Ingatlah Ibu! Ceritalah Sapu!

Yessita Dewi

PAGI datang, terjadi kesibukan untuk para sapu dan ibu. Sapu tak sekadar digunakan menggiring sampah, debu, atau rontokan sisa memasak di dapur. Tetapi, bagi seorang ibu, sapu adalah segalanya. 

Tak percaya? Sapu yang selalu ada di dekat dapur dan kamar mandi bisa menjadi senjata pertama untuk berhadapan dengan serangga seperti kecoak yang menggelikan. Sekali tebah, langsung digiring keluar tanpa sisa. Sapu yang tergantung di dekat pintu, kadang berubah menjadi tongkat ketertiban. Siap-siap ketika salah satu anak kumat bandel dan menyebalkan. Acungan sapu yang tak seberapa itu lumayan menjadi terapi kesadaran si anak. Baru teracung sudah seperti kerbau dicocok hidung. Untuk anak zaman ini mungkin tak banyak yang merasakan “kegalakan” gagang sapu yang biasanya terbuat dari bambu kuning. Tapi bagi anak yang ada di zaman silam, memiliki “keterikatan” tersendiri. Tak hanya gagang sapu, ada yang lebih galak, gagang rotan “sulak” atau kemoceng. Anak-anak masa lalu lebih rajin menyapu halaman dan ubin rumah karena itulah yang mereka harapkan daripada sapu-sapu itu mampir di bokong atau kaki mereka yang kadang bermain lupa waktu enggan pulang.

Dari ibu, aku mengenali beragam jenis sapu termasuk peruntukannya. Ketika di halaman, sapu lidi menjadi pilihan mudah ketika membersihkan rontokan daun mangga dan nangka yang kering. Rumput-rumput menjadi seperti disisir ketika selesai disapu dengan sapu lidi. Sapu yang dibuat dari ranting pohon kelapa ini sangat berguna untuk “menebah” ayam-ayam yang berpesta di antara jemuran gabah. Adikku pernah dikejar ibuku menggunakan sapu lidi karena membuat sampah dedaunan menjadi mainan. Halaman rumah memang tak pernah sepi dengan rontokan daun. Saya pun terkadang awang-awangen mendapat tugas menyapu halaman ketika itu. 

Sapu lidi ini juga menjadi kelengkapan ritual pencegah hujan dan pencegah hawa jahat. Dengan posisi dibalik, ujung sapu ditancapi bawang dan cabai. Konon, berhasil. Ibu juga menyampaikan ajaran tuturan, ketika masih jabang bayi ada baiknya “digebrak” sapu lidi. Harapannya, si anak kelak ora kagetan atau mudah kaget yang membuat gelagapan. Entah benar atau tidak, anakku memang tidak mudah gelagapan setelah dulu “digebrak” sapu oleh Mbah Ibu. Aku yang kaget ketika itu.

Harapannya, si anak ora kagetan atau mudah kaget yang membuat gelagepan. Entah benar atau tidak, anakku memang tidak mudah gelagepan setelah dulu “digebrak” sapu oleh Mbah Ibu. Aku yang kaget ketika itu.

Sapu untuk teras dan samping rumah dengan cor-coran semen atau plester adalah sapu ijuk. Bentuknya seperti rambut genderuwo: kasar, kusut, hitam, dan awut-awutan. Serabut yang dihasilkan dari pohon aren ini memang tak bakal tuntas membersihkan lantai keramik atau ubin. Tetapi akan sangat membantu ketika lantai cukup kasar atau hanya dicor tidak rata. Hanya saja, dulu sempat bingung ketika masih tinggal di Sumatera dengan rumah papan. Tak kami lihat sapu dari bahan batang padi yang biasa kami gunakan. Ternyata, memang cukup efektif kayu-kayu dan lantai berlapis plastik motif bebungaan itu dibersihkan dengan sapu ijuk. Dan sapu ijuk ini dulu sering hilang karena diambil ijuknya untuk rambut nini thowok. Bisa membayangkan seperti apa siwur dengan rambut ijuk.

Bagaimana dengan sapu duk atau sapu yang terbuat dari batang padi itu? Bagi ibuku ini sapu idola. Tanpa sadar memang aku harus mengamati karena tidak mau mengulang menyapu lagi gara-gara salah memakai sapu. Sapu yang bergagang bambu kuning kokoh tak semua tempat bagus pembuatannya. Ada yang mudah rontok, ada yang tali pengikat jeraminya rapuh sehingga mudah ambrol, ada yang gagangnya bambu biasa. Karena abu adalah asli daerah karesidenan Kedu, maka sangat yakin bahwa perajin sapu duk dari Muntilan-lah yang paling bagus jalinannya. Dulu, sempat bertanya, mengapa harus membeli di situ. Ternyata ketika aku membeli di sembarang tempat, sapu-sapu jerami itu tidak awet. Tak sampai satu bulan harus beli yang baru. Mahal memang, tetapi dibanding setiap bulan beli yang baru hitungannya tetap lebih murah yang bagus. Apalagi kalau dipakai jaran-jaranan jeraminya tampak mekar dan tebal, tidak rontok. Hanya saja, telinga ini tidak akan selamat dari jeweran ibu.

Sapu jerami adalah sapu yang memiliki posisi atas setelah kemoceng atau sulak di rumah kami. Selain sebagai alat pembersih, pengusir serangga, menjolok kabel yang salah posisi, terbukti juga sebagai alat “ketertiban”. Ketika sapu itu tak tampak di gantungan, pasti sedang bertugas membersihkan lantai rumah. Tetapi, ketika sapu itu tak ada di tempat namun berada di samping ibu yang sedang berkacak pinggang di depan pintu, matilah aku. Kakiku bakal membiru. Tanda bahwa besok tak boleh ingkar janji lagi, pulang tepat waktu tanpa berburu jambu. Ibu, membuatku mengamati sapu.


Yessita Dewi, penulis rajin ngepit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s