Setelah Sinopsis

Ayu Primadini

PADA suatu malam, saya dan beberapa kawan berkumpul di ruang zoom guna membicarakan buku-buku. Kegiatan menjadi rutinitas kami selama 3 tahunan, jauh sebelum pandemi menyerang. Kami memang tidak tinggal di kota yang sama, saling berjauhan satu sama lain. Namun kami memiliki komitmen yang sama: mencari buku-buku terbaik untuk anak-anak kami dan anak-anak Indonesia lainnya. Bukan sekadar buku yang dibaca di waktu senggang, tapi buku yang secara aktif digunakan dalam pembelajaran akademis, pengganti buku-buku teks yang garing. Buku-buku nantinya akan menjadi buku pelajaran sains, geografi, antropologi, sastra, dan lain sebagainya. Bukan lagi guru-guru dalam sosok manusia yang akan mengajarkan berbagai hal pada anak-anak, melainkan sosok-sosok buku. 

Sebab itulah, membicarakan buku apa yang layak saji menjadi agenda penting. Kami berbagi tugas membaca. Kemudian berjanji bertemu sebulan sekali di ruang zoom tersebut. Kami saling bercerita tentang buku yang kami baca: seperti apa kisahnya, bagaimana cara penulis menyajikan cerita, kesan apa yang kami dapat, dan semacamnya. Bisa dibilang, kami membincangkan sinopsis buku!

Sering kami berdebat tentang layak tidaknya suatu buku disajikan pada anak-anak, sebagai bagian dari mata pelajaran mereka. Ada prinsip-prinsip yang perlu dipegang dalam menentukan layak tidaknya suatu buku masuk sebagai buku pelajaran sekolah. Misalnya: menggugah tidaknya ide-ide yang disajikan dalam buku, pesan-pesan yang disajikan apakah mampu memantik proses berpikir atau justru mematikan, bahasanya naratif dan luwes atau kaku dan garing, serta beberapa hal lainnya.  Dengan adanya prinsip tersebut, kami tidak percaya dengan teori relatif: buku bagus atau tidaknya bergantung dari pembacanya. Kami percaya buku bagus itu tidak relatif, tapi buku yang sesuai dengan prinsip tersebut, dan anak-anak berhak mendapatkan buku-buku terbaik.

Teringatlah saya: “Satu hal lagi yang sangat penting; anak-anak harus memiliki buku; buku dengan ide-ide yang hidup, buku-buku terbaik! Yang terbaik tidak pernah terlalu baik untuk mereka; apa pun yang kurang dari yang terbaik tidaklah cukup.” (Charlotte Mason, School of Education, 1905). Masalahnya, buku yang beredar dari zaman awal sejarah hingga kini tentu jumlahnya di luar batas nalar. Sangat banyak! Waktu dan energi kami tak sebanding dengan banyaknya buku tersebut. Maka dari itu, saling berbagi tugas mencari buku mana yang memang layak jadi buku pelajaran anak menjadi tugas penting bagi kami. Menceritakan sinopsis menjadi bentuk pertanggungjawaban pembaca terkait atas tugas yang diberikan padanya. Pembaca terkait perlu menilai buku secara objektif dalam kacamata anak-anak, alih-alih sekadar mengungkap pendapat pribadinya yang subjektif. 

Bukan berarti lantas anak-anak tak punya hak untuk menilai buku-bukunya sendiri, tapi kita tak melepas mereka ke hutan belantara yang penuh dengan beragam dinamika tanpa modal yang cukup. Usaha memilihkan buku-buku kepada anak-anak ini bagai memberi mereka modal dasar untuk memiliki kecintaan pada buku. Kelak, akhirnya bisa memilih sendiri buku-buku mana yang akan mereka gauli. Buku-buku yang hidup, yang memberi kesan, yang mengaduk emosi, yang membuat anak-anak berelasi dengan pengetahuan, akan membuat anak-anak menyadari bahwa buku bisa memengaruhi hidup mereka. Berbeda dengan jika pengenalan awal mereka dengan buku telanjur dengan buku-buku yang kering, yang gagal memantik benak mereka untuk berpikir, yang merendahkan kepribadian mereka, ditambah lagi sehari-hari mereka digoda oleh pesona gawai, akhirnya kesan mereka terhadap buku menjadi buruk. Sesuatu yang membosankan dan tak layak digauli!

Bukan berarti lantas anak-anak tak punya hak untuk menilai buku-bukunya sendiri, tapi kita tak melepas mereka ke hutan belantara yang penuh dengan beragam dinamika tanpa modal yang cukup. Usaha memilihkan buku-buku kepada anak-anak ini bagai memberi mereka modal dasar untuk memiliki kecintaan pada buku.

Di antara banjir buku yang sedemikian banyaknya itu, peran sinopsis sebagai usaha awal untuk memilih buku menjadi penting. Seandainya saja kami semua memiliki waktu tak terbatas untuk membaca semua buku yang ada tanpa membaca sinopsisnya sebelumnya, tentu akan lebih baik. Namun kenyataannya, kegiatan keseharian kami bukan hanya membaca buku, sehingga membaca sinopsis dan memperbincangkan sinopsis menjadi usaha meringankan tugas kurasi buku. 

