalian pacaran sampai enam tahun ke depan.” Haisss, kesuwen! 

“Kalau sudah begitu, antara hemat dan pelit itu beda tipis, ya, Bun?” Alhamdulillah, sepertinya  Mbak Sekar adalah orang yang selalu berkecukupan sehingga setiap buku yang bikin penasaran harus dibeli. Tapi kalau orang yang duitnya tidak terlalu berlebihan, yang paling penting itu bisa makan, Bun. Biasanya buku nomor sekian. Tapi jangan coba-coba membenturkan isu hemat/pelit ini dengan membeli buku bajakan. Ini soal lain!

Saya setuju dengan pendapat bahwa sinopsis itu penting. Tapi apa iya sesakral itu? Berada di level kerahasiaan tertinggi? Ah, masa…. Saya kini juga tengah mati-matian menyelesaikan draf novel pertama saya. Lalu seumpama sinopsis saya nantinya bertebaran di ranah publik, apakah air mata darah saya akan sia-sia? Saya kira kok tidak. Sebuah cerita, katakanlah novel, dalam beberapa kasus bukan lagi tentang apa isi ceritanya, tapi tentang bagaimana penulis bercerita. Ketika membaca sinopsis atau ulasan, orang “hanya” memperoleh data yang bisa diolah lebih lanjut jadi informasi. Tapi ketika membaca karya sastra secara utuh, atau menggauli seperti istilahnya Mbak Sekar, orang akan mendapatkan sesuatu yang lain. Seperti kata Horace, sastra itu dulce et utile, menghibur dan bermanfaat. Saya kira, hal-hal seperti itulah yang akan membuat orang tetap memutuskan membaca buku meski sudah mengakses sinopsisnya.

Akhir kata, saya doakan semoga Mbak Sekar yang banyak bacaannya dan berlimpah kasih sayang, selalu dalam keadaan terbaik.  Jangan lupa olahraga, perbanyak konsumsi jokes bapack-bapack, banyak dolan, dan kurang-kurangilah prasangka buruk kepada pembaca. Salam sehat.  

Yuni Ananindra, pembaca suka-suka, penduduk Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s