Ibu Berlagu Lama, Anak Berlagu Beda

Marhamah

WANITA idaman dihadiahi setangkai bunga padi. Bunga diselipkan di rambut wanita malu-malu. Lelaki dan wanita saling mencinta bertemu ketika panen tiba. Aku ingat dengan baik lirik lagu lama.

Setangkai bunga padi kau selipkan dirambutku

Aku tak sanggup memandang tatapan bola matamu

Di pesta panen ini kita bertemu kembali

Seakan telah tertulis cintamu dengan cintaku

Lagu dibawakan Santa Hoky bergenre dangdut ingin dimengerti tentang cinta anak desa. Bunga padi lambang cinta dirayakan oleh burung-burung bernyanyi. Usia lagu sudah tua bicara cinta sederhana. Aku belum mengerti cinta sepasang manusia (laki-laki dan perempuan) kala itu. Lagu sering disiarkan televisi jadi terngiang-ngiang dan suka. Santa bernyanyi di sawah. Gambar ditayangkan dengan pemandangan padi dan burung-burung. 

Dari genre yang sama, aku kaget, Doel Sumbang berandai Kalau Bulan Bisa Ngomong. Lagu yang melambungkan imajinasi.

Kalau bulan bisa ngomong
Ada cinta yang terlalu
Ada rindu yang terlalu
Semua serba terlalu
Padamu, ya padamu

Aku kehabisan kata
Dan hampir tak dapat bicara
Dalam hati hanya ada rasa
Yang tak dapat kuwakilkan
Pada sajak lagu atau bunga

Doel Sumbang bernyanyi karena kehabisan kata, cinta dan rindu terlalu tidak bisa diwakilkan pada lagu atau bunga. Doel tak seperti Hoky, tapi keduanya melampiaskan cinta pada pengandaian bunga, daun, buah, alih-alih dirinya sendiri. Lirik-lirik lagu terindikasi malu. 

Kuingat lagu-lagu zaman itu, 90-an, suka memetafora rasa menganalogi benda. Teringat lagu Memori Daun Pisang dan Asmara Kelapa Muda-nya Ine Sinthya, Rembulan Malam-nya Ike Nurjannah. Oh! Aku tersadar, masa kecilku banyak menghirup lagu romansa cinta dangdut. Meski tidak ada tradisi menyanyi di keluarga, radio dan tape memutar lagu-lagu itu membuatku terbiasa mendengar.

Tidak biasa menyanyi membikin wagu saat di sekolah. Beberapa komentar tak selaras saat bernyanyi membuatku malu bersuara. Bernyanyi tidak merdeka menjadi alasan kuat untuk berteriak bersenang-senang saat pramuka. Lagu-lagu banyak dikenalkan ketika Jum’at sore dan saat berkemah. Senang mengenang lagu daerah saat kemah: Gundul Pacul, Indung-indung, Ampar-ampar Pisang, Yambo Rambe Yamko, Bungong Jeumpa, Anak Kambing Saya, Apuse, Bubuy Bulan, dan lain sebagainya. Anak-anak mengingat bernyanyi dengan senang, mengomentari anak bernyanyi tidak diperlukan.

Belakangan ini naik lagi judul-judul ngepop Nike Ardila, Inka Cristie, Poppy Mercury. Orang hendak mengenang kelawasan, lagu jaman doeleo di-repro, aku terbiasa mendengar mereka dulu. Lagu-lagu pop dikenang dengan nuansa sedih. Oh, aku tak begitu suka. Tapi aku pernah membeli sebuah kaset pop bajakan saat SMP, sekitar tahun 1994 atau 1995. Kaset tak asli suaranya tak jernih, suara melayang-layang bikin sebal. Aku belum kenal romansa ingin mendengar lagu berdendang membuat kaki bergoyang. Membicarakan selera lagu, tidak kupungkiri aku suka dangdut, lebih dari genre lain. Cukup percaya diri dengan Kopi Dangdut meski dangdut dilabel ndeso. Dangdut menemaniku nyapu, masak, ngepel, dan nyemil. Lirik dangdut Bang Rhoma mendayu-dayu disetel orang hajatan di mana-mana. Menyukai dangdut secara realistis menyaring rasaku pada dangdut koplo ramai dibikin tahun 2010-an. Musik koplo membuatku pening. Mending kudengar Sulis sholawatan tanpa di-koplo-kan. 

Seleraku mendengar lagu tidak banyak menurun pada anak-anakku. Melalui tape lagu tak melulu dangdut terdengar bergantian. Anak-anak kadang sebal kalau aku terlalu lama menyetel dangdut. Katanya, bosan! Suatu ketika beberes barang, ditemukan kaset asli Linkin Park (Meteora). Aku tersentak, anak-anak suka. Adit naik ke atas meja dan menggebrak tape, buku, dan barang di meja dengan pulpen beraksi meniru suara drum. Damar menggoyang kepalanya ke kiri dan kanan. Wah, ini pasti selera anak diturunkan oleh bapaknya! Musik keras Linkin Park pernah kunikmati saat menggarap tugas akhir untuk bisa lulus kuliah. Kepala mau pecah ditambal oleh teriakan Chester, sang vokalis. Kaset ditemukan bersama album Padi. Aku suka Padi, selain Dewa, khususnya suara Fadly khas tinggi. Pada lagu Kasih Tak Sampai, suaraku tak sampai.

