Penyuara

Ria Santati

MEGAN McDonald mengakui ia menemukan dirinya dalam sosok Judy Moody. Tepatnya, sisi yang dirindukannya. Judy blak-blakan, bicara apa yang ingin ia katakan. Sementara, Megan sebagai anak bungsu dari lima bersaudara yang terlahir di lingkungan keluarga pelawak dan pendongeng, hampir tidak bisa berbicara sepatah kata pun di meja makan. Akibatnya, ia mulai gagap selama sekolah dasar. Ibu Megan membelikannya buku catatan. Setidaknya, Megan bisa menulis sesuatu di situ. Kelak ramalan kakak perempuannya yang memperkirakan Megan yang lebih sebagai pengamat, menjadi  penulis terkenal yang bukunya diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, menjadi nyata.

Judy Moody (2006) gubahan Megan McDonald, buku serial novel anak-anak tidak sepenuhnya fiksi. Banyak anekdot yang lahir dari kejadian nyata. Misal, dikisahkan tangan palsu yang dipasang di toilet mengagetkan Stink. Megan yang suka mengumpulkan serangga, tusuk gigi, dan kepala boneka Barbie dihadirkan dalam tokoh Judy.

Si Judy 

Anak perempuan tomboy, imajinasinya tinggi, kelas 3 SD, bersahabat dengan Rocky. Memiliki satu adik laki-aki, Stink. Tinggal bersama Mom dan Dad. Lahir 1 April, April Mop, ya. Di Serbia, ia dikenal dengan nama Caca Faca. Kudapan kegemarannya adalah jagung dingin. Dan, di kelas satu SD, ia mendapat 5 kado valentine dari Frank!

Hobi mengoleksi apapun yang menarik baginya, meski mungkin sampah bagi orang dewasa. Tetapi yang utama adalah plester, band-aid! Sebagai calon dokter (itulah cita-citanya), Judy beruntung memiliki adik laki-laki yang berguna untuk praktik kedokteran.

Dunia Judy

Stink, adik satu-satunya, kelas 2 SD, master of disaster, super pintar, super pendek, penciuman super tajam, sangat menjengkelkan.

Ibu, Kate, yang mendambakan ‘waktu bebas bencana’ di rumah.

Richard, ayah, mantan pemain drum.

Rocky Zang, tetangga, teman yang awet, tukang sihir yang menakjubkan, merawat Houdini si iguana dengan sangat baik.

Frank, teman yang semula tak disukai, ternyata menyenangkan dan setia.

Di Sekolah

Seperti mungkin sebagian anak di muka Bumi ini, Judy menyambut setengah hati hari pertama sekolah. Harus meninggalkan hari-hari libur yang tak ada PR, tak ada bel sekolah, bisa bangun sesiang mungkin (kecuali ibu menarik selimut atau mencipratkan air ke muka di saat masih bermimpi). Selain itu, hal yang tak disukai di hari pertama sekolah adalah teman-teman akan pamer kaus dengan merek penanda tempat kemana saja mereka selama liburan, taman Taman Disney atau Sea World. Di Amerika memang tak ada seragam. 

Kembali ke hari pertama Judy. Selama libur ia tidak kemana-mana kecuali ke rumah nenek. Dan tentu saja sepulang dari sana tak ada kaus bertulisan daerah wisata yang keren seperti teman-teman. Ia tak hilang akal. Ditulisnya sendiri kaus yang ada dengan sesuatu yang akan membuat teman-teman tercengang: Aku makan hiu! Lebih dahsyat daripada Sea World, kan? 

Ya, sebagai anak, Judy sangat dipengaruhi suasana hati. Dan ketika Pak Todd, gurunya di kelas 3 ini memberikan proyek kelas yang sangat istimewa, ia benar-benar mendapat kesempatan untuk mengekspresikan dirinya! Judy dan teman-teman harus membuat kolase yang bercerita tentang hobi, cita-cita, hal paling buruk dan lucu, tempat tinggal, peliharaan favorit, hingga teman-teman.

Pak Todd guru yang kreatif dan pandai menarik hati murid-muridnya. Di hari pertama sekolah ia meminta mereka membuat kata baru dari  huruf-huruf yang terdapat pada serangkaian kata yang ditulis Pak Todd di papan tulis.  Ia juga memberi majalah-majalah bekas untuk digunting ana-anak sebagai pelengkap kolase mereka. Dan ide-ide lain Mr. Todd yang berhasil mengubah mood buruk Judy. Rasanya, kelas 3 ini akan menyenangkan.

