Bermula Kenalan, Berakhir Pilihan

Adib Baroya

Judul : Diracun Laskar dan Elegi, Penulis : Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, Penerbit : Babon, Boyolali, Cetakan : Pertama, April 2021, Tebal : 98 halaman, ISBN : 978-623-6956-20-5

BAHASA Indonesia, secara paling mendasar, adalah tempat bersua. Tentu bukan sekadar bahasa nasional yang dipuja-puja, diajarkan sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi, apalagi sebatas alat untuk saling terhubung. Lebih jauh, bahasa Indonesia adalah relung perjumpaan itu sendiri. Tempat segalanya dapat tumbuh dan bersemi. 

Demikianlah para mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Suarakarta (UMS), sebagai muda-mudi yang sedang mencecap bangku perkuliahan disertai gelora kaum muda. Mereka menuangkan sketsa perjalanan menemui dan memilih bahasa Indonesia, sebagai titian hidup, juga tempat bertungkus-lumus dalam dunia akademik. 

Mereka membentangkan biografi kebahasaannya dengan lugas. Tempo membaca buku ini kita diseret untuk melihat satu per satu, bagaimana pangkal permulaan para bakal sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini menekuni bahasa Indonesia. Tentu saja, dengan segala rasa penasaran, bingung, malu, resah, takjub, serta konsekuensi. 

Ada dua puluh esai yang disajikan. Masing-masing penulis memiliki kacamata perbedaan dalam memandang bahasa Indonesia mula-mula; ada yang lekas larut untuk tidak menyebutnya “pasrah” dan berterima, ada yang terpukau dengan mata berbinar-binar, dan ada yang belajar saja dengan perlahan-lahan.

Saban esai yang mereka suarakan menggiring kita pada pengertian bahwa, bahasa Indonesia merasuk ke jati diri dan relung batin tiap insan lewat beragam jalan. Ada yang mulai bersentuhan dan menaruh hati pada bahasa lewat medium-medium, seperti novel, majalah, film, musik, spanduk, media sosial, sekolah formal, bimbingan belajar, bahkan pagelaran wayang semalam suntuk. Aneka medium ini dengan tegas mengenalkan dan membentuk kultur berbahasa Indonesia dan berkeindonesiaan. 

Sebermula, bahasa Indonesia itu terasa jauh, sangat jauh, boleh dikata tak tersentuh. Namun setelah menyelam, mereka emoh mentas dan masih pengin basah-basahan meski “kedinginan”. Tak pelak lagi, pengakuan dalam buku ini menjadi cermin sekaligus cambuk bagi diri kita. Buku ini bukan cuma membentangkan kronik bagaimana pertemuan yang aneh, kocak, bahkan lugu dengan bahasa Indonesia, tapi mereka juga menukik, melontarkan kritik. 

Pada esai pertama, yang berjudul “Racun Dindi Lekstami”, Nabila Jayshi Syah Putri mengakui bahwa seseorang bernama Dindi Lekstami meracuninya untuk semakin belajar bahasa Indonesia. Tanpa sengaja, saat berselancar ria di Instagram, Nabila menemukan akun Dindi. Dindi rupanya adalah seorang pengarang muda. 

Dari hari ke hari, Nabila terus saja mengikuti unggahan-unggahan Dindi, yang baginya kerap menggunakan kata-kata yang jarang dia temui. Tiap tulisan Dindi memikatnya menuju penemuan arti dan makna. Nabila sampai mantap berspekulasi, “Tidak bisa dipungkiri lagi Dindi adalah salah satu orang yang memengaruhi rasa ingin tahuku mengenai bahasa Indonesia”. Ketokohan orang lain tampak memengaruhi kepribadian berbahasa seseorang. 

Keberadaan media sosial kini tampak betul-betul memengaruhi segenap urusan hidup, tak terkecuali ranah bahasa. Model pergaulan kita pun semakin tertekuk dalam genggaman (ponsel). Yang jelas, bahasa semakin tumpah ruah dalam jagat virtual. Nabila tentu satu di antara sekian orang yang terpikat bahasa berasal dari media sosial, lewat unggahan seorang figur publik yang berakrobat bahasa. 

