Yang Memangku Buku

Naila Islamia PS

50 Buku Setahun.

Begitu judul tulisan yang kubuat di sebuah kertas pada bulan Desember lalu. Kali ini di bawahnya, aku menulis dua judul buku yang baru selesai dibaca: Pendekar Pemanah Rajawali #2 dan Jeihan: Maestro Ambang Nyata dan Maya. Selama lima bulan ini aku sudah berhasil membaca 16 buku, kurang satu lagi aku akan menyamai Deepak Sharma Bajagain dari Nepal. Tapi bedanya, aku menghabiskan 5 bulan lamanya dan dia hanya 113 jam 15 menit. Ha ha ha… Aku tahunya informasi Deepak Sharma dari halaman bertema buku di majalah Tempo.

Sejujurnya, aku terbiasa membaca novel fiksi semacam Pendekar Pemanah Rajawali, tapi suatu saat aku diberi buku biografi Jeihan karya Mikke Susanto. Sebuah buku biografi? Mana mungkin selesai di tanganku. Tapi, aku sedang tidak ada bacaan dan malas mencari buku di tumpukan di rak. Terpaksa dalam kebingungan, aku memilih mencoba membacanya. Toh, kalau tidak menarik, nasibnya sama seperti buku berjudul Pulau Run. Buku yang menjadi tatakan laptop. Di luar dugaanku, buku itu menarik! Lima hari setelah pertama kali membaca paragraf awal, buku itu selesai. Wah! Ada-ada saja kejutan dari tiap buku.

Benar, tahun ini aku menantang diriku membaca 50 buku dalam setahun. Tujuannya ingin memulai kebiasaan yang menurutku baik, selain itu menjauhi gadget. Bukunya boleh apa saja, asal bukan buku paket atau buku latihan soal.

Sejak dibuatnya tantangan itu, hampir setiap malam jika tidak terlalu larut, dengan setengah berbaring di kasur bawah 2 in 1, aku mengambil sebuah bantal untuk menambah kenyamanan di punggung. Lalu, mengambil satu-satunya boneka berbentuk koala, yang kugunakan menyangga bawah lutut agar tidak mudah melorot. Tindakan terakhir, memangku sebuah buku. 

Memang tidak bisa dipungkiri kadang aku merasa hebat ketika sedang membaca buku, yang mengandaikan menjadi seorang ahli silat, menemani Marco Polo berlayar, mengucapkan mantra sihir, dan lain-lain. Buku-buku itu membawaku berimajinasi tanpa batas, selalu memberikan pengalaman dan informasi yang selama ini belum kuketahui. Harapannya, aku juga bisa mengingat seluruh informasi dan pengalaman hingga detail-detailnya. Agar saat dibutuhkan nanti aku bisa menceritakannya pada orang lain.

Keinginanku melatih kebiasaan membaca tidak hanya sampai membuka buku tiap hari atau membawa buku ikut serta jalan-jalan. Ke toilet pun, sebuah buku kubawa! Jadi, hampa rasanya jika saat panggilan alam tidak sambil membaca buku. Biasanya jika sudah lupa membawa buku ke toilet, aku akan mengalihkannya dengan membaca bahan-bahan shampo, sabun, atau odol. Di dalam toilet itu sunyi, terlalu eman jika tidak melewatkannya dengan membaca.


Naila Islamia PS, pembaca buku, tinggal di Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s