Pelahap Buku

Anggrahenny Putri

BETAPA buku warna merah marun ini telah kupeluk dalam istirahat, kuremas tepiannya, dan tak kubiarkan punggungnya patah. Tak kubiarkan ia jauh dariku. Siang malam kugumuli pikiran dengan sosok-sosok yang timbul tenggelam dalam cerita. Baru setengah terbaca saja sudah membuat daya pikat bagai cinta pada pandangan pertama. Yang tatapan kata bertemu mata, bergulir begitu saja kisahnya masuk ke hati. 

Saat itu buku memperkenalkan diri bernama Inkheart. Cornelia Funke menciptakan wujud Meggie, anak pecinta buku. Dalam pikiran Meggie: “Buku-bukunya adalah suara yang dikenalnya, teman-teman yang tidak pernah bertengkar dengannya, teman-teman yang kuat dan berani.” Sesaat sebagai pembaca kuingin memeluknya, seperti itulah sifat para buku. Senaas apapun kita memperlakukannya kalimatnya akan tetap sama. Sedu sedan, panas menyakitkan, bahkan gelak tawa tak kurang tak lebih tertuliskan karya sang penulisnya. Tak berubah oleh terpaan debu, rayap, atau tangan usil melipat ujung kertas tak ingin susah payah mencari pembatas saat harus terjeda membaca.

Lihat, apa yang telah Inkheart lakukan padaku. Kata-kataku pun kerasukan. Sudah akhiri saja! Buku baik selalu menepati janjinya, ia akan menyusup sampai ke tulang, menggerakkan tangan kaki dan angan. Ini tak akan terjadi jika pembaca bersikap cuek pada buku. Memilih gambar-gambar mencolok atau kalimat-kalimat standar nasional Indonesia, mungkin suatu saat buku-buku itu terdapat logo yang memuat huruf S dan N kemudian I dalam huruf kapital berdempet. Mata kita sudah sering diberikan makanan merah, kuning, hijau. Janggal mata mengenali warna kertas buram dengan tinta hitam saja. Membiasakannya bertahan melahap kata-kata dalam tinta hitam memerlukan waktu tak sebentar. 

Mata kita perlu ditemani mataku, matamu, matanya, mata dia, dan mata-mata lain agar melihat kertas hanya bertinta hitam itu tak jadi hal aneh. Menjadi aneh itu tak nyaman. Memang, begitulah membaca. Memahami maksud lewat kata yang terangkai dalam kalimat panjang atau pendek, akhirnya membentuk cerita yang memabukkan. Kenikmatan membaca pada sastra yang mulia. Tak merendahkan akal budi manusianya. Gambar bukan tak diperlukan namun kita pun seharusnya punya selera, tak asal gambar klak-klik-klak-klik dari tetikus kecil, tak-tik tak-tik bernama keyboard. Haruslah ia digarap seorang maestro yang mencintai kuas dan catnya berada dalam kerendahan hati tangannya. Seberapa banyak buku seperti itu di pasaran, kita pun harus menggali. Mengandalkan diri kita sendiri untuk membacanya. Urusan gemar membaca masih menjadi kemewahan bahkan kelangkaan bagi negeri ini.

Kerap aku tertipu pada kata-kata berderet di belakang sampul bernama sinopsis. Entah sudah beberapa kali aku terjebak. Pertama, terperosok oleh sampul depan yang menarik. Kedua, terjeblos oleh rayuan sinopsis. Sekadar begitu berkali-kali ke lubang yang sama tak belajar dari kesalahan. Keledai rasanya lebih pintar, tentu saja soal hitung-hitungan lubang. Namun, soal membaca tentu kita lebih sanggup. Masalahnya kita bertumpu pada sinopsis yang lebih andal. 

Malas! Sebenarnya tak pantas dibilang begitu. Toh, kita sudah membaca ringkasan yang dianggap intisari dalam kue lapis kertas bernama buku itu. Seolah kita telah mampu mengunyah dan menyerap gizinya dalam sekali telan sinopsis. Lantaran menelan sinopsis kemudian kita bersedia merogoh kantong, membelinya. Niat baik sinopsis dapat kita pahami. Memudahkan bagi kami yang langka membaca. Sinopsis menjadi sebuah solusi. Sama seperti gambar penuh daripada penuh tulisan. Narasi SNI juga merupakan solusi. Agar kita bertahan memeluk buku itu, tak meninggalkannya begitu saja tanpa kepastian kapan akan dibaca. 

