Rekaan dan Rekaman Zaman

Muhammad Safroni

“JANGAN bilang bapak kalau Oom Dan kemari ya?” pesan ibu pelan sekali.

“Semua kejadian selama bapak pergi, harus dilaporkan,” kata Ben, mengakali ibunya.

“Kalau bapak marah pada ibu, kau tega, Ben?”

“Kalau bapak marah pada Ben, ibu tega juga?”

“Tidak.”

“Ben juga tidak tega.”

“Kalau begitu, jangan bilang pada bapak, ya?”

“Ibu juga jangan bilang Ben tidak belajar, ya?”

Dialog ini sebuah kompromi antara ibu dan anak. Mereka saling berbohong, menutupi kesalahan masing-masing. Ada kalanya berbohong itu perlu. Dialog tersebut terdapat dalam novel Ben Sang Penyulap gubahan Ayu Widuri, diterbitkan Gramedia, 1983. 

Tokoh utama adalah seorang bocah laki-laki bernama Plasidus Subeno, akrab dipanggil dengan nama Ben. Dia bocah pemberani. Di kampung, semua orang mengenalnya. Seperti kelakarnya saat mengenalkan diri kepada orang asing yang dia temui. 

Saya Ben, Oom. Tidak ada orang desa ini yang tidak kenal nama Ben. Apa kata saya, selalu diturut anak-anak, Oom. Kalau saya suruh anak-anak mengusir Oom, mereka pun bergerak. Orang desa ini pada umumnya punya anak di atas lima orang, Oom. Hanya ibu saya yang punya anak tunggal. Jumlah penduduk menurut sensus, ada… ada enam ratus dua puluh orang. Jumlah anak-anaknya ada… hmm… kalau tidak salah, seratus empat puluh lima orang. Yang sebaya saya ada empat puluh satu orang. Saya pemimpin mereka. Kalau saya bilang serbu, mereka menyerbu. Kalau saya bilang jangan, mereka tidak bergerak. Oom tidak percaya?

Kutipan kelakar panjang ini menunjukkan seorang bocah pemberani dan percaya diri. Ben bukan bocah nakal, dia anak baik. Walaupun ada beberapa kesalahan yang kadang dilakukannya. Namun, kesalahan itu masih tergolong wajar. Kesalahan biasa bocah-bocah lakukan. Ben memiliki sahabat dekat, seorang gadis kecil bermata sipit bernama Kim Hwa. Kim Hwa merupakan salah satu anak dari keluarga Cina yang tinggal di desa itu.

Ben Sang Penyulap terdiri dari sembilan bab, delapan puluh delapan halaman. Ilustrasi sampul dan isi digarap oleh Floren. Mulanya, saya terkecoh saat melihat ilustrasi sampul. Dengan gaya realis yang apik, sampul ini memiliki ketertarikan tersendiri. Saya pikir novel ini merupakan novel terjemahan. Karakter ilustrasi tidak terlihat berkarakter  orang Indonesia. Ciri-ciri fisiknya lebih mirip orang-orang Barat. Begitu pula ilustrasi yang terdapat di dalam novel. Setelah menelisik di keterangan dan membaca beberapa lembar novel, saya yakin bahwa novel ini bukanlah novel terjemahan.

Ben, bocah yang sangat suka dengan pertunjukan sulap. Acapkali dia melihat pertunjukan tersebut. Dia pun ingin sekali bisa bemain sulap. Hingga pertemuannya dengan orang asing. Orang tersebut mengajari Ben trik sulap. Ben belajar dengan tekun hingga dia bisa menguasai beberapa trik sulap. Orang asing itu bernama Pak Miskun. Tidak ada orang desa yang mengenalnya. Dia pendatang,  tidak jelas asal-usulnya. 

Ayu Widuri beberapa kali menunjukkan detail-detail trik bermain sulap. Tentunya ini merupakan daya tarik tersendiri untuk pembaca. Seperti trik memotong pisang tanpa mengupasnya.

Pisang ditaruh terbaring di atas telapak tangan kiri. Bayangannya memanjang di lantai emper toko. Dengan telunjuk tangan kanan, Pak Miskun memotong bayangan pisang itu. Dua kali potong. Seolah memotong bayangan pisang menjadi tiga bagian yang sama. Pisang diserahkan kepada Ben.

“Kupaslah!”

Ben mengupas. Matanya terbelalak, Pisang itu terpotong menjadi tiga bagian. Kulitnya tidak terluka. Hanya ilmu sihir yang bisa memotong buah pisang tanpa merusak kulitnya! 

Pisang tersebut sudah dipersiapkan sebelumnya. Dengan mengunakan jarum yang ditusukkan dan digerakkan, pisang terpotong. Harus hati-hati melakukannya agar goresan tidak terlihat dari bagian luar. Selain itu, ada beberapa trik sulap yang dijelaskan secara detail oleh Ayu Widuri. Jika pembaca cermat, dengan mudah pembaca akan bisa menirukan trik-trik tersebut. Buat pembaca anak, tentunya bagian ini sangat menarik.

