Gembala

Bandung Mawardi

Sekian hari lalu, ada peringatan seabad Soeharto (1921-2021). Di buku-buku biografi, Soeharto semasa bocah diceritakan sebagai gembala. Ia hidup di desa, hidup di keluarga miskin. Keseharian belajar, bermain, dan menggembala hewan ternak. Kita tak pernah melihat foto Soeharto kecil menggembala di sawah. Dulu, peristiwa-peristiwa keseharian belum mudah dipotret seperti masa sekarang. Kita mengandaikan foto tokoh menggembala sebelum menjadi kondang dan berkuasa bisa memberi contoh bagi anak-anak abad XXI agar tak meragu menjadi gembala atau memelihara hewan ternak di rumah.

Pada masa berbeda, pujangga di Jogja biasa dipanggil Linus juga mengenang masa kecil menjadi gembala. Ia menikmati kehidupan di perdesaan dengan suka cita. Pengertian diri, binatang, air, rumput, dan segala hal membuat hari-hari berarti. Episode itu sulit dimengerti bila berpengaruh saat dewasa menjadi pengarang. Hal terpenting adalah kebiasaan menulis desa. Linus tak melupa desa, enteng bercerita tokoh-tokoh di desa.

Dulu, Mawar waktu kecil juga dolan ke sawah. Ia menggembala kambing. Pada saat sore ceria, ia biasa bertemu teman-teman di sawah untuk bermain. Di situ, anak-anak menggoda kerbau-kerbau sedang digembala Wono. Adegan paling seru adalah turun ke sungai memandikan kerbau. Masa lalu tanpa potret. Kini, sawah-sawah pernah menjadi tempat menggembala berubah menjadi perumahan, rumah makan, perkantoran, sekolah, toko, dan lain-lain. Sedih mungkin tak perlu. Pada saat melintasi desa asal, Mawar sudah berusia 40-an tahun kadang melamunkan masa lalu. 

Ingatan itu muncul lagi setelah membaca buku berjudul Kuntum Budi (1954) susunan Mohamad Sjafei. Di situ, kita membaca cerita berjudul “Kasih Ibu”. Alkisah, Mak Minah menghidupi dua anak dengan bekerja serabutan. Ia pun berharap rezeki dari merawat kerbau milik tetangga. Jasa merawat kerbau bisa untuk memenuhi kebutuhan makan, selain rezeki dari berjualan atau membantu orang-orang. Mak Minah belum beruntung. Anak Sulung bernama Badu sulit diajak prihatin. Ia emoh merawat atau menggembala kerbau agar mendapatkan makanan berupa rumput untuk sehat dan cepat besar.

Pada suatu hari, Mak Minah dan anak bungsu pergi ke desa sebelah. Mereka mencari rezeki. Badu ditinggal di rumah tapi bermasalah. Kita simak pesan Mak Minah: “Badu, kerbau sudah mak ikatkan ditanah lapang. Pindah-pindahkan supaja kenjang makannja. Kalau hari panas tambatkan ditempat jang kenaungan. Mak hari ini tidak dirumah, pergi kekampung Belimbing: menjabit padi disawah bapak Karim.”

Badu kurang ajar. Seharian ia malah bermain bersama teman-teman. Kerbau-kerbau tak diurus. Hari telah siang. Panas. Kerbau itu kepanasan. Rumput-rumput di sekitar sudah habis dimakan. Badu tetap bermain, lupa mendapat pesan mengurusi kerbau. Hal itu diketahui pemilik kerbau. Marah. Pada sore hari, Mak Minah pulang mendapat marah dari pemilik kerbau. Semua dijelaskan menimbulkan iba. Pemilik kerbau memaafkan tapi jengkel dengan Badu.

Pada masa lalu, ada bocah malas mengurusi binatang dan bepredikat gembala. Kini, kita maklum saja sulit melihat bocah-bocah berada di sawah. Mereka bukan lagi gembala. Kangen melihat kambing atau kerbau tak mudah dituruti dengan berkeliling ke desa-desa pada abad XXI. Kita masih beruntung mengetahui gembala masih awet di cerita-cerita dan lagu-lagu. Gembala juga masih terlihat di logo penerbit buku beralamat di Jakarta. Gembala belum punah tapi terlalu beda peristiwa dan makna. Begitu.  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s