Lemu!

“KOWE saiki tambah lemu!” Omongan ketahuan bertanda seru menimbulkan malu takut dan malu. Omongan minta dibenarkan saat melihat lelaki memang tambah lemu (gemuk). Argumentasi tergampang: lelaki itu sudah kawin atau lelaki itu memiliki pekerjaan mapan. Konon, lelaki semula kuru menjadi lemu setelah menikah. Ia dikondisikan rajin makan atau perintah atau bujukan istri. Penunjang adalah suka jajan di warung-warung enak. Suami lemu, istri lemu. Nah, argumentasi lemu dipengaruhi pekerjaan dan rezeki juga gampang dibenarkan. Si suami atau bapak itu bekerja untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga. Ia memiliki duit agak berlebih. Di dompet, ia biasa menggunakan untuk jajan selama di kantor, pulang dari kerja, akhir pekan, atau nongkrong bersama teman-teman. Duit berubah menjadi makanan dan minuman. Hari demi hari, ia bakal lemu. Raga berubah, busana berubah. Sikap dan omongan pun berubah. Ia mungkin berlaku menjadi “tuan besar”, “ndoro”, atau “bos”. 

Di rumah, bapak biasa menangan. Ia mendapat hak istimewa dalam makan. Pendapat dipegang adalah bapak mencari nafkah atau berpredikat kepala rumah tangga. Konon, tradisi itu berlaku wajar-wajar saja. Istri ingin ngecake nafkah dari suami dengan memasak “ini dan itu”. Senang bila suami dan anak-anak suka makan. Nah, istri sedih bila melihat suami di rumah malas makan. Seribu curiga di kepala dan hati. Di majalah Varia, 11 Maret 1959, istri diminta membeli “Djamu Nafsu Makan” produksi jamu Iboe Tjap 2 Njonja. Usaha menepis curiga-curiga. Suami minum jamu. Terbukti! Di meja, sekian piring. Bapak itu makan! Wah, jatah makan bertambah gara-gara bernafsu. Keterangan: “Nafsu makannja bertambah!” Jamu membangkitkan nafsu makan. Jamu membuat bapak bertambah lemu. Kini, jamu belum terlalu diperlukan untuk menjadikan suami atau bapak lemu. Rajin jajan atau keranjingan pelesir kuliner sudah menggampangkan menjadi lelaki lemu, bukti memiliki nafsu dan berduit. 

Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s