Pertunjukan sulap dan sirkus marak di era 1980-an dan 1990-an, membuat banyak orang menggandrungi dan menunggu jatah para rombongan sulap datang. Pertunjukan langsung merupakan hal yang sangat menarik. Di era itu, belum banyak keluarga yang mempunyai televisi. Hanya beberapa gelintir orang saja yang bisa membeli televisi. Mereka termasuk orang kaya, yang dalam novel ini ditunjukan oleh keluarga Kim Hwa merupakan salah satu keluarga yang memiliki televisi. 

Saya teringat saat masih duduk di bangku sekolah dasar, masa 1990-an. Suatu saat mobil pick-up berkeliling desa.  Ada orang dengan suara lantang. Dia menggunakan pengeras suara: mengumumkan pertunjukan sulap dan sirkus keliling di lapangan desa. Sembari mengumumkan mereka menyebarkan pamflet. Tidak mau kehabisan, saya dan teman-teman saling berebut mendapatkan pamflet tersebut. Pamflet dijadikan pengingat dan koleksi. Salah satu cara promosi hiburan dilakukan dengan berkeliling. 

Pertunjukan sulap dan sirkus tidak hanya marak di desa, seperti yang tertulis dalam iputan di majalah Bobo, 9 Mei 1966. Pertunjukan itu merupakan gabungan dari kelompok sirkus empat negara: Inggris, Amerika, Cina, dan Indonesia. Sulap diselenggarakan di Parkir Timur Senayan. Pertunjukan yang sungguh memesona hingga penonton tak beranjak dari tempat duduknya sampai akhir pertunjukan. Semuanya memang menarik, tetapi yang paling hebat adalah pertunjukan kelompok sirkus Cina. 

Kita kembali ke novel Ben Sang Penyulap. Pak Miskun merupakan seorang buronan polisi.  Dia merampok bank. Peristiwa ini mengingatkan pada peristiwa kelam di masa 1980-an. Begitu banyak tindak kejahatan terjadi. Pembegalan, perampokan, dan pencurian terjadi di mana-mana, terutama di kota-kota besar. Hingga muncul pengadilan yang tidak jelas pertanggungjawabannya hingga sekarang. Tentunya itu merupakan pelanggaran HAM. Di beberapa tempat sering ditemukan mayat tak beridentitas. Terdapat tanda-tanda khusus, secara umum dikenali masyarakat. Bahwa mereka merupakan target dari “petrus” (penembakan misterius). Siapakah yang bertanggung jawab? Sampai sekarang tidak jelas juntrungannya.

Ayu Widuri menyampaikan kegelisahannya dengan sangat santun, lebih tepatnya dipaksa santun. Saat novel ini terbit, kekuasaan Orde Baru masih mutlak. Siapa orang berani melawan kebijakan pemerintah secara langsung? Jika salah ngomong bui-lah taruhannya. 

Dua tahun setelah peristiwa 1965, Presiden Soeharto mengeluarkan Inpres Nomor 14 tahun 1967 tentang agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina. Inpres ini jelas menyudutkan warga keturunan Cina. Gerak kebebasan mereka menjalankan beriadah, budaya dan adat istiadat dibatasi. Proses asimilasi itu memaksa mereka untuk mengubah nama dengan nama-nama Indonesia. Mari kita simak dialog Ben dan Kim Hwa.

“Ben! Kalau kau sudah pandai bermain sulap, kau bisa meramaikan pesta dirumahku, ya?” suara Kim Hwa mengejutkan Ben.

“Pesta apa?”

“Penggantian nama. Papah sedang mengurusnya di pengadilan.”

“Penggantian nama? Nama siapa?”

“Nama kami sekeluarga.”

“Masa?”

“Iya, pada pesta itu nanti, kakak-kakakku datang. Mereka juga berganti nama.”

Ben Penasaran kenapa itu harus dilakukan. Apa masalahnya dengan nama yang telah mereka miliki saat ini. 

“Kami ingin menyatu dengan penduduk desa. Sudah lama kami merasakan keramahan penduduk desa ini, Ben.

“Keluargamu telah menyatu dengan kami, orang desa asli. Tidak usah berganti nama, semua orang tahu kau sudah menjadi orang desaku.” 

Beberapa penggal dialog di atas menunjukkan kesadaran keluarga Kim Hwa untuk mengubah namanya. Terkesan itu merupakan keinginan mereka, bukan keadaan yang memaksa. Tapi, betulkah? Ketika sekarang kita membaca novel ini terlihat jelas. Ayu ingin menyampaikan protesnya melalui novel ini dengan halus. 


Muhammad Safroni, peminat bacaan anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s