Perjalanan, Mandi Junub, Peti

Irfan Sholeh Fauzi

Judul : Cerita si Penidur, Penulis : Aman Dt. Madjoindo, Cetakan : VII, 2010, Penerbit : Balai Pustaka, ISBN : 979-666-168-3

MAKMUR, entah orang mana ia—tapi mungkin Minangkabau dan mestinya sudah tak lagi kanak, pada medio 1920-an, ketika nasionalisme makin jadi pembicaraan hits, bergumul dengan memorinya akan cerita yang pernah ia dengar semasa bocah. Di meja redaksi Balai Pustaka, Aman Dt. Madjoindo menerima ingatan Makmur agak khawatir. “Kaba si Palalok” tertera di kepala naskah. Aman tahu, itu cerita yang sangat populer di Minangkabau. Sekian generasi mengisahkannya, sesekali sambil menambahkan alur sendiri, seenaknya mulut berkisah. Tapi tulisan Makmur kelewat tipis. Tak mungkin diterbitkan. 

Aman eman. Akhirnya, ia memilih strategi cerita berbingkai. “Ketika itu teringat oleh saya, baik cerita itu dijalin dengan kehidupan anak-anak dan fantasinya. Sebab menurut pendapat saya, bila anak-anak mendengar dongeng-dongeng yang bagus, maka hiduplah khayalnya (fantasinya). Dirinya dimasukkan ke dalam cerita dan dijadikannya orang yang tersebut dalam dongeng itu. Dengan demikian ia berangan-anganlah menurut cerita itu,” tulis Aman pada pengantar cetakan 1954. Kecermatan Aman membuat tebal naskah patut diterbitkan dan (menurut pikirannya) efektif menembus kepala pembaca-bocah. Cerita “utama” berkisah si penidur yang dibuang keluarganya ke hutan dan bingkainya dimulai dengan kisah Durahman, Munap, Latip, dkk, yang saban sore mengaji di surau.

Bagi anak-anak, mengaji tak melulu urusan iman. Langgar jadi tempat anak-anak berjejak ke masa dewasa. Para bocah tak terlalu malu bila mendekam lama di bacaan dengan tingkat kerumitan yang rendah. Hal paling memalukan adalah pulang selepas mengaji. Surau jadi tempat di mana gengsi dipertaruhkan: “… anak-anak yang sudah mengaji, malu tidur di rumah ibunya. Dia akan diejek dan ditertawakan kawan-kawannya. Dikatakan masih hendak menyusu juga. Ini suatu aib bagi seorang anak laki-laki.” Pulang jadi perjalanan yang cengeng.

Saya bertemu buku bacaan anak untuk usia 9-12 ini pada 2021, ketika usia mendekati angka 24. Lebih persis lagi, pada hari-hari ketika sebuah perusahaan menunggu anggukan kepala saya buat jadi buruh mereka. Memang sudah 4 tahun saya jauh dari orang tua. Tidak melihat rumah sebuah lumrah. Tapi, rupanya berbeda antara jauh dari rumah untuk kuliah dan untuk bekerja, meski (atau “padahal”) saya masih tinggal di indekos yang sama. Ada perasaan yang aneh di dalam saya. Lowong itu, barangkali, gara-gara tak ada lagi jadwal pulang teratur dan kiriman uang bulanan. Itu kan, pikir saya, nyaris persis “menyusu”. “Aku ya gitu,” kata teman saya, “jadi merasa hidup sendiri.” Usia yang terus melaju mungkin memang ditandai dengan perjalanan yang kian tak pasti.

Tapi, rupanya berbeda jauh dari rumah untuk kuliah dan untuk bekerja, meski (atau “padahal”) saya masih tinggal di indekos yang sama. Ada perasaan yang aneh di dalam saya.

Di tumpukan buku saya, bacaan anak masih jadi gerombolan kecil. Tapi kebetulan sekali, salah satu buku anak yang terakhir terbaca, Kadir garapan Arswendo Atmowiloto, memiliki pola serupa Cerita si Penidur. Dua buku ini sama-sama berkisah bocah-bocah yang melakukan perjalanan. Kadir terpikat Jakarta, dan dalam buku ini, si penidur ke hutan dan Durahman, yang terpengaruh pada cerita perjalanan si penidur, berkelana ke kampung jauh. Sekembalinya, mereka jadi bocah yang lain dari mula. 

Konon AA Milne pernah ngomong, tips menulis buku yang bakal digandrungi anak adalah berkisahlah tentang pulau-pulau terpencil. Itu cara kabur anak-anak dari dunia orang-orang dewasa. “Tidak ada ibu, tidak ada ayah, tidak ada saudara; tidak ada kewajiban keluarga, tugas, konflik… Anda sendirian dan bebas, satu-satunya jejak di pasir adalah jejak Anda,” tulis Kartine Marçal (2020). Tapi pada dua cerita anak dari dua penulis Indonesia itu tak ada kebebasan. Kepergian si penidur dan Durahman seperti mandi junub, suatu hal yang menandai anak-anak jadi akil balig—tak lagi bocah yang dulu. Dan pada mandi besar itu, kita tahu, ada kewajiban: semua bagian dan celah-celah tubuh mesti terguyur, bersih dari debu-debu dan segala hal yang tak baik. Perjalanan si penidur dan Durahman juga perjalanan yang menghapus apa-apa yang tak bersih: malas, nakal, dan tabiat seleweng lain. Di tempat yang jauh dari rumah itu mereka justru sulit bebas—berbeda dengan trik AA Milne. Seperti mandi besar, kewajiban bertambah ketimbang biasanya. 

Di bagian akhir buku, Aman menutup kisah dengan pantun: Pinang emas bawa berlayar, pisang lidi di atas peti,/ Utang emas dapat dibayar, utang budi dibawa mati. Bukan cuma nasihat, pantun ini juga mengingatkan para pembaca-bocah, bahwa hari depan adalah pelayaran yang cuma bisa menjanjikan gelombang dan sebuah peti.


Irfan Sholeh Fauzi, Esais dan suka mengliping

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s