Mbah

Bandung Mawardi

DIRI masih muda tapi dapat sebutan “mbah”. Masalah! Mawar itu ragil. Mbak dan mas memiliki anak-anak telah besar. Menikah. Nah, mbak dan mas memiliki cucu. Mawar mulai mendapat panggilan Mbah Mawar. Wah, bahagia dan ragu! Bahagia memiliki tanggung jawab dan ragu bila berpikiran usia. Sebutan “mbah” terlalu cepat datang.

“Mbah”, sebutan mengandung kasih, manja, kangen, senang, dan lain-lain. Pada suatu hari, Mawar menikah dan memiliki anak. Dunia dan bahasa pun berubah. Mertua tampak bahagia memiliki cucu. Terdengarlah panggilan: “mbah kakung dan mbah putri”. Di keluarga berbeda, sebutan terindah adalah “eyang”. Di desa-desa Jawa, sebutan nenek dan kakek belum lumrah. 

Konon, “mbah” menandai tua. “Mbah” juga bijak. Di pergaulan sosial-kultural-religius, “mbah” berlaku di keluarga dan desa dengan sekian pembeda makna. Di keluarga, “mbah” berkaitan darah-daging. Peran dalam tatanan keluarga makin penting. Tua memancarkan kekuasaan, kesabaran, kebaikan, ketenangan, dan lain-lain. Pada pengertian lain, “mbah” dengan ketuaan justri mengisahkan marah, galak, memerintah, sedih, pelit, dan lain-lain.

“Mbah” adalah pendoa. Pemahaman itu dimiliki di keluarga. Para cucu bila sedang memiliki masalah atau mau melakukan pelbagai peristiwa dianjurkan meminta doa “mbah”. Di desa, orang-orang bilang: “Dongane mbah kuwi mujarab.” Hari demi hari, “mbah” menjadi pendoa dengan mengelus kepala para cucu atau memberi kecupan. Tatapan mata itu memancarkan harapan. Wajah meneduhkan bagi cucu-cucu sedang bermasalah. 

Kita mengingat peran “mbah” dalam buku saja. Terbaca kelucuan dan kebijaksanaan. Terbukalah buku berjudul Waosan Djawi (1954) susunan Tedjasusastra! Kita membaca dengan imajinasi dan situasi masa lalu. Peristiwa “mbah” menjadikan cucu tidur bermimpi indah atau pulas. “Mbah” menembang-menceritakan.

La leman lela legung

Wis turua putuku wong bagus

Bagus lurus je wis gede dadi kusir

Kusir andong djaran kuru

Menggrak-menggrik pidjer mogok

Cucu mendengar itu lekas menjawab: kelak tak mau menjadi kusir andong. Jenis pekerjaan masih umum pada masa lalu tapi perlahan menghilang di Jawa. “Mbah” setuju saja bila cucu emoh menjadi kusir andong asal cepat tidur. Menembang lagi berharap berhasil membuat cucu tidur.

La leman lela legung

Wis merema putuku wong bagus

Dasar besus jen wis gede dadi sopir

Sopir taksi turut lurung

Taksi bobrok pejak-pejok

“Mbah” menjadi pengamat jalan, melihat dan menilai sekian alat transportasi. Perhatian atas pekerjaan-pekerjaan menghasilkan nafkah. “Mbah” itu kaum lama, mengerti ada perbedaan derajat kusir andong dan sopir taksi. Cucu tetap menjawab: emoh menjadi sopir taksi. Detik-detik menjelang tidur, percakapan “mbah” dan cucu makin seru. “Mbah” penasaran dengan cita-cita si cucu. Jawaban lumrah: cucu ingin kelak menjadi guru. Penjelasan lugu dan lucu: “Dadi guru kaja paklik, gawene djeweri botjah.” Ia ingin menjadi guru seperti paman memiliki kebiasaan menjewer bocah (murid).

Pada masa 1950-an, keinginan menjadi guru berkaitan menaikkan derajat diri dan keluarga. Pilihan menjadi guru meraih kehormatan, selain gaji. Si cucu belum berpikiran jauh dan mendalam. Ia malah senang menjadi guru gara-gara melihat kebiasaan guru menjewer murid mungkin melakukan kesalahan atau bodoh. “Mbah” menembang memberi pesan bijak agar cucu tak salah memahami posisi guru.

La lela lela legung

Wis turua putuku pak guru

Mung welingku adja seneng ndjewer kuping

Wit iku tanda ra baut

Mulang botjah kang diemong

Kini, Mawar adalah bapak dan terbiasa dipanggil “Mbah”. Ia malu membaca buku lama mengetahui kebiasaan “mbah” menembang dan mendoa. Mawar tak memiliki kemampuan menembang. Ah, kepikiran ada “sekolah” menjadi “mbah” agar berperan dalam menidurkan cucu sambil memberi cerita dan pesan-pesan bijak. Begitu.  


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip (an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s