Adit naik ke atas meja dan menggebrak tape, buku, dan barang di meja dengan pulpen beraksi meniru suara drum. Damar menggoyang kepalanya ke kiri dan ke kanan. Wah, ini pasti selera anak diturunkan dari bapaknya!

Sebuah perbincangan dengan kawan-kawan membahas lagu menghasilkan pernyataan lagu-lagu saat ini miskin makna, kalah jauh dengan lagu zaman dulu. Tidak berkehendak setuju atau menolak, membandingkan makna lagu dengan presisi waktu mengingatkan relasi manusia dan budaya. Dibahas pada zoom sejarah musik di sebuah komunitas, nyanyian lahir pada upacara arwah. Lagu adalah ekspresi manusia mengalami peristiwa. Peristiwa melarutkan emosi membutuhkan ruang. Musik dan lagu mewadahi. Makna ditafsir orang dari luar, menyesuaikan pengalaman. Makna bersifat personal dan beragam. Penikmat sinetron mengenal lagu Ruang Rindu dibikin grup musik Letto. Para pecinta menafsir lagu sebagai rindu pada orang yang dicintainya. Noe berbicara menciptakan lagu Ruang Rindu hendak mengekspresikan rindu manusia kepada Penciptanya. Sah, semua orang boleh menarik makna lagu selayar dengan banyak sedikit dan sambung tidaknya pengalaman. 

Damar, anakku, berkomentar lagu pop masa kini bicara seputar romansa, musik berdentang tidak banyak kombinasi nada. Damar butuh tenang sering menyetel lagu klasik. “Lagu menenangkan,” katanya. Kompleksitas nada klasik menarik minat Damar, memotivasinya meng-kaver lagu dalam gesekan biola. 

Anakku kedua paling sulit dengan lagu, sifat pemalunya berkebalikan dengan kakak dan adiknya berekspresi dengan suara. Aku dibikin pusing Salma. Memaksanya bernyanyi ingatkan aku waktu kecil dikomentari soal suara oleh pelatih nyanyi di sekolah. Setiap sesi bernyanyi suaranya pelan, takut-takut dan ragu. Aku tak mau banyak komentar. Muncul ide meng-install aplikasi karaoke di ponsel, aku bernyanyi di dekatnya. Kadang tak wajar, aku memang tak paham nada, tempo dan istilah-istilah lagu. Cara nyanyi serabutan dikomentari Damar: “Bunda ngawur.” “Biarin, nyanyi itu butuh berani, ngawur dulu nggak papa,” balasku padanya. Beberapa lagu kunyanyikan keras-keras, Salma belum bergeming, hanya cengar-cengir. 

Adit merespons duduk bersamaku, join suara. Lagu London Bridge is Falling Down, Head Shoulder Knees and Toe, Row Row Row your Boat membuatnya kesal. “Aku nggak bisa ngomongnya, Bun,” keluh Adit. Lagu-lagu berganti-ganti disetel: lagu daerah, lagu nasional, lagu pop, lagu asing semua boleh dinyanyikan. Oh, ternyata lagu India disukai Adit: “Ini nyanyinya sama kaya tulisannya, Bun. Coba lihat, tum hi ho dibacanya ya tum hi ho!”

Berjalannya waktu, anak perempuanku memunculkan selera, Blackpink! Duh Gusti, bagaimana aku menemaninya menyanyi lagu Korea? Ddu ddu ddu,  tidak, tidak, tidak, aku tidak bisa. Seleranya boleh lagu Korea, tapi Tanduk Majeng, Gugur Bunga, Indonesia Raya, dan Ilir-ilir perlu dinyanyikan olehnya. Memperdengarkan lagu, menyanyi, berdendang, dan senandung adalah bagian dari pendidikan memperkuat karakter anak-anak. Lagu dinyanyikan memberikan kegembiraan bagi jiwa, mengasahnya di sisi-sisi yang lembut. 

Seleranya boleh lagu Korea, tapi Tanduk Majeng, Gugur Bunga, Indonesia Raya, dan Ilir-ilir perlu dinyanyikannya. memperdengarkan lagu, menyanyi, berdendang, dan senandung adalah bagian dari pendidikan memperkuat karakter anak-anak.

Mbak Yulia dalam majalah Basis, nomor 05-06, 2021, mengatakan: “Sebelum anak-anak menatap layar-layar komputer atau telepon pintar, menyentuh dan menggeser layar dengan jari dan jempol, menonton gambar-gambar bergerak, mereka butuh bermain, bergerak, bernyanyi bersama teman.” Bermain, bergerak, bernyanyi dipentingkan di keluarga, bersama-sama. Ketika teman terlalu sibuk untuk diajak bernyanyi, bernyanyi boleh ditemani ibu, ayah, dan saudara. Bernyanyi bersama di rumah, di perjalanan, atau di mana saja akan membekaskan kenangan hendak diteruskan di keluarga anak selanjutnya.


Marhamah, ibu suka buku dirundung lagu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s