Tahapan memberi makan mata dengan wajah yang semarak, membalik bagian belakang hadirlah sinopsis yang memuat keseruan kemudian bagian tubuh dalam beramai gambar warna-warni dengan diksi-diksi mudah dicerna, kita berharap para pembaca punya minat baca meroket. Urungkan niat menghardik jika hanya pada salah satu saja yang kita protes. Tahapan ini saling bertaut. Gambar meriah, narasi dangkal dan sinopsis tak perlu disalahkan. Mereka ada karena kita menyukainya.  

Kenikmatan memang tak selalu sama dirasa oleh setiap kita. Namun janganlah menyerah sebelum merasakan nikmatnya membaca buku karena ceritanya memang indah dan menghanyutkan. Kesadaran mesti dipaparkan pada kualitas buku yang menawan sampai terpenjara. Yang narasinya hidup bagai kita ada di dalamnya. Mengajak sistem percernaan buku-buku berfungsi kembali setelah direndahkan. 

Nikmat itu tak selalu enak. Bentuk kenikmatan bisa berbentuk pemikiran tak ada habisnya. Keluasan pengetahuan lebih mendalam serta kecerdasan dalam bentuk kerendahan hati. Kebijaksanaan juga salah satu bentuk kenikmatan tertinggi. Kita tentu berharap mendapatkan yang nikmat sekaligus bergizi. Bisa! Asal kita mau pernah mencoba yang bergizi dan nikmat terlebih sebelumnya. Tak mungkin kita bisa merasakan buku yang nikmat sebelum membacanya hingga tuntas sekaligus membandingkan kenikmatan buku-buku lain. Tingkat gizi sebuah buku juga mesti kira renung-renungkan terlebih dahulu. Kita patut mempertanyakan kelayakannnya demi kebaikan tumbuh kembang akal budi kita. Instan bukanlah jalan tepat karena kenikmatan memang baru terasa saat kita bersabar. Perjalanan membacalah yang dapat mendukung membentuk sosok manusia. Gabungan tokoh  tak sengaja merasuki seperti  ada dalam buku. Berterima kasih kita ucapkan pada para penulis saleh nan budiman. Untuk yang sedang memulai kebiasaan menikmati buku, bertahanlah! 

Pelahap buku pasti akan membaca dari judul hingga profil penulis. Enggan melewatkan barang selembar pun. Kecintaannya hanya pada kegiatan membacanya. Nalurinya yang akan memilah sendiri. Buku adalah teman sejatinya. Penuh cita-cita, khayalan, dan renungan setelah selesai mengunyah habis satu buku. Pencernaannya penuh kata-kata salinan isi buku. Kadang matanya terpejam, membayangkan pokok pikiran tiap paragraf. Sering matanya memandang kosong jauh ke depan. Menemukan jalinan cerita mengejutkan penuh teka teki. Organ akalnya bekerja. Keras dan ulet berusaha menyerap apapun yang mampu ia dapat. Tanpa sengaja menemukan barisan puisi untuk menggenapi imajinasinya. Lepas rindu antar penulis yang berlokasi dalam benak pelahap buku. 

Peristiwa magis yang melalui perantara buku dapat terjadi. Menghasilkan gerakan, kesadaran, dan perbuatan sesuai pilihan sang pelahap buku. Bisa saja hasilnya dibuahkan sekarang. Namun, bisa saja buahnya akan muncul saat waktunya tepat. Relasi ide begitu banyak hingga tak pernah mengenyangkan. Tentunya, ia tak akan pilih-pilih makanannya. Ia beriman pada pencernaannya. Pengalaman dan akal budinya akan membantunya mencerna. Tanpa bermaksud mengelompokannya dalam golongan remah-remah atau daging yang bergizi tinggi, buku-buku pun berkumpul dengan kaumnya masing-masing. Sebuah anugerah menjadi pelahap buku.


Anggrahenny Putri, penikmat buku dan bau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s