Prahara Sinopsis

Yulia Loekito

SEORANG anak SD sibuk mencari novel anak di rak bukuku. Ia sibuk membalik-balik buku, ada sesuatu yang dicari. Bukan! Ia bukan mencari tahu buku mana yang ia minati. Ternyata, ia mencari rangkuman cerita di bagian belakang buku. Ia sungguh tidak berniat membaca bukunya, ia berniat mengerjakan tugasnya. Tugas dari sekolah membaca novel anak dan membuat rangkuman secara berkala. Tugas diduga terjemahan dari Gerakan Literasi Sekolah yang dicanangkan pemerintah. Tapi, bocah punya kemampuan mengakali tugas. Kegiatan membaca buku tidak teramati oleh guru, laporan rangkuman saja yang dipersyaratkan. Pada masa kini kalau kita berselancar di internet kita akan menemukan sinopsis buku bertebaran. 

Kalau ada sinopsis bertebaran, tentu saja bocah tak perlu susah payah membaca ceritanya untuk bikin rangkuman. Lha wong sudah tersedia. Kalau blurb yang ia dapat, si bocah akan sedikit berusaha membloak-balik halaman buku dan membacanya walau hanya bagian awal dan akhirnya saja. Kalimat blurb ditambah beberapa kalimat dari akhir cerita biasanya sudah bisa tugas sah diterima dan mendapat nilai. Akal-akalan itu dilakukan bukan cuma oleh anak SD dan anak SMP. Murid SMA juga bisa melakukannya. Oh! Prahara! 

Kalimat blurb ditambah beberapa kalimat dari akhir cerita biasanya sudah bisa tugas sah diterima dan mendapat nilai. Akal-akalan itu dilakukan bukan cuma oleh anak SD dan anak SMP. Murid SMA juga bisa melakukannya. Oh! Prahara!

Eh! Tapi persoalan tidak rampung di bangku-bangku sekolah saja. Di perkantoran-perkantoran akal-akalan itu juga bisa terjadi. Lho! Iya. Kadang-kadang bagian personalia di kantor-kantor punya program membaca dan menulis untuk calon karyawan tetap. Alasannya supaya kualitas karyawan berkembang: jadi lebih pinter, kritis, bisa mikir, bisa menghasilkan omzet besar. Celakanya, tugas yang diberikan juga persis dengan tugas-tugas untuk anak-anak SD, SMP, dan SMA. Membaca, merangkum buku lalu mengumpulkannya ke personalia secara berkala. Kenapa harus merangkum, ya, Gusti! Mungkin diangankan kalau orang merangkum itu pasti sudah khatam membaca, nglothok, dan bisa mengambil sari-sarinya. Tidak diingat kalau minat baca masih jongkok manis hampir tertidur. 

Di perkantoran tertentu memang ada perpustakaan, karyawan atau calon karyawan tetap bisa meminjam buku. Beberapa rajin datang ke perpustakaan memang untuk membaca. Banyak yang lain datang untuk mencari buku serupa si bocah mengamati bagian belakang buku, mencari bagian-bagian yang  bisa dicomot untuk dirangkum. Bekerja sudah capek, belum lagi mengurus rumah dan mengurus anak, kegiatan merangkum buku harus dilakuakan sepraktis mungkin. Rangkuman demi rangkuman buku terkumpul tanpa buku-buku harus dibaca sungguhan. Sinopsis yang bertebaran di dunia maya bisa jadi solusi. Kemampuan mencari “akal” berkembang, entah dengan kemampuan menganalisis atau berefleksi. 

Jadi, kenapa harus tugas merangkum? Kenapa tidak rajin mendongeng dan membacakan buku-buku saja? Atau ngobrol buku? Tentu saja tanpa pamrih mendapat nilai bagus atau lulus tes jadi karyawan tetap atau menang lomba. Cara memancing rasa ingin terus membaca itu bukan meminta mengumpulkan rangkuman atau sinopsis cerita.  Salah satu caranya adalah membacakan petikan bagian buku yang begitu menarik dan dihentikan pada saat yang sangat tegang atau bikin penasaran. 

“Mau tahu kelanjutannya? Sst… lanjutannya seru, lho!” 

Tidak perlulah terlalu bergumul dengan sinopsis. 


Yulia Loekito, kolektor buku anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s