Sinopsis tidak lantas menjadi alat utama dalam penilaian. Kita jelas tidak bisa menilai mana buku yang bagus dan tidak bagus hanya dari sinopsis. Pun akal budi kita tak bisa diperkaya hanya membaca sinopsis. Namun, membaca sinopsis bisa menjadi saringan awal dalam menentukan perlu tidaknya kita membaca suatu buku. Tertarik pada sinopsis jelas bukan pertanda bahwa kita akan menyukai buku tersebut. Sangat mungkin sinopsisnya menarik tapi ternyata setelah membacanya kita ingin melempar buku itu jauh-jauh dan tidak setuju dengan sinopsis yang kita baca di awal. Tak masalah. Dibanding kita memejamkan mata, asal mengambil buku dan sekadar menyerahkan pada takdir ketika kita membuka satu buku.

Ibarat kita mau wisata kuliner, kerap juga kita membaca review atau bertanya pada orang-orang yang pernah mencicipi makanan di suatu tempat. Kemudian, kita memutuskan, apakah warung makan tersebut layak kita coba atau tidak. Tentu sangat mungkin kalau review yang kita baca ternyata tak sesuai dengan kenyataan. Tapi, ya, ini usaha awal dibanding harus bingung mencoba warung makan mana yang harus dipilih di antara ratusan warung makan yang ada di suatu daerah.

Dalam sebuah perencanaan perhelatan besar seperti pesta pernikahan, kita juga kerap kali meminta taste-food dari katering-katering yang hendak kita pakai. Gunanya agar kita tahu makanan seperti apa yang akan kita sajikan pada tamu-tamu pesta kita, bukan asal pilih katering. Sinopsis itu taste-food, jelas tak memenuhi standar gizi kalau hanya mengonsumsi taste-food, tapi dari sekian banyak makanan yang disajikan kita bisa memilih mana yang enak dan memutuskan untuk mengambil seporsi penuh makanan yang enak itu untuk memenuhi gizi tubuh kita.

Teorinya, kita tak bisa menilai satu buku hanya dari sinopsisnya, sama seperti kita tak bisa menilai buku hanya dari judul atau sampulnya. Namun kenyataannya, saya pribadi sering menilai buku hanya dari judulnya. Misalnya seperti buku berjudul  Si Anak Pemberani atau Aku Tidak Takut Gelap. Tanpa perlu membacanya secara menyeluruh, saya sudah enggan membukanya. Pesan moral yang terlalu eksplisit bisa mematikan kemampuan berpikir anak. Begitu juga dari sinopsis, terkadang jika sinopsisnya tak menarik, ya, saya tidak melanjutkan membaca.

Sinopsis di sampul belakang juga sangat membantu saya jika pergi ke toko buku. Segudang buku ditawarkan di sana. Saya tak mungkin membeli semuanya. Sebab itu, saya membaca sinopsis di bagian belakang buku, guna membantu saya memilih buku mana yang layak saya beli.

Membincangkan sinopsis sebenarnya bisa menjadi tahap penyaringan berikutnya, seperti yang saya dan teman-teman lakukan di ruang zoom tersebut. Diskusi sinopsis ditambah kesan-kesan menjadi asyik, semakin membantu mereka yang belum membaca buku tersebut untuk mengenal buku itu. Saat mendengar teman-teman berbincang tentang buku yang bukan menjadi tugas baca saya, dan juga belum pernah saya baca misalnya, sangat membantu saya untuk memutuskan apakah saya akan ikutan membaca buku itu atau tidak. Tak selalu buku yang menurut teman-teman bagus yang ingin saya baca. Adakalanya beberapa teman menganggap suatu buku tak bagus, namun dari perdebatan mereka saya justru ingin membacanya. 

Membincangkan sinopsis sebenarnya bisa menjadi tahap penyaringan berikutnya, seperti yang saya dan teman-teman lakukan di ruang zoom tersebut. Diskusi sinopsis ditambah kesan-kesan menjadi asyik, semakin membantu mereka yang belum membaca buku tersebut untuk mengenal buku itu.

Berbincang tentang sinopsis juga bisa menjadi pijakan awal untuk berbincang tentang hal-hal lain. Misalnya saja saat kemarin anak saya bercerita tentang buku yang baru dibacanya, Geography of Bliss, perjalanan Eric Weyner dalam mencari arti kebahagiaan di berbagai kota di dunia. Ia bercerita panjang lebar tentang apa yang dilakukan Weyner, saya yang belum pernah membaca buku itu kemudian tertarik untuk menanggapinya dengan memberi pertanyaan. Perbincangan kami pun berlanjut, dengan asyik kami membicarakan perilaku orang di sekitar kami dan bahagia tidaknya mereka. Ini tak mungkin terjadi jika anak saya tak menceritakan sinopsis buku itu pada saya.

Barangkali sinopsis menjadi penting bagi mereka yang memilih buku. Tapi ak begitu penting bagi mereka yang memang mendedikasikan hidupnya untuk buku, yang menghabiskan banyak waktu dan energinya untuk buku. Tak semua orang seperti itu. Bagi saya, buku penting sebagai sarana, bukan tujuan! Dalam pendidikan Charlotte Mason juga demikian, yang terpenting bukan seberapa banyak buku yang sudah dibaca tapi bagaimana buku-buku yang sudah dibaca itu mampu menghidupkan pemikiran, memantapkan pilihan-pilihan hidup, merevolusi diri senantiasa, dan juga hal-hal spiritualis lainnya. Dan untuk itu, bukan jumlah buku yang menentukan tapi relasi yang terjadi antara akal budi dengan ide-ide hidup yang tersajikan dalam buku-buku.


Ayu Primadini, juru omelan buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s