Ini Masalah Mandi!

Muthia Sayekti

SEJAK pandemi, mandi menjadi satu bagian penting dalam turunan daftar protokol kesehatan. Bagi yang baru saja pulang dari bepergian, disarankan untuk mandi keramas sebelum berinteraksi dengan penghuni rumah lainnya. Terlebih, jika di rumah terdapat lansia dan anak-anak. Pulang kerja langsung rebahan adalah dosa! 

Terlepas dari semua itu, mandi bagiku sudah seperti ritual. Kegiatan membasuh tubuh dengan air dingin atau hangat dalam benakku tak sekadar membersihkan badan dari kotoran. Di dalamnya, ada proses relaksasi. Untuk sekadar beberapa menit, beban hidup seperti ikut luruh bersama kuman dan penyakit. 

Aku suka sekali mandi! Sayangnya, aku berjodoh dengan lelaki yang tak suka mandi. Pantang bagi suamiku mandi dua kali sehari kalau tidak kepepet sekali. Makanya, aku sering merasa kesal dalam hati kalau hak ritualku ini tidak terpenuhi gara-gara lelaki ini.

Pada dasarnya, aku sudah tidak mempermasalahkan kebiasaannya yang hanya mandi sehari sekali. Itu hak dia secara personal! Jika ia memang nyaman demikian, ya, sudah. Tapi, aku sering kesal kalau pilihannya itu juga harus ditularkan kepadaku. Rasanya, aku seperti diajak berpindah keyakinan yang aku sendiri tidak terlalu merasa nyaman. 

Bagaimana tidak? Sejak punya bayi, seperti ibu pada umumnya, mandi menjadi sesuatu yang mewah. Dan kesalnya, kemewahan ini agak sulit kita dapatkan ketika mengurus anak tanpa bantuan siapa pun. Parahnya, kemewahan untuk mandi sering dimentahkan dengan cara yang sepele oleh suami melalui aji-aji: “Kamu nggak mandi pun tetap cantik. Aku tetap sayang.”

Parahnya, kemewahan untuk mandi sering dimentahkan dengan cara sepele oleh suami melalui aji-aji, “Kamu nggak mandi pun tetap cantik. Aku tetap sayang.

Tapi, mohon maaf, nih bapak-suami yang aku sayangi, rayuanmu pada kasus ini tidak menyegarkan sama sekali! Rasa sayangmu juga tidak lantas membuat tubuhku yang keringatan dan lengket bisa bersih dan wangi lagi. Tidakkah kamu bisa berpikir sampai ke situ, sayangku? 

Pada kasus ini, yang kubutuhkan hanya sekadar 5 menit untuk dua kali dalam sehari saja. Iya, itu saja! Tidak bisakah kamu sedikit lebih paham untuk bisa membawa anakmu berjalan-jalan sebentar agar ritual harianku ini bisa berjalan lancar? 

Paham ya? Oke, bagus!

Aku jelaskan, ya, Pak! Dalam bilik sekecil kamar mandi saja, sebenarnya wanita banyak yang dijajah tanpa sadar. Dijajah mungkin sadar tapi justru menikmati. Contohnya aku sendiri, yang untuk mandi saja tidak bisa sembarang memakai sabun wajah. Sabun wajah dan badan itu berbeda. Belum lagi samponya,  lulurnya. Industri menang di atas ritual, yang menurutmu hanya gebyuran sabunan bilasan kelar. 

Terima saja, Pak! Kita sudah lama meninggalkan zaman di mana ritual mandi bisa dilakukan hanya dengan menggosok batu seperti dalam lirik lagu “Kuncung” yang dipopulerkan oleh Didi Kempot. Sekarang jenis sabun beragam dari yang batang, cair, halal, hijab, pemutih, pelembut, dan seterusnya. Semua itu sering membuat istrimu banyak berpikir ketika mau membeli sabun di supermarket. Produk mana yang promo? Mana yang netto-nya lebih banyak untuk digunakan dalam sebulan demi menghemat pengeluaran? Merk apa yang bisa dipakai anggota keluarga satu rumah agar tidak terlalu banyak produk sehingga bisa meminimalisir pengeluaran? Agak pusing lho itu, Pak. Mohon maaf nih.

Istrimu sudah tidak banyak menuntut untuk dibelikan wedak pupur berikut ubo rampe-nya, juga skincare yang berlapis-lapis saja sudah bersyukur lho, Pak. Meskipun sebenarnya dia berhak meminta sebagai bentuk nafkah, tetapi ia memilih menerima pakai wedak pupur anaknya saja. Sebab, dia juga sadar rezim kecantikan tidak ada habisnya untuk terus diikuti seperti tren inovasi lainnya. Toh, istrimu ini bukan public figure yang perlu berinvestasi pada kecantikan wajah dan kemolekan tubuh. Yang ia inginkan hanya mendapatkan haknya, sekadar mandi dengan tenang dan nyaman. 

Ditambah lagi, tubuh yang segar dan bersih akan membuatku bisa berpikir dengan jernih. Kamu sadar kalau suasana hatiku sering naik-turun karena lelah jiwa-raga? Lelah beres-beres rumah, lelah masak, lelah nyuci, lelah masakanku di-lepeh anak kita, lelah berat badan anak kita sulit naik, dan seterusnya. Dan, dari sederet kelelahan batinku itu salah satu penawar sederhananya adalah mandi. Iya, mandi! Bagiku bisa sesakral itu untuk memperbaiki suasana hatiku akhir-akhir ini. 

Jadi begitu ya, Pak! Bukan maksudku mengerdilkan pujianmu. Aku percaya kalau aku ini memang cantik di matamu. Sebab, kalau aku tidak cantik tentu kamu tidak akan mau melamar dan menikahiku dulu. Oleh sebab itu, jangan sampai orang-orang melihatku, setelah menikah dan melahirkan anakmu, semakin pudar cantiknya, kusut mukanya, gembel penampilannya, juga bau badannya. 

Bukankah kamu juga ikut nyaman kalau sosok yang tidur sekasur denganmu ini badannya bersih dan wangi? 

Oke, paham ya? Bagus!


Muthia Sayekti, Ibu satu anak yang suka menulis. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s