Sekolah juga mengajarkan mengenal tanah air lewat sosok presiden yang memimpin 50 negara bagian, bendera, hingga Gedung Putih. Stink dapat kesempatan ke sana yang membuat Judy iri dan kesal. Jadi ingat pengalaman 30 siswa SD Papua yang diundang Presiden Joko Widodo ke istana Bogor, September 2019 lalu. Mereka berurai air mata ketika harus pulang ke kampung halaman setelah berkeliling Jakarta dan makan siang bersama presiden.

Di Rumah

Dengan cantik Megan menggambarkan peran orang tua yang sama pentingnya dengan guru di sekolah. Ketika pak guru meminta anak-anak membuat kolase, ayah dan ibu dengan caranya mengambil bagian.  Judy bersama Rocky menyambangi toko kecil di kotanya, membeli barang-barang yang diperlukan. Tentu saja Judy harus pamitan pada ibu. Stink ingin ikut. Kata ibu, Judy pasti bisa mengajari bagaimana menyeberang jalan. 

Judy banyak ide, banyak maunya, ayah  harus turun tangan membantu mengarahkan, menunjukkanpilihan-pilihan, tapi tidak menentukan! Ketika Judy harus menentukan binatang favorit, ayah mengajak ke toko binatang peliharaan. Di sana ada ular, burung kakaktua, hamster, kadal, kura-kura, kepiting dan beragam ikan. Sebenarnya Judy mencari kukang (sejenis primata yang bergerak lambat), tapi habis. Akhirnya ia membeli tanaman penjebak lalat setelah mendapat komentar positif dari ayah, ibu, dan Stink. Itu adalah sejenis tanaman yang memakan serangga di sekitar rumah. Jaws, begitu ia memberinya nama.

Untuk membuat kolase ayah ibu tak memberi uang tambahan. Maka, Judy harus putar otak mendapatkan barang murah di toko. Dengan menggabungkan bersama uang Rocky, mereka mendapatkan barang lebih dari yang direncanakan. Bahkan ada sisa untuk membelikan Stink permen.

Persahabatan-Klub

Setelah sekian lama menghindari pertemanan dengan Frank yang baginya sangat aneh, karena pernah makan lem, Judy harus mengakui berteman dengan Frank menyenangkan juga. Bermula dari undangan ulang tahun Frank. Judy satu-satunya anak perempuan di pesta itu. Semua teman sudah pulang dijemput orang tua mereka, Judy diajak melihat koleksi Frank. Mengejutkan, Frank juga punya hobi yang sama: mengoleksi barang seperti penghapus berbentuk bisbol, peraut pensil dengan bentuk yang Liberty Bell, koleksi komik lama Frank. Mencengangkan! Frank juga mempunyai tanaman kantung semar. Itu serupa dengan Jaws, milik Judy.

Jody dan Rocky punya klub. Begini syaratnya menjadi anggota klub: memegang Toady, kodok yang ditangkap Rocky saat hujan beberapa waktu lalu, meraba kulitnya yang benjol-benjol licin dan dingin. Dan, merasakan hangatnya kecing si kodok! Stink dan Frank lulus! Klub mereka diberi nama Kodok Kencing. Kata Socrates, eyangnya para filsuf, pengetahuan dan kebahagiaan adalah dua hal yang saling berkaitan. Sekolah melahirkan persahabatan. Mengenai kolase, setiap anak mempresentasikan di depan kelas. Teman-teman boleh menanggapi, bertanya, memuji, berkomentar, dan memegang kolase teman yang presentasi.

Tentang guru dan orang tua, Megan menggambarkan bukan sebagai dua pihak yang diadu kuat atau disalahkan salah satu untuk menyebut gagalnya pendidikan. Sebaliknya, seperti Judy, Rocky, dan Frank, sekolah dan rumah mestinya mesra berkolaborasi secara kreatif, segar dalam ide dan cara mendidik.  

Gadis yang bercita-cita menjadi dokter untuk menyelamatkan dunia ini mengirim pesan, tidak apa-apa dengan mood buruk. Toh itu bisa diubah dengan memikirkan jalan keluar atau ide lain. Dan, sisi Judy bukan dimiliki Megan saja, saya juga! Bukan mood baik. Mood buruk!


Ria Santati, pengajar Bahasa Jepang di SMA Regina Pacis Surakarta yang keranjingan origami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s