Tetap Saja Sinopsis

Dhima Wahyu Sejati

PADA hari Senin lalu, aku dan kawan etok-etok membuat acara diskusi buku di serambi masjid kampus UIN Surakarta. Tradisi itu biasanya dilakukan oleh kawan-kawan lewat komunitas Serambi Kata. Aku pikir, kawan-kawan di Serambi Kata sudah jarang muncul, mungkin begitu nasib banyak komunitas yang kegiatannya dianggap hanya duduk manis dan ngomong ngalor ngidul nasibnya selalu sepi peminat, tidak bertahan lama, dan dianggap angin lalu. 

Mungkin itu yang sedang terjadi di serambi masjid kampus hari-hari ini, yang aku lihat cuma orang tidur, dan orang ngerjain tugas kelompok. Aku yakin, menurut pengalaman empat tahun kuliah, kumpul-kumpul begitu hanya ha ha hi hi berkedok tugas kelompok. Sekalipun benar-benar mengerjakan tugas, aku berani taruhan, yang ngerjain paling hanya satu dua orang, sisanya berkelompok buat ha ha hi hi ngalor ngidul. 

Kekosongan itu kepingin aku isi. Jadilah acara ha ha hi hi berkedok bedah buku, minimal kemasannya “bedah buku”. Dilalah kawan saya sudah selesai membaca buku Layla Majnun dan ia merasa perlu membagi cerita soal itu. Jadilah acara diskusi buku!

Tentu, sebagai peserta yang baik, aku berusaha ngebut membaca buku itu. Inginnya, nanti pas diskusi aku nyambung diajak ngomong. Bayanganku, diskusi berarti mendalami, bukan menceritakan ulang. Namun dugaanku salah, kawanku ini selama satu jam lebih, menceritakan isi novel: dari awal sampai akhir. Tentu tidak mengapa, bagi yang belum membaca novelnya tidak perlu lagi beli. Sebab, inti cerita sudah disampaikan semua. Bagi yang males membaca dan tidak punya waktu buat membaca, tidak perlulah repot-repot. Kawan itu sepertinya tahu betul kebutuhan orang-orang buat secara praktis “mengerti” isi buku, yaitu dengan mengocehkan sinopsis. 

Aku jadi teringat masa-masa SMA. Guru bahasa Indonesia mewajibkan kami meminjam buku di perpustakaan sekolah. Aku yakin guruku memberi perintah atas dasar iba, sebab perpustakaan selalu sepi, bahkan guru sangat jarang kutemui. Paling dua orang, Pak Joko, guru tua yang kini sudah meninggal itu rajin. Bahkan, saban hari setiap istirahat, ketika aku meminjam buku, Pak Joko sudah ada di sana. Dan satu lagi, Pak Legiman, pak bon, aku biasanya menyebut teknisi bangunan sekolah. Listrik rusak ia yang benerin, lampu korslet, pintu kelas tidak bisa dibuka, bahkan kebakaran, ia yang maju. Ia adalah teknisi yang handal. Tidak ada yang paling sering ke perpustakaan kecuali ia. Bukan karena ia suka membaca buku-buku pertukangan, sebab memang perkakas pertukangan miliknya ia simpan di perpustakaan. Baginya itu adalah tempat yang aman, sebab jarang orang masuk ke sana. 

Setelah kita serbu perpustakaan, ludes sudah buku-buku di barisan rak berisi novel. Sampai di kelas kami tidak disuruh membaca novel, kami disuruh me-resume novel-novel itu. Tentu saja kami malas membaca buku yang tidak disukai, apalagi ini tugas sekolah. Bayanganku mengenai tugas sekolah itu semacam kekangan, jauh dari kesenangan. Alhasil, membaca sinopsis menjadi jalan pintas. Kebanyakan kawanku menyalin ulang sinopsis di sampul belakang. Jika tidak puas dan dirasa kurang panjang, lanjut cari ulasan lain di internet. Kalau aku memilih jalan menulis bagian cerita yang paling menyenangkan dengan “bahasa sendiri” meski sama-sama jalan pintas, setidaknya aku membaca isi novel itu.


Dhima Wahyu Sejati, mahasiswa suka buku dan suka omong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s