Di Toko Buku, Kenangan di Buku

Ana Taci

TERBUKALAH pintu kaca yang kujenguk hari ini! Pintu kaca milik toko buku kecil di pinggir jalan daerah Kalibata, Jakarta. Hal pertama yang kulihat adalah setumpuk mainan “edukatif” yang disusun di meja bundar untuk menarik anak anak. Di kananku, ada segepok buku Tere Liye dan sejumlah buku latihan soal yang diharapkan menarik perhatian para orangtua yang ingin anaknya ikut olimpiade. 

Di toko buku ini, ada sebuah kursi panjang dengan bantalan abu-abu. Meja bundar dan kursi warna-warni untuk anak-anak, yang menemani kakaknya mencari buku ujian. Yang paling penting, ada kursi empuk yang teramat nyaman seperti sebuah “takhta kerajaan”. Kurasa bisa bertahan di sini selama 1 atau 2 jam. Apalagi banyak buku yang sudah dibuka. Namun, tujuanku ke sini melihat toko buku, bukan membaca buku.

Hal pertama yang kuperhatikan adalah bagaimana sebuah toko buku memajang buku. Berbeda dengan perpustakaan yang menyusun buku dengan mempertontonkan sampingnya, toko buku mempertontonkan halaman depan buku tersebut. Raknya mungkin memang sebenarnya jadi butuh tempat lebih banyak. Tapi, semakin banyak rak bukunya maka terasa lebih lengkap pula. 

Hal lain yang kuperhatikan adalah musik. Aku tidak pernah pergi ke perpustakaan dengan musik, tapi aku selalu mendengar musik jika masuk ke toko buku. Musik yang disetel biasanya bernada lembut atau ceria, tidak berlebihan. Sering volumenya kecil sehingga tidak mengganggu telinga orang lain.

Petugasnya juga memiliki kekhasan seperti di toko buku lain. Jika kita menanyakan tentang keberadaan sebuah buku, ia akan mencarikannya dengan teliti dan cepat. Petugas di kasir pun sama saja seperti petugas kasir minimarket, yang hanya menghitung belanjaan kita. Lalu, berkata: “Harga totalnya sekian ya Mbak/Mas/Pak/Bu.” Tidak banyak yang berbeda dari toko buku ini selain kursi kursi nyaman itu.

Satu hal yang membuatku kecewa adalah sepinya tempat itu. Aku dan mamaku hanya satu-satunya pengunjung, sebelum seorang bapak yang membeli alat tulis datang. Zaman sudah berubah, toko buku atau perpustakaan tidak lagi menjadi tempat hiburan. Kini itu hanya akan menjadi tempat bagi para pelajar yang mencari buku latihan atau bacaan selingan yang ringan.

Orang-orang menganggap lebih baik makan sushi tei daripada membeli novel-novel yang harganya selangit. Sekalipun mereka pergi ke toko buku, sebagian besar mencari aksesoris atau alat tulis, bukan melihat atau membaca buku-buku menarik, yang bisa menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Zaman memerintahkan orang sekarang lebih menikmati taman hiburan mahal daripada toko buku kecil yang berada di pinggir jalan. Jika mereka pergi ke mall, mereka memilih mampir ke toko sepatu tinimbang toko buku. Sangat tersayangkan!

Ah, aku jadi ingat sebuah kisah tentang toko buku! Kisahnya tentang 2 orang detektif yang bernama Hawkeye Collins dan Amy Adams. Mereka mengikuti perlombaan misteri. Dalam kontes itu, toko buku menjadi “tempat” perlombaan. Mereka diberi petunjuk dan harus mencari judul buku yang sesuai petunjuk. Lalu, di dalam buku itu ada petunjuk lagi. Lalu, mereka harus mencari buku lagi. Terulang terus sampai petunjuk terakhir. Ini juga membuktikan bahwa toko buku juga bisa menjadi tempat misteri yang amat menyenangkan. Cerita aku ambil dari “Seri Buku Detektif Cilik” yang  berjudul Hawkeye Collins dan Amy Adams dalam Kasus Agen Rahasia. Seru sekali!

Kenapa orang-orang lebih suka gua-gua atau rumah kosong untuk tempat misteri? Padahal toko buku juga bisa menjadi tempat misteri. Orang suka sekali menganggap kalau toko buku hanya tempat untuk membeli buku. Mereka tidak tahu kalau itu bisa menjadi tempat liburan atau acara yang menyenangkan. Bahkan, bisa menyimpan kenangan seperti tempat wisata keluarga. 

Ngomong-ngomong kenangan, aku jadi teringat sebuah kisah lain. Kisahnya mengenai seorang penggemar buku Little Prince yang sudah tumbuh dewasa. Dia sudah menjadi editor di sebuah penerbitan. Tapi suatu hari, sepulang dari rumah seorang penulis, ia mampir ke sebuah toko buku bekas di dekat halte bus. Hal yang sama sekali tak ia sangka: ia menemukan buku Little Prince di toko buku itu! Hal yang lebih tak disangkanya, buku itu ternyata benar-benar buku yang sama dengan buku yang dia miliki saat dia masih kecil. Ia menemukan sketsa-sketsanya yang menggambarkan si “pangeran kecil”, menemukan namanya sendiri. 

Ia pun menemukan sketsa-sketsa yang dibuat oleh para pembaca setelah dia. Pikirnya: “Seberapa banyak tangan yang telah membalik halaman ini? Dan, berapa banyak lagi yang akan terus membolak-balik halaman ini? Kenapa buku ini bisa sampai sini?” Ia teringat bahwa dulu ia menukar 2 buku tuanya dangan buku Pollyana. Salah satu dari buku tua itu adalah buku yang ada di tangannya itu. Baru saja dia bertanya pada sang petugas berapa harga buku itu, ia malah berkata: “Tidak, tidak, saya tidak mau membelinya. Kalau saya membelinya, perjalanan buku ini akan berakhir, namun jika saya membiarkannya ia akan terus berkelana, di tangan tangan pembaca cilik berikutnya.” Ia mampir di toko kurang dari 30 menit tapi membuka kenangan terindah.

Oh, kisah itu ada di buku “graphic novel” yang berjudul Perjalanan Ajaib. Kisah itu sangat menyentuh. Buku itu punya beberapa kisah menyentuh lainnya. Kisahnya nyata. Buku ini digambari oleh Kim Donghwa, berasal dari Korea. 

Tidak harus seperti kisah-kisah di atas, setiap toko buku setidaknya memiliki kenangan. Bayangkan saja, semisal, 1 buku menyimpan 10 perasaan per orang. Kalau ada 100 orang yang membaca buku itu, maka sudah ada 1.000 perasaan yang masuk ke buku. Itu baru 1 buku, belum dihitung kenangan dan perasaan atas majalah, koran, aksesoris, dan bangunan itu sendiri. 

Jika aku pergi ke toko buku, lalu menemukan buku yang sama dengan yang ada di rumah, aku akan berpikir: “Wah ada buku ini!” Pasti, aku mengambil dan melihat buku itu sekilas. Sekadar melihat, apakah kisahnya sama dengan yang di rumah. Kurasa hal serupa sering dialami oleh beberapa temanku.

Namun, sayang sekali, kenangan toko buku kini dilupakan, Perasaannya diabaikan dan bangunannya pun dihabiskan.  


Ana Taci, pemangsa buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s