Bocah, Tanaman, Doa

Bandung Mawardi

DULU, rumah-rumah memiliki sabit dan pacul. Konon, benda-benda itu penting dalam keseharian, selain digunakan untuk mata pencaharian. Di belakang atau samping rumah, dua benda itu bersekutu dengan benda-benda lain. Bapak menjadi sosok paling mengerti kegunaan benda. Ia menggunakan dan merawat. Tangan bapak terbiasa untuk macul (mencangkul) atau menggerakkan sabit dalam mengurusi tanaman-tanaman di sekitar rumah. 

Bapak merasa memiliki kepantasan bila turut kerja bakti di desa membawa sabit. Pada saat ada pekerjaan besar, pacul turut digunakan. Lelaki dan benda-benda itu mengesahkan kesanggupan berurusan dengan tanah dan tanaman. Tangan-tangan terbiasa melakukan gerak-gerak bertenaga. Para lelaki juga memiliki kebiasaan menjadikan benda-benda lestari dengan membersihkan dan ngungkal.  

Tahun demi tahun datang dan pergi. Rumah-rumah tak lagi “wajib” memiliki sabit dan cangkul. Permukiman makin padat. Tanah-tanah kosong terus dipikirkan menjadi tempat untuk mendirikan rumah, toko, atau pemondokan. Adegan mencangkul tanah perlahan sulit ditemukan di sekitaran rumah. Sabit masih mungkin dipakai dalam merawat tanaman tapi rumah-rumah mulai tak berpekarangan. Tangan para lelaki tak lagi terbiasa dengan sabit dan cangkul. 

Pada saat wabah, berita-berita tentang kegemaran publik atas tanaman memang terbukti. Mereka mengalami hari-hari dengan mengurusi dan memandangi tananam. Sekian tanaman dalam pot. Sekian tanaman tak wajib langsung ditanam di tanah (kebun atau pekarangan). Pot-pot memastikan orang masih bisa mengaku gandrung tanaman. Pipa-pipa pun bisa dijadikan tempat menanam bagi keluarga-keluarga tak memiliki lahan luas. Pot digantung menjadi pemandangan indah. Pot-pot dijajar rapi membuat mata terpesona. 

Gandrung itu memicu sawah-sawah di Gedongan dan Klodran beralamat di pinggiran Solo berubah fungsi. Di pinggir jalan, kita mulai melihat para pedagang tanaman (hias) menata dagangan di atas lahan sawah telah diurug tanah dan diperindah dengan bangunan-bangunan. Usaha-usaha itu memiliki nama-nama aneh dan asing. Diksi sering terbaca adalah garden. Para pedagang berharap tanaman-tanaman itu laku. Pada hari-hari awal, para pembeli berdatangan dalam penampilan rapi. Di situ, kita sulit melihat ada benda bernama sabit dan cangkul. Kita pun tercengang ada pedagang sengaja menambahi bangunan joglo. Ia berdagang tanaman dan mengundang orang-orang makan di situ: menikmati pemandangan dan membeli tanaman hias. Keluarga-keluarga datang ke situ berpikiran lezat, memandangi makanan, minuman, dilanjutkan memandangi tanaman. Sabit dan cangkul tak terpandang.

Kita mundur saja ke masa lalu. Di buku berjudul Peladjaran Bahasa Indonesia 4 (1952) susunan Oesman dan CF Ijspeert, kita mendapatkan halaman dengan perintah: “Perhatikan gambar-gambar ini dan karangkanlah suatu tjeritera!” Ada empat gambar berkaitan dijuduli “Berkebun”. Dulu, murid-murid gampang membuat cerita berbekal gambar. Gampang mungkin itu pengalaman keseharian di rumah. Bocah-bocah sudah biasa memegang cangkul dan sabit, diajari bapak atau dimulai dari meniru. Mereka masih hidup di rumah memiliki kebun atau pekarangan. Cangkul adalah benda diakrabi tangan bocah-bocah, selain bapak-bapak.

Bapak dan dua bocah sedang melihat kondisi tanah, tempat terpilih untuk menanam. Di belakang, tampak rumah dan pohon kelapa. Mereka hidup di desa dengan pemandangan rumah belum padat dan pelbagai tanaman berada di sekitaran rumah atau pinggir jalan. Adegan lanjutan adalah mencangkul. Bocah itu mencangkul, berharap tanah subur itu bakal memberi kegembiraan atas keinginan menanam. Si bocah memenuhi misi berkebun dengan merawat tanaman. Lihatlah, bocah itu bergembira! Tanaman-tanaman disiram. Hiduplah! Tumbuhlah! Hari-hari berganti, si bocah melihat tanaman itu besar dan tinggi. Pada adegan akhir, bocah tampak sumringah. Ibu pun bergembira mengetahui si bocah terbukti berhasil dalam berkebun. Tangan dan wajah ibu itu seperti mendoakan tanaman. Begitu. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s