Sinopsis di Sekolah

Arif Rohman

DI sekolah, menulis sinopsis erat dengan penugasan yang diberikan guru. Tugas yang barangkali diniatkan agar murid gemar membaca itu, kita tahu, bisa dikerjakan dengan mudah berkat bantuan internet. Mengingat sekolah, ingat pengalaman berkunjung ke perpustakaan. Pengalaman membaca buku muncul sebagai usaha mencari hiburan pengganti televisi atau musik yang tidak didapat di asrama. Minat membaca bukan karena tugas guru membuat sinopsis.

Sinopsis bisa membuat orang berminat membaca, juga sebaliknya, jadi alasan untuk tak perlu menengok sebuah buku. Sinopsis bisa kita temukan di dalam sebuah resensi buku. Bagi saya, membaca resensi buku berguna untuk melihat bagaimana orang berkomentar terkait buku tertentu. Sinopsis itu pengenalan. Sebagai sebuah awalan, jika kita berminat, akan ada episode lanjutan, yakni membaca utuh isi buku. 

Saya sendiri tertarik membaca buku bukan karena sinopsis. Rasa penasaran akan isi buku itu muncul karena omongan para pembaca. Saran untuk guru yang ingin menumbuhkan minat baca pada muridnya: jadilah pembaca dan berilah pada murid komentar atas buku yang sudah dibaca!

Saya malah kepikiran: Jangan-jangan tugas sinopsis sering diajukan guru karena ada guru yang tidak suka membaca. Sedang sinopsis yang dikumpulkan murid dari menyalin di situs internet itu, sudah lumrah sebagai bukti murid belajar membaca.

Tugas menulis sinopsis di sekolah seolah menyembunyikan sesuatu. Barangkali, karena ada rendahnya minat baca guru dibalik tugas membuat sinopsis buku. Guru yang bukan seorang pembaca memberi tugas membuat sinopsis. Kemudian murid yang tidak tertarik membaca meng-copy-paste sinopsis dari internet. 

Selain guru perlu memberi contoh sebagai pembaca, bantulah murid mengetahui minatnya. Jika ia punya minat tentang sesuatu, ia akan rajin mendalami minatnya. Misal, lewat membaca buku. Orang yang rajin membaca novel, misalnya, pasti diawali dengan pengalamannya membaca satu novel yang ia suka, yang nantinya berhadapan dengan sinopsis. Kita merasa sinopsis berefek buruk sebagaimana bila ada orang yang kebanyakan memakan mi instan. Perut kenyang, tapi kurang sehat.

Di sisi lain, kita melihat sinopsis itu penemuan yang berguna. Ia berguna karena bisa jadi perantara. Bagi pembaca ia perantara untuk mengenalkan sebuah buku. Bagi penerbit, ia perantara dalam proses kurasi naskah, tidak perlu membaca tuntas setiap naskah yang masuk. Sinopsis itu meringkas waktu. Sinopsis berguna orang yang merasa sibuk. Sebelum masuk ke ratusan halaman buku, mata cukup menjajaki beberapa paragraf. Sinopsis itu penentu bagi pembaca.


Arif Rohman, penulis tinggal di Kudus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s