Sementara itu, Amy Rahmawati Sukma, dalam tulisan “Sakit Lidah” membeberkan upaya maha kerasnya belajar bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia itu perkara rumit, jauh dari pengalaman personal yang asyik. Amy menandaskan, “Aku tidak bisa bicara secara spontan dengan menggunakan bahasa Indonesia, terdengar aneh dan lidahku itu rasanya mbundel… Setiap kali berbicara dengan bahasa Indonesia, rasanya seperti benang ruwet”. 

Permasalahan bergerak ke ruang kuliah. Amy sulit melafalkan huruf konsonan [d] dengan benar saat mengikuti seri mata kuliah fonologi. Bahasanya terkesan medok. Amy tampak melontarkan apologi, “Ini pun aku belajar menggunakan bahasa Indonesia mati-matian”. 

Di sini, kentara sekali Amy tidak bisa menanggalkan identitas kultural bahasa ibunya. Bahasa yang kali pertama Amy dengar dan coba lafalkan sejak kecil belia. Sedangkan, bahasa Indonesia, adalah bahasa yang baru Amy (dan sekian anak Indonesia) dapat cerap-pahami di bangku pendidikan terkecuali bagi yang (sempat) tinggal di Jakarta dan sekitarnya, yang komunitas tuturnya berbahasa Indonesia. 

Satu lagi peristiwa unik dari Amy. Saat liburan kuliah, dan sedang di kampung halaman, Amy keceplosan menggunakan bahasa Indonesia. Tetangganya justru menganggap Amy sok-sokan. Musababnya, Amy menggunakan bahasa Indonesia di tengah komunitas tutur yang tak terbiasa, bahkan amat jarang menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. 

Berbeda dengan dengan kasus tetangga Amy, yang berjarak dengan bahasa Indonesia, Mia Nur Insani justru ingin merengkuh bahasa Indonesia. Mia benar-benar terpikat bahasa Indonesia. Apalagi lewat padanan istilah-istilah asing. 

Peristiwa demi peristiwa berbahasa mempertemukan Mia dengan sekian istilah anyar. Mia pun berseru istilah baru. Seperti “mancakrida” untuk mengganti outbond, “gelar wicarauntuk mengartikan talk show, “salindia”untuk menyebut slide dalam program Microsoft Power Point, dan seterusnya. 

Laku Mia belajar bahasa jelas menampar orang-orang yang mengunggulkan bahasa asing tinimbang bahasa Indonesia. Bahasa asing, terutama bahasa Inggris, dianggap memiliki prestise yang tinggi. Seolah-olah mengindikasikan bahasa Indonesia itu tak berdaya, kurang gaul.  

Fenomena kebahasaan ini marak terjadi. Coba lihat wawancara harian Jawa Pos, 6 Desember 2020, dengan selebritis Tya Ariestya bertajuk “Turun 22 Kilogram berkat Konsistensi”. Tya Ariestya berucap: “Aku sedang nulis tentang journey menuju lebih sehat ini dalam satu buku… Harapannya, bisa share dengan banyak orang dan berbagi semangat untuk hidup lebih sehat”. Apakah artis manis ini enggan melafalkan padanannya? Kalem, kita jangan menuduh yang tidak-tidak. 

Sangat banyak kejadian-kejadian biografis lain yang terhampar dalam buku Diracun Laskar dan Elegi ini. Mereka semua memilih meracuni diri dengan bahasa Indonesia. Irfan Sholeh Fauzi, dalam kalam pembuka menulis, “ada racun yang menggembirakan, ada pula racun yang ‘membagongkan’”. Namun apa daya, bahasa Indonesia telah menjadi “racun” yang selama ini mereka tenggak dengan tekun. 


Adib Baroya, mahasiswa IAIN Surakarta

One thought on “Bermula Kenalan, Berakhir Pilihan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s